Sumber Gambar : Merdeka.com

 

31/05/18 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalammualaikum Sahabat As Shidiq Aqiqah. Siapa yang tak kenal dengan istilah shalat terawih? Hmmm… istilah yang pastinya akan sering kita dengar saat bulan suci ramadhan. Shalat yang umumnya dilakukan baik 11 rakaat ataupun 23 rakaat. Nah, dalam shalat ini mungkin ntah diri kita sendiri, keluarga, atau kawan kita ada yang keluar masjid saat shalat terawih belumlah tuntas. Sehingga sering timbul pertanyaan dalam diri sendiri “Apakah boleh melanjutkan shalat teraweh dirumah?” , “Apa kerugiannya?”

Dalam artikel pada hari ini, As Shidiq Aqiqah akan menjelaskannya melalui pemaparan ustad Ammi Nur Baits,

Kita dianjurkan untuk mengikuti shalat tarawih secara berjamaah bersama imam sampai selesai, dan tidak putus sebelum witir. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan satu keutamaan khusus bagi orang yang megikuti tarawih sampai selesai.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Orang yang shalat tarawih mengikuti imam sampai selesai, ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. At Tirmidzi, no. 734, Ibnu Majah, no. 1317, Ahmad, no. 20450)

Dalam lafadz lain :

Ditulis baginya pahala shalat di sisa malamnya.” (HR. Ahmad, no. 20474)

Maka yang paling afdhal bagi seorang makmum adalah mengikuti imam sampai imam selesai. Baik ia shalat 11 rakaat maupun 23 rakaat, atau jumlah rakaat yang lain. Inilah yang paling baik.

Tentu pahala shalat  semalam suntuk akan sangat disayangkan jika kita tinggalkan. Bersabar, ikuti jamaah tarawih sampai selesai, meskipun itu panjang.

Nah, dengan kita tidak menyelesaikan shalat terawih sampai tuntas kita telah kehilangan pahala shalat semalam suntuk. Rugi bukan?

Penulis paham bahwa sebagian dari kita enggan untuk menyelesaikan shalat terawih karena terlanjur badmood dengan imam yang mungkin bacaannya terlalu panjang. Oleh karena itu, untuk para sahabat yuk kita juga harus ikut aktif dalam kegiatan masjid disekitar kita. Sehingga kita dapat memberikan masukan sekiranya keluhan-keluhan para makmum dalam mengikuti shalat teraweh.

“Untuk menjadi seorang imam tidak cukup hanya pandai menghafal ayat. Tetapi ia juga harus pandai merasa. Mungkin level keimanan  imam dan barisan makmum di saf ke satu dan kedua adalah barisan para ahli ibadah. Tetapi bagaimana dengan barisan saf  ketiga, keempat , dan kelima keatas? mungkin level keimanan mereka yang apabila sudah mau datang ke masjid saja sudah syukur. Mau meluangkan waktu luang mereka untuk Allah sekian jam saja sudah merupakan prestasi luar biasa bagi mereka. Maksud penulis adalah seorang imam haruslah bijak dalam memilih bacaan shalat sehingga tidak membuat para makmum “kapok” untuk datang ke masjid lagi”

Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah telah menegaskannya dalam sebuah hadits,”

Mu’adz bin Jabal Al-Anshari pernah memimpin shalat Isya. Ia pun memperpanjang bacaannya. Lantas ada seseorang di antara kami yang sengaja keluar dari jama’ah. Ia pun shalat sendirian. Mu’adz pun dikabarkan tentang keadaan orang tersebut. Mu’adz pun menyebutnya sebagai seorang munafik. Orang itu pun mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan pada beliau apa yang dikatakan oleh Mu’adz padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menasehati Mu’adz, “Apakah engkau ingin membuat orang lari dari agama, wahai Mu’adz? Jika engkau mengimami orang-orang, bacalah surat Asy-Syams, Adh-Dhuha, Al-A’laa, Al-‘Alaq, atau Al-Lail.” (HR. Muslim no. 465)

Semoga apa yang  kami sampaikan bermanfaat. Insya Allah…