(28/8/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Assalammualaikum sahabat As Shidiq Aqiqah.

Setiap dari kita pasti pernah merasakan sedih, kesakitan atau rasa lelah. Tidaklah Allah menciptakan rasa-rasa itu untuk sebuah kesia- sian belaka. Dibalik rasa-rasa yang Allah ciptakan itu sesungguhnya memiliki hikmah. Tak ayalnya seperti Bumi dan langit yang Allah ciptakan dengan Haq. Maksudnya semua yang Allah ciptakan beserta isi-isinya tersebut memiliki letak keistimewaan. Nah, lalu apa yang menjadi letak keistimewaan musibah, sedih, lelah dan kesakitan yang kita rasakan tersebut dalam islam?

Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573)

Balasan minimal bagi seorang Muslim yang tertimpa musibah, sekecil apapun musibah tersebut, maka Allah akan menghapuskan kesalahannya.

Namun, apabila kita mampu bersabar dan mengharapkan pahala dari musibah tersebut, maka sesungguhnya kita akan mendapatkan tambahan kebaikan.

Kebanyakan kita mungkin lalai dalam mengharapkan pahala ketika tertimpa musibah-musibah kecil seperti tertusuk duri, terkena sakit ringan (flu, batuk ), diganggu kawan/tetangga,  perasaan yang tersakiti akibat perilaku orang lain, atau ketika merasa lelah karena bekerja seharian misalnya, baik seorang Ayah yang bekerja di luar rumah ataupun Ibu yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga kesehariannya untuk menafkahi keluarganya dan juga hal-hal lainnya sebagaimana yang disebutkan pada hadits di atas.

Padahal dalam semua hal tersebut,  kita sedang  memiliki peluang untuk mendapatkan kebaikan selain kepastian dihapuskannya kesalahan-kesalahan, kita juga dapat memperoleh pahala yang besar.

Allah Ta’ala berfirman :

…hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas. (Az Zumar ayat 10)

Selain itu, dalam sebuah hadits,  kitab Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi Al Bantani hal 164, Rasulullah pernah bersabda,

Pada Hari Kiamat Kelak, Mizan ( timbangan amal) akan diletakkan, lalu :

  1. dipersilahkan pada ahli shalat maka dengan timbangan itu pahala mereka diberikan secara sempurna.
  2. Dipersilahkan pada ahli sedekah maka dengan timbangan itu pahala mereka diberikan secara sempurna.
  3. Dipersilahkan pada ahli puasa maka dengan timbangan itu pahala mereka diberikan secara sempurna.
  4. Kemudian dipersilahkan kepada ahli musibah (orang-orang yang sabar menghadapi musibah), namun ternyata amal mereka tidak ditimbang dan catatan amal mereka juga tidak diperiksa. Mereka diberi pahala tanpa dihisab hingga ahlu al- afiyah (orang – orang yang selalu mendapatkan keselamatan) berharap mendapat kedudukan yang sama dengan ahli musibah karena banyaknya pahala dari Allah Ta’ala.

Inilah nikmatnya menjadi seorang muslim. Kita menjadi tahu faedah dari segala gangguan-gangguna yang kita alami, Tugas kita sebagai seorang Muslim hanya tinggal selalu menghadirkan niat dan mengharapkan pahala dalam setiap musibah yang dialami, baik  yang kecil maupun besar.

Memang betul… bersabar bukanlah hal yang mudah tapi akan lebih sulit lagi bila kita harus kehilangan pahala sabar bukan?

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang masuk dalam golongan sabar dan mendapatkan balasan pahala akibat gangguan-gangguna kecil hingga besar yang   kita alami. Aamiin..