(30/10/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Safar, tentu saja kita semua sudah pernah menjalaninya. Memang saat ini siapapun bisa menempuh perjalanan terjauh di dunia hanya dengan hitungan  hari atau jam. Namun demikian, seiring dengan kemudahan yang dikaruniakan Allah Ta’ala kepada kita, tidaklah lantas membuat kita mengabaikan adab-adab safar (bepergian) yang telah dituntunkan syariat. Namun, tahukah sahabat bahwa ada adab-adab yang harus diperhatikan ketika safar? Adab-adab ini jika dilakukan, akan bernilai ibadah.

Berikut adalah adab-adab dalam bersafar :

Pertama , melakukan shalat istikharah terlebih dahulu untuk memohon petunjuk kepada Allah mengenai waktu safar, kendaraan yang digunakan, teman perjalanan dan arah jalan. Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata, “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengajari para sahabatnya shalat istikhoroh dalam setiap urusan. Beliau mengajari shalat ini sebagaimana beliau mengajari surat dari Al Qur’an. ” (HR. Bukhari no. 7390.)

Kedua , jika sudah bulat melakukan perjalanan, maka perbanyaklah taubat yaitu meminta ampunan pada Allah dari segala macam maksiat, mintalah maaf kepada orang lain atas tindak kezholiman yang pernah dilakukan, dan minta dihalalkan jika ada muamalah yang salah dengan sahabat atau lainnya. Jika memiliki hutang maka lunasilah sebab dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,

Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078.)

Dalam hadits lain

Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414.)

Singkatnya, ketika kita berbuat salah yang urusannya dengan Allah kita bisa selesaikan dengan taubat tetapi jika ada kaitannya dengan kezaliman yang kita lakukan dengan manusia. Seperti hutang misalnya tidak cukup dengan taubat kita harus mencari keridoan orang yang kita telah hutangi tersebut. Sebab nasib ruh kita setelah mati nanti juga bergantung pada hutang.

Ketiga,  melakukan safar atau perjalanan bersama tiga orang atau lebih. Sebagaimana hadits,

“ Satu pengendara (musafir) adalah syaithan, dua pengendara (musafir) adalah dua syaithan, dan tiga pengendara (musafir) itu baru disebut rombongan musafir. ”Lihat Fathul Bari, 6/53.  Yang dimaksud dengan syaithan di sini adalah jika kurang dari tiga orang, musafir tersebut sukanya membelot dan tidak taat. Namun larangan di sinibukanlah haram (tetapi makruh) karena larangannya berlaku pada masalah adab.

Keempat,  mencari teman perjalanan yang baik. Carilah orang yang mengerti agama sebagai teman di perjalanan. Karena hal itu merupakan salah satu faktor yang membuat kita diberi petunjuk oleh Allah dan juga menyebabkan diri terjaga dari berbuat kesalahan selama dalam perjalanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamb bersabda, “ Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang akan kalian jadikan sebagai teman dekat.” (HR. Abu Daud no. 4883)

 

Kelima,  mengangkat pemimpin dalam rombongan safar yang mempunyai akhlaq yang baik, akrab, dan punya sifat tidak egois. Juga mencari teman-teman yang baik dalam perjalanan. Adapun perintah untuk mengangkat pemimpin ketika safar adalah,

Jika ada tiga orang keluar untuk bersafar, maka hendaklah mereka mengangkat salah satu di antaranya sebagai ketua rombongan.” (HR. Abu Daud no. 2609)

Keenam, Hendaklah melakukan safar pada waktu terbaik.

Dianjurkan untuk melakukan safar pada hari Kamis sebagaimana kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Ka’ab bin Malik, beliau berkata,

“ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju perang Tabuk pada hari Kamis. Dan telah menjadi kebiasaan beliau untuk bepergian pada hari Kamis. ” (HR. Bukhari no. 2950.)

Dianjurkan pula untuk mulai bepergian pada pagi hari karena waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah. Sebagaimana do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu pagi,

Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud no. 2606 )

Ibnu Baththol mengatakan, “Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu pagi dengan mendo’akan keberkahan pada waktu tersebut daripada waktu-waktu lainnya karena waktu pagi adalah waktu yang biasa digunakan manusia untuk memulai amal (aktivitas). Waktu tersebut adalah waktu bersemangat (fit) untuk beraktivitas. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan do’a pada waktu tersebut agar seluruh umatnya mendapatkan berkah di dalamnya.”

Juga waktu terbaik untuk melakukan safar adalah di waktu duljah. Sebagian ulama mengatakan bahwa duljah bermakna awal malam. Ada pula yang mengatakan maknanya adalah seluruh malam karena melihat kelanjutan hadits. Jadi dapat kita maknakan bahwa perjalanan di waktu duljah adalah perjalanan di malam hari. Perjalanan di waktu malam itu sangatlah baik karena ketika itu jarak bumi seolah-olah didekatkan. Sehingga perjalanan terasa lebih singkat. Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Hendaklah kalian melakukan perjalanan di malam hari, karena seolah-olah bumi itu terlipat ketika itu.”(HR. Abu Daud no. 2571)

Ketujuh,  ketika keluar rumah dianjurkan membaca do’a:

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada-Nya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya). (HR. Abu Daud no. 5095). Dalam sebuah ceramahnya, Ustadz Zulkifli Muhammad Ali mengatakan, “Ketika seorang keluar rumah  membaca ini, Malaikat Muaqiban (Malaikat penjaga) yang akan mengawal hamba tersebut sampai pulang. Tetapi semua perlindungan ini akan Allah cabut ketika sang hamba berbuat MAKSIAT.”

Kedelapan, Perbanyak doa. Dalam sebuah ceramahnya Ustadz Reza Syafiq Basalamah Mengatakan. “Jika sudah berada di atas kendaraan untuk melakukan perjalanan, hendaklah mengucapkan, “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.” Setelah itu membaca,
.
“Subhanalladzi sakh-khoro lanaa hadza wa maa kunna  lahu muqrinin. Wa inna ila robbina lamun-qolibuun
(QS. Az Zukhruf: 13-14)

Demikianlah adab-adab dalam bersafar. Saat bersafar kita tidak pernah tahu apakah akan kembali dengan kondisi selamat atau tidak. Sebab yang namanya kematian dapat menghampiri siapa saja, kapan saja, dimana saja. Oleh karenanya kita perlu persiapan yang matang.  Sebab, apabila Allah menginginkan kita kembali kepadaNya.  Kita sudah dalam kondisi yang siap.

Demikian tulisan kami pada hari ini semoga bermanfaat…