(30/8/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Assalammualaikum, sahabat As Shidiq Aqiqah

Upaya untuk membungkam adzan melalui berbagai opini sejatinya sudah terjadi dalam satu dekade terakhir ini. Mereka yang berupaya membungkam adzan beropini bahwa adzan dengan pengeras suara masjid itu tidak toleran terhadap warga sekitar yang nonmuslim.

Adzan yang sudah melekat dalam mengiringi segala aktifitas masyarakat Indonesia tiba-tiba menjadi dipermasalahkan.
Beragam opini diserukan. Mulai dari tuntutan untuk melirihkan suara adzan, hingga menggantinya dengan CD Kaset atau  Aplikasi  pengganti adzan.

Hari ini, opini ini kembali digalakkan melalui kasus wanita Tanjung Balai yang menuntut suara adzan.  Bukan sebuah kebetulan jika hari ini ada upaya untuk membungkam adzan. Karena Rasulullah sudah mengabarkannya sejak lama. Dengan demikian semua hanyalah masalah waktu.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallahu A’laihi Wassallam pernah bersabda:

Dari Abu Umamah Al Bahili dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah masalah hukum dan yang paling akhir adalah sholat.” (HR Ahmad No 21139 Kitab Sisa Musnad Sahabat Anshar)

94 tahun silam Khalifah Utsmani atau Kesultanan Turki Ustmani (Ottoman) telah runtuh. Islam yang pernah berjaya di Eropa dan menguasai dua per tiga dunia dihapuskan dalam tata dunia pada 3 Maret 1924. Sejak itu, umat Islam tidak lagi dinaungi khilafah dan tercerai berai menjadi lebih dari 50 negara. Hukum Islam yang menjadi konstitusi negara Khilafah, pelindung muslimin, sudah diurai sejak 1924. Akibatnya Umat Islam seperti tidak punya lagi tempat mengadu setelah terpecah.

Hari ini, 94 tahun setelah simpul pertama itu berhasil dilepaskan oleh mereka yang membenci syariat, Upaya untuk melepas simpul terakhir sedang berlangsung. Jika adzan sebagai panggilan sholat secara perlahan berhasil dibungkam, maka lepasnya simpul terakhir sudah didepan mata.