09/07/18 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalammualaikum, sahabat As Shidiq Aqiqah. Sebagian orang menyebut, umur empat puluh tahun penuh teka-teki dan penuh misteri. Seseorang yang sudah mencapai umur 40 tahun berarti akalnya sudah sampai pada tingkat kematangan berfikir serta sudah mencapai kesempurnaan kedewasaan dan budi pekerti. Imam al-Syaukani rahimahullah berkata, “Para ahli tafsir berkata bahwa Allah Ta’ala tidak mengutus seorang Nabi kecuali jika telah mencapai umur 40 tahun.” (Tafsir Fathul Qadir: 5/18)

Dengan demikian, usia 40 tahun memiliki kekhususan tersendiri. Pada umumnya, usia  40 tahun adalah usia yang tidak dianggap biasa, tetapi memiliki nilai lebih dan khusus. Sehingga secara umum, tidak akan berubah kondisi seseorang yang sudah mencapai umur 40 tahun. Selain itu, Umur 40 tahun ialah umur dimana kebanyakan kita mulai diuji. Bertubi-tubi ujian datang mulai dari masalah finansial, jatuh sakit,  dari pasangan hidup (perceraian, jatuh sakit, pertengkaran) atau anak-anak yang mulai menginjak remaja.

Dalam buku misteri 40 tahun  “Misteri Umur 40 tahun” karya Ibna al-Arba’in.

Imam masruq pernah ditanya, “Ya Imam Masruq, Kapankah seseorang diazab akibat perbuatannya di masa lalu?

Imam Masruq menjawab ,’’Waspadalah ketika kalian telah mencapai usia 40 tahun’’

Janganlah terkejut, Memang pada umur 40 tahun ini, Allah memanggil kita agar pulang bertaubat kepadaNya. Panggilan dari Allah memang seringnya dalam bentuk ujian. Karena kebanyakan dari kita, hanya dengan itulah akan kembali  dan bersujud mengadu dan memohon pertolonganNya.

Orang yang bijak akan memperbaiki diri dan amalannya, memperbaiki hubungan dengan keluarga dan pasangannya, berjimat menyimpan untuk hari tuanya. Semua dengan niat agar berkumpul bersama di surga nanti.

Umur 40 Dalam Al Qur’an :

Usia 40 ini menjadi lebih menarik ketika al-Quran di dalam surah “al-Ahqaaf ayat 15” secara khusus menyebutnya. Allah Ta’ala berfirman :

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:

ROBBI AWZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALLATII AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOHU, WA ASHLIH LII FII DZURRIYATII.

“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Ayat di atas mengisyaratkan, saat sudah menginjak usia 40 tahun hendaknya seseorang mulai meningkatkan rasa syukurnya kepada Allah juga kepada orang tuanya. Ia memohon kepada-Nya, agar diberi hidayah, taufik, dibantu, dan dikuatkan agar bisa menegakkan kesyukuran ini. Karena segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah dengan kehendak dan izin-Nya, sehingga ia meminta hal itu kepada-Nya. Ini sebagaimana doa yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu, “Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, Janganlah engkau tinggalkan untuk membaca sesudah shalat:

“Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir, beryukur, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Nasai dengan sanad yang kuat)

Ada segelintir golongan yang sudah berumur 50 tahun, 60 tahun, malah 70 tahun, masih memikirkan kendaraan mewahnya, tanaman duriannya, peternakannya, hingga melalaikan akhiratnya. Alangkah baiknya jika apabila sudah berumur, diisi untuk  ibadat di Masjid, Umrah, Haji dan sebagainya.

Nafsu memang tak pernah tua. Ia sentiasa muda dan galak. Yang semakin lelah dan tua adalah tubuh kita. Kita hidup di dunia, tidak lama.. Rasulullah, Sallallaahu alaihu wasallam, telah bersabda:

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampaui umur tersebut”. [HR. Ibnu Majah: 4236].

Sebenarnya bersyukur itu sepanjang umur. Dan dikhususkan pada umur 40 tahun ini karena pada saat usia ini seseorang benar-benar harus sudah mengetahui segala nikmat Allah yang ada padanya dan pada orang tuanya, lalu ia mensyukurinya.

 

Peringatan Untuk Lebih Taat Pada Orangtua

Saat seseorang berumur 40 tahun, maka ia memiliki tanggungjawab di tengah keluarga dan masyarakat yang lebih besar. Anak-anak memerlukan biaya yang lebih untuk pendidikan dan lainnya. Sementara orang tuanya, pastinya sudah renta dan sangat memerlukan bantuan dari anak-anaknya. Di sinilah sering seseorang melupakan orang tuanya karena konsentrasinya yang lebih terhadap keluarga dan anak-anaknya. Padahal seharusnya dengan bertambahnya umur semakin membuat ia sadar akan jasa-jasa orang tuanya kepada dirinya. Sehingga disebutkan dalam hadits,

“Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya, salah seorang atau kedua-duanya, tapi tidak bisa masuk surga (dengan itu).” Dalam riwayat lain, “Tapi keduanya tidak bisa memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Ahmad dan lainnya)

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,

“Seorang anak yang dilahirkan apabila telah mulai bertumbuh pengertiannya, jika dia bekerja yang baik, ditulislah pahala untuk ayahnya atau kedua orang tuanya. Dan jika dia berbuat salah, tidaklah ditulis untuk dirinya dan tidak untuk orang tuanya. Apabila dia telah berkesadaran mulailah berjalan Qalam Allah, diperintah Allah dua malaikat yang selalu menyertai agar anak itu dijaga dan diawasi. Apabila telah mencapai 40 tahun dalam islam, diamankan Allahlah dia daripada bala bencana yang tiga macam: gila, kusta dan balak. Apabila dia telah mencapai 50 tahun diringankan Allah hisabnya. Apabila telah mencapai 60 tahun diberi Allah kesukaan kembali kepadaNya, dengan amalan-amalan yang disukai Allah. Apabila telah mencapai 70 tahun, jatuh cintalah kepadanya seluruh isi langit. Apabila dia telah mencapai 80 tahun, dituliskanlah oleh Allah segala kebaikannya dan dilewati oleh Allah kesalahan-kesalahannya. Apabila dia mencapai 90tahun diampuni dosa-dosanya yang terdahulu, kemudian, dan menjadi syafaat dia pada ahli rumahnya dan ditulislah dia sebagai orang kepercayaan Allah dan dia tawanan Allah dimuka bumiNya. Apabila dia telah mencapai usia sangat lanjut, sehingga tidak mengetahui apa-apa lagi sesudah begitu cerdas dahulunya, akan dituliskan Allah tentang dirinya yang baik-baik saja, sebagaimana yang diamalkannya diwaktu sehatnya dahulu, dan kalau dia berbuat salah, tidaklah dituliskan apa-apa.” (HR Abu Ya’ala dari Anas Bin Malik) (Dalam Tafsir Juz Amma Al Azhar Buya Hamka Hal 250)

Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat… Kami mengutip penggalan ayat Al Qur’an yang berbunyi :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Hasyr ; 18)