(12/11/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Ayah-Bunda Sahabat As Shidiq Aqiqah.

Naluri orang tua pasti mendambakan anaknya minimal bisa selangkah lebih maju nasib hidupnya dibanding orangtuanya. Kalau orangtuanya petani, orangtuanya rela kerja banting tulang agar anaknya bisa sekolah dengan baik agar kelak sehari-hari tak bertabur lumpur seperti orangtuanya. Apalagi kalau Raja, Pengusaha bahkan Ulama besar, pastilah tak ingin anaknya seperti anak-anak orang biasa. Ini bukan soal gengsi, tapi naluri.

Pada kenyataannya, tak banyak orang-orang besar berhasil mendidik anaknya menjadi orang besar pula. Yang berhasil melakukan itu adalah mereka yang mendidik anaknya dengan didikan tegas, tidak dimanja, tidak di-blow-up, tidak dijunjung kemana-mana, melainkan diberi tumbuh seperti anak-anak biasa, merasakan pahit manis hidup. Salah satu teladan Parenting yang berhasil melakukan ini adalah Nabi Ya’Kub AS dalam membentuk kepribadian agung putranya Nabi Yusuf AS.

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (Yusuf [12] :4 )

Demikianlah ungkapan Yusuf kecil kepada ayahnya, Nabi Ya’kub AS, tentang apa yang dialaminya saat tidur. Ibnu Katsir menuliskan bahwa mimpi Yusuf ketika kecil itu menjadi kenyataan 40 tahun kemudian, ada pula yang mengatakan 80 tahun kemudian, Kisah nabi Yusuf memang sangat istimewa. Allah Ta’ala sendiri nyatakan sebagai sebaik-baik kisah dalam Al Qur’an. Karena ada banyak hikmah didalamnya, diantaranya :

Pertama, orangtua harus mampu memahami karakter anak secara utuh dan menyeluruh. Begitulah yang dilakukan Nabi Ya’kub AS kepada Nabi Yusuf AS setelah mengutarakan mimpinya. Nabi Yakub tegas dalam mengambil sikap. Allah Ta’ala Berfirman :

Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.” (Yusuf [12] :4)

Kedua, Orangtua harus berusaha menjadi pendengar yang baik. Dalam kisah di atas Yusuf kecil yang memulai pembicaraan. Artinya sebagai seorang Ayah Nabi Ya’kub selalu berusaha menjadi pendengar yang baik bagi anaknya. Dengan demikian, orangtua harus memiliki respon yang tepat mengenai kelah kesuh, ataupun harapan si anak di masa depan. Sehingga anak tidak kehilangan tempat untuk mengadu.

Ketiga, Memahamkan pada anak bahwa konsistensi mencapai cita-cita di masa depan bukanlah perkara ringan. Sebaliknya, sangat berat oleh itu membutuhkan kesabaran dan kesiapan mental untuk berjuang dan berkorban. Kalau kita kembali pada kisah Nabi Yusuf, Nabi yang terkenal karena ketampananya yang mempesona ini mengalami berbagai macam kesulitan hidup. Mulai dari dilempar ke dalam sumur, dijual menjadi budak, sampai dituduh berzinah hingga masuk ke dalam penjara. Kalaulah Nabi Ya’kub tak mengajarkan Yusuf kecil arti nilai sabar . Yaitu sabar dalam ketaatan, sabar menahan diri dari perbuatan maksiat, dan sabar ketika ditimpa hal yang tak menyenangkan. Pastilah Nabi Yusuf tak akan mampu melewati semua itu.

Keempat, adalah nilai dari sisi keteladan. Orangtua tidak bisa sekedar berdoa, menyekolahkan, dan memberikan beragam fasilitas belajar kepada putra putrinya, lebih jauh juga harus mampu menjadi suri tauladan kepada buah hatinya. Caranya adalah pembuktian melalui perbuatan orangtua itu sendiri. Sebab nasehat yang  tampak melalui perbuatan lebih memiliki kesan mendalam bagi akal dibanding apa yang hanya didengar melalui telinga.

Sebab sifat sabar yang melekat  pada Nabi Yusuf tak akan muncul jika sang Ayah Nabi Ya’kub tak mampu membuktikkannya terlebih dahulu. Dan  keteledanan Nabi Ya’kub yang terlihat jelas ini bahkan diabadikan didalam Al-Qur’an. Di hari pertama beliau mendapat kabar hilangnya Yusuf, beliau hanya berkata,

“Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (Yusuf 18).

Semoga bermanfaat 🙂

Referensi :

Majalah Hidayatullah. Edisi Aibmu Auratmu. November 2017.

https://khazanahalquran . com/belajar-optimis-dari-nabi-yaqub-as.html