(25/7/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Assalammualaikum, sahabat Asshidiq Aqiqah.

Mungkin banyak sahabat muslimin yang tidak  puas dengan nasib dan kehidupannya, sering  terlintas anggapan  bahwa Allah Ta’ala telah berlaku tidak adil.  Bagaimana mungkin kita yang telah bekerja keras sepanjang hari tetap hidup  dalam kemiskinan , sementara ada orang yang beribadah tidak pernah, kerjanya hanya duduk ,dan bersantai namun tetap bergelimpangan harta.

Keberuntungan seolah tak pernah lepas dari takdir orang tersebut. Fenomena yang penuh Anomali (keganjilan) ini, tentu membuat banyak manusia terheran-heran  dan mempertanyakan. Dimanakah letak keadilan Allah? Dimanakah letak sifat ke Maha AdilanNya tersebut?

Akibat gagal paham dalam menangkap anomaly ini banyak dari manusia yang rusak keimanannya. Puncaknya tidak percaya lagi dengan  keberadaan Tuhan. Terseretlah ia pada arus atheisme. Surga dan neraka bukan lagi dianggap hal yang menarik. Hanyalah sebuah  hal abstrak yang digandrungi dan digemari oleh mereka yang beragama.

Agar tidak terseret pada fenomena ini, Pertama-tama,  patut  kita sadari bahwa memang  pada dasarnya sangat sulit bagi akal kita untuk  memahami keadilan Allah di muka bumi ini. Manusia pertama yang paling sulit dalam memahami keadilan adalah nabi Musa A.S. Berikut kisahnya yang berhasil kami rangkum dalam sebuah ceramah yang disampaikan oleh Ustad Khalid Basalamah.

Dikisahkan, Nabi Musa  as. Pernah bermunajat kepada tuhannya di atas bukit Thur. Dalam munajat beliau berkata, “Tuhanku, perlihatkan kepadaku keadilanMU. “

Allah menjawab, “Engkau laki-laki yang tangkas, cekatan dan pemberani, tetapi  tidak  akan mampu bersabar untuk memahami keadilanKu .”

Insya Allah Saya mampu bersabar dengan  taufikMu, ” jawab musa as.

Kemudian Allah berfirman  ” pergilah menuju mata air  disuatu tempat , lalu bersembunyilah di baliknya dan perhatikan apa yang akan terjadi,  disitu kamu akan melihat apa yang kau inginkan ,

Nabi Musa as. berjalan dan mendaki anak bukit di balik mata air itu, lalu duduk bersembunyi. Tidak berapa lama datang  seorang penunggang kuda  di mata air itu , lalu ia turun dari kudanya dan berwuduk serta minum   air dari mata air itu. Ia membuka buntalanya yg di dalamnya terdapat kantong yg berisi uang 1000 dinar, lalu meletakannya di sampingnya lalu sholat. Kemudian laki2 itu kembali menaiki kuda dan ia lupa kantongnya.

Tidak lama kemudian  , datang seorang anak kecil ,lalu meminum air dari mata air itu dan pergi sambil mengambil  kantong uang yg ditemukan ditempat itu . Setelah anak kecil itu pergi , datanglah seorang laki-laki tua buta. Ia minum dari mata air itu, berwuduk dan berhenti sejenak untuk sholat,setelah sholat, ia duduk santai melepas lelah. Bersama dengan itu, laki-laki penunggang kuda yang datang pertama tadi teringat dengan  kantong uangnya. Ia kembali dari perjalanannya dan segera menuju sumber mata air itu , namun  ia tidak menemukan kantong uangnya. Ia hanya melihat laki laki buta itu yang sedang duduk beristirahat .

Pikirannya mencurigai laki-laki tua tersebut .  : “Saya kehilangan kantong yg berisi 1000 dinar di tempat ini. Tidak ada orang yg datang ke tempat ini selain kamu.” tuduh penunggang kuda itu . ”

‘’kamu tau saya laki-laki buta, maka bagaimana mungkin saya bisa melihat dan mengambil  kantongmu?” jawab laki2 yg buta itu .

