Sumber Gambar : Oleh Ahmad Esa

01/05/18(Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalammualaikum, Ayah dan Bunda Sahabat As Shidiq Aqiqah. Islam sebagai agama rahmat bagi semesta alam, sangat memperhatikan hak asasi manusia, sekalipun dia seorang budak. Para sahabat yang pernah membantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik budak maupun orang merdeka, semua merasa puas dengan sikap baik yang beliau berikan. Namun, sebelumnya perlu digaris bawahi bahwa antara budak dengan buruh tidaklah sama.

Sebelumnya kita perlu membedakan antara budak dengan  buruh. Budak, jiwa dan raganya milik majikannya, sehingga apapun yang dimiliki budak ini, menjadi milik majikannya. Dia tidak bisa bebas melakukan apapun, kecuali atas izin si majikan. Seratus persen berbeda dengan buruh. Hubungan seorang buruh dengan majikan, tidak ubahnya seperti pekerja yang sedang melakukan tugas untuk orang lain, dengan gaji sebagaimana yang disepakati. Muamalah antara pembantu dengan majikan adalah ijarah (sewa jasa). Sehingga seharusnya, beban tugas yang diberikan dibatasi waktu dan kuantitas tugas. Lebih dari batas itu, bukan kewajiban  buruh. Berikut adalah hak buruh dalam Islam, antara lain :

Pertama, Islam memposisikan buruh sebagaimana saudara majikannya. Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Saudara kalian adalah budak kalian. Allah jadikan mereka dibawah kekuasaan kalian.” (HR. Bukhari no. 30)

Dijelaskan bahwa hadist diatas kita memperlakukan karyawan kita tidak boleh membedakan dalam urusan jabatan, karena kita adalah rekan kerja dan harus menyetarakan derajatnya.

Kedua, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memberikan beban tugas kepada pembantu melebihi kemampuannya. Dalam hadis  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

Janganlah kalian membebani mereka (budak), dan jika kalian memberikan tugas kepada mereka, bantulah mereka.” (HR. Bukhari no. 30)

Jikapun terpaksa itu harus dilakukan, beliau perintahkan agar sang majikan turut membantunya.
dimana hak pekerja jangan di bebani oleh pekerjaan yang berat, jika terpaksa maka si manajer dapat memberikan bonus kepada karyawan sebagai upah tambahan jam.

Ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan para majikan untuk memberikan gaji pegawainya tepat waktu, tanpa dikurangi sedikit pun. Islam memberi peringatan keras kepada para majikan yang menzalimi pembantunya atau pegawainya. Jika kita lihat fenomema sekarang ini banyak seorang buruh ataupun karyawan yang tidak mendapatkan perlindungan dari majikan, malah dalam hal ini majikan memanfaatkan buruh sebagai budaknya, jadi majikan dapat memperlakukan semena-mena kepada buruhnya. Dalam hal ini islam melarang menzalimi buruh nya. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

Ada tiga orang, yang akan menjadi musuh-Ku pada hari kiamat: … orang yang mempekerjakan seorang buruh, si buruh memenuhi tugasnya, namun dia tidak memberikan upahnya (yang sesuai).” (HR. Bukhari 2227 dan Ibn Majah 2442)

Kelima, Islam memotivasi para majikan agar meringankan beban pegawai dan pembantunya. Tentunya ini harus dilakukan setiap perusahaan agar terus menerus melakukan motivasi kepada pekerjanya bahkan dalam hal tersebut perusahaan memberi apresiasi atau reward kepada karyawan yang teladan. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

 

Keringanan yang kamu berikan kepada budakmu, maka itu menjadi pahala di timbangan amalmu.” (HR. Ibn Hibban dalam shahihnya dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Syuaib al-Arnauth).

“Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah kalian, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah kalian.” (Dishahihkan Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 779)

Selain itu dalam hak pekerja ada pula yang harus diperhatikan yaitu Pekerja di berikan waktu untuk beristirahat. Dalam hal ini pekerja harus mendapatkan jam istirahat agar stamina perkerja pulih dan dalam kembali bekerja lebih fresh, karena pekerja  adalah manusia bukan robot yang dapat terus menerus melakukan pekerjaan tanpa henti. Apalagi jika karyawan tersebut adalah seorang muslim yang harus menunaikan kewajiban yaitu shalat, maka berikanlah pekerja waktu untuk beristirahat dan menjalankan kewajiban yang lain.

Berikanlah pekerja subsidi ataupun tunjangan setelah mengabdi kepada perusahaan kita maka berikanlah uang pesangon ataupun setengah gaji nya untuk memenuhi kebutuhan di masa pensiun nya mereka karena mereka telah menaruh setengah hidupnya kepada kita.

Itu dia Ayah dan Bunda hak seorang buruh didalam islam. Semoga bermanfaat Insya Allah.