20/6/18 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalammualaikum, ayah dan bunda sahabat As Shidiq Aqiqah. Dalam islam, Islam sudah mengatur secara detail bagaimana cara berhubungan seks yang baik dan benar. Nah, sebagai makhluk yang sempurna, hendaknya ketika berhubungan suami istri atau bersetubuh juga harus dilakukan dengan cara yang mulia. Dan salah satu adab mulia dalam melakukan jima  adalah dengan berdoa. Dengan berdoa kita berarti memohon kepada Allah agar menjadikan keturunan kita kelak menjadi pembawa berkah bagi orangtuanya. Lalu bagaimana dampak jika kegiatan tersebut tidak diawali dengan doa?

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

Jika salah seorang dari kalian (yaitu suami) ingin berhubungan intim dengan istrinya, lalu ia membaca do’a: [Bismillah Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa], “Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami”, kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya” (HR. Bukhari no. 6388 dan Muslim no. 1434).

Kapan Do’a Tersebut Dibaca?

Dalam sebuah ceramahnya Ustadz  Abduh Tuasikal menjelaskan,  Ash Shon’ani berkata bahwa hadits tersebut adalah dalil bahwa do’a tersebut dibaca sebelum bercumbu yaitu ketika punya keinginan. Karena dalam riwayat Bukhari lainnya disebutkan,

Adapaun jika salah seorang dari mereka mengucapkan ketika mendatangi istrinya …” (HR. Bukhari no. 5165).

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9: 228) berpendapat bahwa do’a ini dibaca sebelum hubungan intim. Begitu pula pendapat Syaikh ‘Abdul Qodir Syaibah dalam Fiqhul Islam, 7: 61-64.

Intinya, do’a ini diucapkan sebelum memulai hubungan intim dan bukan di pertengahan atau sesudahnya. Hukum membaca do’a ini adalah sunnah (mustahab) (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 1: 190). Dan jika dilihat dari tekstual hadits di atas, do’a ini dibaca oleh suami.

Lalu bagaimana jika sang suami lupa mengucapkan doa sebelum menggauli istri? 

Jika lupa, tentu saja kesempatan untuk mendapatkan  di atas menjadi hilang. Hanya saja, doa ini tidak wajib, dan tidak ada kaffarah jika ditinggalkan. Dan tidak ada anjuran untuk membacanya di tengah jimak atau setelah jima’.

Berkata Asy Syeikh Al Albani rahimahullah:

Barangsiapa yang lupa berdoa dan adalah kebiasaannya selalu berdoa, maka ini menurut persangkaan kuatku, Allah tetap akan menjaganya dari ikut andilnya syaithan ketika ia menggauli istrinya, dan ini berbeda dengan lawannya, karena hukum itu terikat dengan kebanyakannya. Silsilah Al Huda Wan Nuur (12).

Ada yang menganggap bahwa kelak jika terjadi kehamilan, maka anak yang lahir cenderung memiliki sifat bandel. Hanya saja perlu diketahui, bahwa itu hanya salah satu sebab. Artinya, masih ada sebab lain yang membentuk karakter seorang anak.

Ulama menegaskan bahwa hadis ini tidaklah menunjukkan bahwa setiap anak terlahir dari hasil hubungan badan yang sebelumnya diawali dengan doa, dia akan menjadi manusia yang makshum, terbebas dari setiap dosa dan godaan setan.

Karena itu, bukan jaminan bahwa setiap anak yang terlahir dari hubungan badan yang diawali dengan doa, pasti akan menjadi anak yang soleh. Demikian pula sebaliknya, bukan jaminan, setiap anak yang terlahir dari hubungan badan tanpa diawali doa, atau bahkan terlahir dari hubungan  (zina), pasti akan menjadi anak yang durhaka

Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan hafizhohullah berkata, “Hendaklah seorang muslim bersemangat mengamalkan do’a ini ketika berhubungan intim hingga menjadi kebiasaan. Hendaklah ia melakukannya dalam rangka mengamalkan nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan demi menghasilkan keturunan yang terjaga dan terlindungi dari gangguan setan, juga supaya mendapatkan keberkahan dari do’a ini” (Minhatul ‘Allam, 7: 348)

Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat bagi Ayah dan Bunda. Insya Allah. Aamiin….

Penjelasan selengkapnya : disini