Penunggang kuda itu  marah atas ucapan laki-laki tua tersebut   . Ia mencabut pedang dan menghantamkannya pada laki-laki malang itu sampai tewas . Ia memeriksa mayat laki-laki tua itu dan kantong yang di carinya tidak ditemukan ia pun pergi dan meninggalkan mayat pria malang itu dengan wajah kesal. .

Menyaksikan peristiwa tragis tersebut Musa as. merasa jengkel dan hilang kesabarannya  .

Ia  berkata, “Tuhanku dan junjunganku, kesabaranku benar-benar habis dan Engkau benar-benar Dzat yang Maha Adil, maka berilah saya pengetahuan dan penjelasan bagaimana semua ini bisa terjadi ?”

Allah memerintahkan Jibril untuk memberikan penjelasan   .

Jibril as. berkata kepada Musa as. ” Hai Musa as. Allah Ta’ala Berfirman:  Aku mengetahui semua rahasia dan  lebih mengetahui dari pada yg kamu ketahui. Adapun anak kecil  yg mengambil kantong uang tersebut, sebenarnya ia hanya mengambil hak miliknya sendiri. Karena orang tua anak kecil tersebut adalah orang upahan laki-laki penunggang kuda itu  . Upah yg harus diterimanya terkumpul dalam jumlah uang yg terdapat didalam kantong yg di bawa laki2 penunggang kuda itu dan upah tersebut  belum terbayar. Anak itu hanya mengambil haknya.”

Adapun laki-laki tua yg buta itu , adalah orang yang telah membunuh ayah dari penunggang kuda tersebut ketika ia belum buta . Allah telah mengambil hukum Qishash dan menyampaikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya. Keadilan Kami (Allah) sangat lembut.” setelah Musa as. Mengetahui hal tersebut, beliau bingung dan mohon ampun kepadaNya.

HIKMAH KISAH NABI MUSA A.S

Bayangkan yang se-level nabi Musa yang merupakan nabi dan level keimanannya tidak perlu dipertanyakan lagi pun kesulitan dalam memahami keadilan Allah. Apalagi kita yang level keimanannya dihadapan Allah Ta’ala belum jelas? Penulis pun juga merasakan, Kelemahan akal kita sebagai manusia  membuat keadilan Allah terasa abstrak bagi akal.  Wajar saja, karena akal kita yang tak lebih dari jengkalan tangan ini, hanya mempercayai apa yang nampak oleh mata. Apa yang tampak itulah yang nantinya akan ditransformasikan menjadi mindset  kita dan kemudian konek ke iman kita.

Padahal kalau dipikir bagaimana kita bisa terlalu mengandalkan mata kita ini sebagai corong  informasi? Toh! saat terhalang tembok pun mata ini tak mampu melihat apa-apa. Mata tidak bisa melihat apa yang ada dibalik tembok. Mata kita  hanya bisa menilai dari sebagian sisi saja, tidak semua sisi.

Sementara Allah memiliki ilmu yang tak terbatas. Dia Melihat sesuatu secara utuh dan menjalankan Keadilan-Nya sesuai dengan Ilmu-Nya.  Allah mengetahui apa yang terjadi dimasalalu, masa kini dan masa datang. Ia mengetahui antara yang nyata dan ghaib.

Jika kalau kita masih dalam keadaan bingung memahami keadilan Allah solusinya bukan bersuudzon dengan Allah. Akal kita lemah,  lemahnya akal seharusnya mendorong kita menjadi seorang yang ingin lebih memahami ilmu Allah, bukan menjadi seorang yang tidak mau tahu mengenai ilmu Allah.  Dengan ilmu kita akan mampu merubah cara pandang kita pada Allah Ta’ala. Dari yang suudzon menjadi berhusnudzon. Malas menjadi rajin. Kikir menjadi dermawan. Bodoh menjad pintar.  Tanpa ilmu manusia  tidak akan pernah bisa untuk menerima dan memahami apa yang ada dibalik tabir.

Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat.. Insya Allah