(19/9/18) Muhammad Tri Ardiyanto

 

“Maaammmaaa.. aku jatuh,,,” Tangis Ida sambil mendekati ibunya.

“Tuh kan! Tadi Mama sudah bilang jangan lari, kamu masih lari juga. Jatuh, kan akhirnya!

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Ayah dan Bunda, Sahabat As Shiddiq Aqiqah…

Dari dialog di atas, pernahkah Ayah Bunda mengalami hal yang serupa? Bingung kenapa si kecil susah untuk dibilangin. Semakin diberitahu jangan lari, malahan makin kencang larinya. Hahaha…

Tenang Ayah dan Bunda, jangan panik. 🙂

Pakar Parenting Indonesia,Ayah Eddy, Dalam bukunya yang berjudul Ayah Eddy Menjawab. Mengatakan kita harus memerhatikan penggunakan diksi dan kalimat yang kita gunakan ketika memerintah si anak.

Terdengarnya mungkin sepele, seperti hanya masalah penggunaan diksi kalimat. Tetapi percayalah Ayah-Bunda penggunaan diksi kalimat ini sangat berpengaruh besar terhadap daya tangkap si kecil dalam memahami sebuah perintah.

Saat kita melarang anak  jangan kita menggunakan gunakan kalimat hasil akhir. Misalnya,saat jalanan licin, kita katakan pada anak, “Jangan berlari nanti jatuh!” . Dalama bahasa psikologis, Pendekatan seperti ini dinamakan pendekatan kuratif karena menekankan hasil akhir. Teknik yang digunakan kurang tepat dan malah sering kali benar-benar terjadi.

Seharusnya yang kita gunakan adalah pendekatan preventif. Supaya tidak jatuh, anak seharusnya berhati-hati. Contoh pendekatan preventif lainnya  seperti hati-hati- berhenti, diam di tempat atau stop.

Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan katajangan” karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata “jangan”

Alam bawah sadar berpikir dengan gambar. Selain itu, yang didengar anak adalah kata terakhir sehingga jika kita katakan “jangan berlari” maka yang ia dengar adalah “berlari”. Oleh Karena itu, biasanya gerak refleknya adalah “berlari”.

Untuk itu, hindari penggunaan kata “jangan”. Jika tidak percaya, mari kita buktikan

Jangan Anda bayangkan makanan kesukaan anda. Jangan bayangkan rasanya yang menggoda.. jangan bayangkan anda sedang ingin sekali mencicipinya. Bagaimana reaksi anda? Bisakah anda tidak membayangkannya?

Carilah padanan positifnya, misal ketika sedang berlari ketimbang mengatakan, “Jangan lari” Katakanlah, “berjalan pelan-pelan, ya Nak.”

Atau ketimbang mengatakan, “ Jangan malas katakan saja, “kamu kan anak rajin, ayo dilanjutkan buat pr nya sayang ..

Ganti kalimat , “jangan nakal” dengan “anak baik dan patuh”. Dengan menggunakan pemilihan diksi yang positif seperti itu. Insya Allah, yang ditangkap alam bawah sadar anak adalah rajin, baik, dan patuh sehingga ia akan menjadi seperti yang kita harapkan.

Yuk, Ayah-Bunda bisa dicoba 🙂

Demikian tips masalah parenting yang dapat kami ya Ayah-Bunda. Semoga dapat bermanfaat. Insya Allah.. aamiin….