(10/10/2018) Muhammad Tri Ardiyanto

Orang yang beriman hendaknya berserah diri kepada Allah atas apa yang Dia lakukan. Ketahuilah, bahwa Dia adalah Mahabijak dan Sang Raja yang tak pernah berbuat sia-sia. Jika ada hikmah yang belum tersingkap, nisbahkanlah itu karena kebodohan manusia. Serahkan semua perkara kepada Sang Mahabijaksana. Jika akal menuntut dan menanyakan hikmah perbuatan Nya, jawablah,’’ Tak tampak padaku, maka wajiblah bagiku untuk menyerahkan segala perkara kepadaNya.’’

Banyak orang memandang berbagai perkara yang Allah buat hanya dari kaca mata akal. Hal yang bertentangan dengan akal dianggap tidak mengandung hikmah apa-apa. Akalnya dipakai mengiaskan Allah. Itu jelas sebuah kekufuran. Akal manusia itu pendek dan terbatas untuk mengerti hikmah-hikmah Nya.

Makhluk yang pertama kali melakukannya adalah iblis. Akalnya menganggap bahwa api lebih mulia daripada tanah. Tatkala disuruh bersujud pada Adam yang terbuat dari tanah, dikiranya Allah memuliakan tanah daripada api. Iblis pun melecehkan hikmahNya. Sikap semacam ini telah menyebar diberbagai kalangan manusia, dari yang terpelajar dan alim hingga masyarakat awam.

Betapa banyaknya orang yang menentang dan menolak hikmahNya sehingga menjadikan mereka kufur. Bencana ini telah menimpa seluruh lapisan manusia. Salah satu penyebabnya, mereka banyak melihat manusia fasik yang berlimpah harta sementara orang-orang yang saleh hidupnya sempit dan melarat.

Kebanyakan orang yang memprotes takdir Allah akan mengalami su’ul khatimah. Ruhnya tidak mulus saat terlepas dari jasadnya. Ruh itu keluar dalam keadaan kafir. Begitulah nasib orang yang menentang dan menolak hikmahNya.

Oleh sebab itu, jika ada satu hal yang mengganjal namun kita tidak mengetahui sebabnya, berarti itu karena minimnya ilmu kita. Mungkin kita melihat orang terbunuh dengan sadis, tetapi kita tidak mengetahui apakah orang itu juga telah membunuh banyak manusia sehingga layak untuk diperlakukan demikian?

Tak mungkin suatu bencana menimpa seseorang kecuali ia memang melakukan kesalahan dan kejahatan tertentu. Namun demikian, kesalahan itu telah gaib dari mata kita sehingga yang tersisa adalah balasan dosa itu saja.

Pasrahkan kepada Allah, niscaya kita akan selamat. Berhati-hatilah , jangan sampai keluar kata-kata penentangan dari mulut atau terpendam dalam jiwa, karena mungkin saja hal itu akan mengeluarkan kita dari islam.

Referensi

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam Buku Shaidul Khathir