(3/1/19)

Sebagai orang tua tentu sudah menjad hal yang wajar bahwa kita menginginkan yang terbaik untuk anak-anak kita. Banyak orang tua yang memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anaknya dengan harapan anaknya akan menjadi orang yang lebih baik dari dirinya, baik secara duniawi ataupun akhirat.

Tak jarang banyak juga orang tua yang mengarahkan dan mempersiapkan anaknya sedemikian rupa agar kelak menjadi “orang”. Tujuan utamanya tentu baik, agar anaknya bahagia di dunia maupun akhirat. Dan selaku orang tua, merupakan hal yang membanggakan ketika anaknya menjadi pribadi yang berhasil.

Namun di jaman sekarang ini, dimana semakin terbukanya segala informasi, semakin banyaknya pilihan dalam hidup, baik pendidikan ataupun jenis karir, perbedaan pandangan antara orang tua dan anak pun tidak dapat dihindari. Hal itu terutama ketika anak sudah beranjak dewasa dan sudah memiliki nilai-nilai yang dipegang dan dipercaya oleh mereka sendiri.

Disinilah biasanya terjadi adu argumen dan tak jarang berakhir dengan debat yang melibatkan emosi di antara anak dan orang tuanya. Saat emosi inilah tanpa sadar orangtua mengucap kata atau sumpah yang penuh nada keburukan pada anak. Hal inilah yang harus sebisa mungkin orang tua, terutama ibu hindari ketika sedang berdiskusi atau mungkin ketika berdebat dengan anaknya.

Larangan itu dengan jelas tercantum dalam sebuah hadits yang artinya: […] Janganlah Engkau
menyertai sesuatu yang terlaknat. Janganlah engkau mendoakan keburukan untuk dirimu sendiri. Janganlah engkau mendoakan keburukan kepada anak-anakmu.

Janganlah engkau mendoakan keburukan pada harta-hartamu. Agar (doa tersebut) tidak bertepatan dengan saat-saat di mana Allah memberikan dan mengabulkan doa dan permintaan kalian.” (HR. Muslim
no. 3009).

Hadits lain mengenai terkabulnya doa buruk orang tua kepada anaknya adalah HR. Abu Daud no. 1536, Tirmidzi no. 1905 dan Ibnu Majah no. 3862, yang artinya: “Ada tiga jenis doa yang mustajab (terkabul), tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizholimi, doa orang yang bepergian dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya.”

Hadits-hadits diatas menunjukan bahwa tidak baik dan tidak boleh untuk menyumpahserapahi anak dalam kondisi seemosi apapun. Karena selain dikhawatirkan akan terkabulkannya doa tersebut, kata-kata kasar yang dikeluarkan oleh orang tua juga ditakutkan hanya akan membawa trauma dan rasa takut terhadap si anak yang nantinya akan berdampak kepada kondisi psikologis anak.

Bentakan yang merupakan gelombang suara ini, bila disertai dengan gelombang emosi yang dihasilkan oleh otak kiri akan berkolaborasi menghasilkan gelombang baru dengan efek negatif. Efek ini bersifat destruktif terhadap sel-sel otak, terutama bagi anak yang menjadi sasaran bentakan tersebut.

Dampak jangka panjang membentak anak :

1Anak akan menjadi minder dan takut mencoba hal-hal baru.

2.Anak tumbuh menjadi pribadi yang peragu dan tidak percaya diri
3Anak akan memiliki sifat pemarah dan egois
Anak cenderung memiliki sifat menantang, keras kepala dan suka membantah nasehat orangtua.

4.Anak akan memiliki pribadi yang tertutup
Anak cenderung apatis, dan tidak peduli terhadap lingkungan

Namun tulisan ini tidak otomatis membenarkan untuk mendiamkan anak yang berbuat suatu kesalahan, karena memang sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mengarahkan dan membimbing anaknya agar menjadi pribadi yang baik. Namun cara untuk mengarahkannya lah yang harus diubah. Jangan gunakan kata-kata kasar, bernada tinggi dan terkesan menggurui. Pilihlah metode yang lebih halus, ajaklah anak duduk bersama, tanyakan mengapa dan bagaimana ia dapat berperilaku yang demikian atau memilih pilihan tersebut.

Berikanlah mereka pengertian dan perhatian yang cukup agar anak pun merasa bahwa ia sedang dipedulikan dan disayang, bukan sedang disalahkan dan dihukum.

Terkabulnya Do’a Jelek Orang Tua

Membentak Anak? Yuk Hindari dan Ketahui Akibatnya


https://parenting.dream.co.id/ibu-dan-anak/sumpahi-anak-dengan-buruk-ini-peringatan-rasulullah-saw-170727a.html