sumber gambar : google.com

 

15/05/18 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalamualaikum Ayah dan Bunda Sahabat As Shidiq Aqiqah. Tidak terasa Bulan Ramadhan sudah semakin dekat. Tak ada salahnya kita menyambut bulan Ramadhan dengan sedikit bertanya terhadap diri.

Sudah siapkah aku menyambutnya?

Sudah siapkah aku “memanen” pahala yang disediakan olehnya?

Sudah layak kah aku untuk menyongsong bulan yang suci itu?

Cukup percaya dirikah aku untuk berkata “ah, masih ada Ramadhan tahun depan”?

Lantas bagaimana jika Allah Subhanahu Ta’ala berkehendak lain

“Ini adalah Ramadhan terakhirmu wahai hamba-Ku”

Jika kita tahu, maka tentu aku akan menjadikan bulan Ramadhan yang akan datang ini sebagai bulan untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya untuk bekal di akhirat sana. Tentu aku akan memperlakukan bulan Ramadhan kali ini berbeda. Tidak ada lagi kata “ah”, yang ada hanya “ya”.

Pernah sekali waktu seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu berkata: Wahai Rasulullah, ajari aku dan nasihati aku dengan ringkas. Kemudian beliau bersabda,

Apabila kamu berdiri dalam shalatmu maka shalatlah seperti shalatnya perpisahan.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Hadits diatas merupakan nasihat Nabi Muhammad Shallahu alaihi Wasallam agar senantiasa menjadikan ibadah yang aku laksanakan layaknya ibadah terakhirku di dunia. Ikhlas lah. Khusyu’ lah. Tak ada jaminan bagiku untuk dimatikan ketika bekalku sudah banyak. Bekal yang cukup untuk membeli sepetak tanah di surga sana.

Tanamkanlah pemikiran itu wahai aku. Aku tidak akan pernah tahu kapan Allah akan memanggilku. Tidak akan pernah tahu berapa banyak Ramadhan yang akan aku sambut. Bisa jadi Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhirku. Atau paling buruk aku bahkan tak sanggup untuk menyelesaikan Ramadhan ini. Entahlah, aku tak tahu. Hanya Rabb-ku yang tahu. Dialah Allah Ta’ala  Yang Maha Mengetahui.

Akhir kata marilah ayah dan bunda, kita perlakukan Ramadhan ini sebaik-baiknya. Beribadah dengan ikhlas dan khusyu’. Kita buang rasa malas yang menghabiskan umur kita dan kita singkirkan angan-angan panjang yang melalaikan kita dari ibadah yang sungguh-sungguh. Kesampingkan rutinitas duniawi kita ketika Allah Ta’ala sudah memanggil kita lewat suara adzan yang berkumandang. Boleh jadi pada Ramadhan-ramadhan yang telah berlalu kita mengerjakannya hanya sebatas untuk menggugurkan kewajiban, maka kita jadikan Ramadhan kali ini benar-benar bisa mewujudkan makna Imanan wa Ihtisaban sehingga terampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Aamiin Aamiin Ya Rabbal’alamin.