05/07/18 (Muhammad Tri Ardiyanto)
Assalamualaikum, sahabat As Shidiq Aqiqah. Pernahkah kita merenungi mengapa setiap segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah memiliki ketertarikan sendiri bagi kita? Padahal jika dipikir lebih banyak hal yang Allah halalkan ketimbang haramkan. Sebagai contoh, Ketika Allah haramkan khamar tetapi Allah menghalalkan susu, air putih, sirup.  madu. Yang menjadi pertanyaan mengapa  hati  cenderung pada yang haram padahal di satu sisi Allah telah memberikan opsi halal yang lebih banyak?
Ulama kita, Imam Ibnu Al Jauzi pernah merenungi hal ini. Tentang kecenderungan nafsu terhadap segala hal yang dilarang. Ternyata semakin kuat larangan, semakin kuat pula keinginan untuk melakukan. Apa yang terjadi pada Nabi Adam tatkala dilarang memakan buah khuldi? Dia sangat cenderung untuk memakan buah khuldi, padahal masih sangat banyak pohon yang lain.
Pepatah mengatakan, ” Seseorang cenderung pada yang dilarang dan sangat rindu dengan apa yang yang belum tercapai.”
Dikatakan,
”Jika manusia dicegah untuk tidak makan, mereka akan mampu bersabar. Namun, Jika ada yang memerintah, disuruh untuk tidak menyembelih unta, pastilah mereka selalu berusaha melakukannya. Mereka akan berkata,” Kami dilarang dari suatu hal, pastilah ada sesuatu di balik itu.”
Dikatakan pula :
Yang paling digemari manusia ialah yang paling terlarang. Setelah Imam Ibnu Al Jauzi telusuri, ada dua penyebabnya.

Pertama, nafsu tak bisa bersabar jika dibatasi. Telah cukup bagi manusia pembatasan yang bersifat ragawi. Jika ruh-maknawinya dibatasi pula, ia akan memberontak. Oleh karena itu, jika seseorang duduk saja di rumahnya atas kemauan sendiri, ia tidak akan merasa kesulitan. Namun, jika diperintahkan, “Janganlah engkau keluar rumah hari ini”, sang waktu akan terasa lama berjalan.

Kedua, sangat sulit baginya untuk dikungkung dalam sebuah batasan hukum. Hal ini biasanya terjadi karena hati si hamba sudah terbiasa dengan yang haram. Sehingga rasa sensitif takut untuk melakukan dosa telah hilang, karena si hamba menganggap hal yang dilakukannya tersebut bukan lagi sebuah dosa. Karena sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan. Ia akan terus tenggelam dalam hal yang haram, bahkan seringkali tidak menikmati yang mubah, menjadi hamba bagi segala yang haram, dan cepat terpangaruh olehnya.
Referensi : Shaidul Khathir – Imam Ibnul Al Jauzi