foto-bayi-laki-laki-imut-lucu-anak-muslim-tile

Memiliki anak yang cerdas dan sholeh pasti merupakan dambaan setiap orang tua. Harapan itu bukanlah suatu hal yang mustahil apabila dipersiapkan sejak dini. Bukan berarti harus menunggu punya anak terlebih dahulu untuk mempersiapkan semua itu, tetapi bisa dipersiapkan sejak anak masih di dalam kandungan, ataupun bahkan sejak orang tua belum menikah pun juga sudah bisa mempersiapkan  Siapa yang tidak bangga apabila memiliki anak yang berprestasi disekolah? Siapa yang tidak bangga apabila anak-anaknya memiliki bakat dan karya yang bermanfaat? Siapa yang tidak merasa bahagia memiliki anak-anak yang sholeh? Ataupun sipa yang tidak bangga anak nya jadi penghapal al-qura’an, Siapa pun itu, bagaimana pun kondisi sosial dan ekonomi seseorang, pasti menginginkan anak-anaknya pintar, sukses, dan berakhlak baik.

Setiap orang tua berusaha memberikan yang terbaik sesuai kemampuan  masing-masing untuk medidik anaknya Bagaimana memilihkan sekolah yang terbaik untuknya, menjaga makanan yang masuk ke dalam perutnya, mengontrol jam belajar dan rutinitas sehari-harinya, memberi les tambahan seperti les bahasa diluar jam sekolahnya, dll. tahukah kita, sebenarnya pendidikan anak bisa dimulai sejak anak dalam kandungan?

Adapun persiapan yang perlu dilakukan adalah memulai dan melakukan hubungan biologis secara sah dan baik, serta berdoa kepada Allah agar perbuatannya tidak diganggu setan dan sia-sia. Selain itu,menggantungkan permohonan hanya kepada Allah semata agar dikaruniai seorang anak yang shaleh.

Rasulullah bersabda: “Manakala seseorang di antara kalian sebelum menggauli istrinya terlebih dahulu mengucapkan ‘Bismillaahi, Allohumma janibnaasy syaithoona wa jannibi syaithoona maa rozaqtanaa’ (dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, hindarkanlah kami dari gangguan setan dan hindarkan pula anak yang akan Engkau anugrahkan kepada kami dari gangguan setan), kemudian dilahirkanlah dari keduanya seorang anak,niscaya selamanya setan tidak akan mengganggunya.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Subhanallah, Rasulullah sendiri yang mengatakan bahwa seorang anak yang lahir dengan awal yang baik maka selamanya tidak akan diganggu setan. Tidakkah kita terpesona dengan kalimat-kalimat di atas?

Beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan barat dalam bidang perkembangan pralahir menunjukkan bahwa selama berada dalam rahim, anak dapat belajar, merasa dan mengetahui perbedaan antara gelap dan terang. Pada saat kandungan itu telah berusia lima bulan, setara dengan 20 minggu, kemampuan anak dalam kandungan untuk merasakan stimulus telah berkembang dengan cukup baik, sehingga proses pendidikan dan belajar dapat dimulai atau dilakukan.

Dalam buku cara baru mendidik anak sejak dalam kandungan , tulisan E. Rene van de carr, M.D. dan marc lehrer , Ph. D, ditegaskan bahwa kebiasan baik yang dibentuk secara konsisiten oleh ibu- ibu hamil pada dirinya dan bayinya selama kehamilan dapat mengurangi berbagai kesulitan yang mungkin timbul ketika sang anak sudah lahir ke dunia. Secara teratur mendengar irama musik tertentu (bisa dialihkan dengan mendengarkan suara murattal al- quran, misalnya) atau bercerita dan berdendang untuk si jabang bayi dalam kandungannya, atau melakukan relaksasi, akan memungkinkan ibu- ibu hamil bisa menjalin komunikasi dan membina hubungan positif dengan bayinya.

Dr. Craig dari university of Alabama menegaskan bahwa program- program stimulasi dini meningkatkan nilai tes kecerdasan dalam pelajaran utama pada semua anak yang diteliti dari masa bayi hingga usia 15 tahun. Anak- anak tersebut mencapai kecerdasan 15 hingga 30 persen lebih tinggi

Demikian juga riset yang dilakukan oleh Prof. Suzuki dari jepang, sebagaimana pernah dimuat dalam harian The japan Times Weekly Education ,bahwa stimulus yang diberikan terhadap janin sangat terkait dengan tingkat intelegensi anak. Jadi, sejak masih dalam kandungan, anak sebenarnya telah siap merespon stimulas- stimulasi edukatif yang diberikan kedua orangtuanya, terutama oleh ibunya.

Setelah menyimak urgensi stimulasi bagi janin dalam rahim, ada beberapa metode yang bisa ditempuh oleh orangtua, khususnya ibu, untuk memberikan stimulasi pendidikan yang positif bagi anaknya yang masih dalam kandungan. Hal ini akan membawa efek positif bagi si janin

Konon,Nabi Zakaria telah memberikan stimulasi pendidikan pada anak pralahir yaitu anak yang dikandung oleh istrinya, sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur’an surat Maryam (19) ayat 10-11. Di dalamnya dijelaskan bahwa pelayanan stimulasi pendidikan yang dilakukan oleh Nabi Zakaria telah membuahkan hasil yang yang bagus, yakni anak yang memiliki kecerdasan tinggi dalam memahami hukum-hukum Allah. Selain itu digambarkan pula bahwa anak yang dikaruniai itu adalah sosok yang terampil dalam melaksanakan titah Allah, memiliki fisik yang kuat, sekaligus seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya, sebagaimana diisyaratkan pada kelanjutan ayat 12-15 masih dalam surat yang sama. Bahkan,kemudian anak tersebut dipercaya dijadikan pewaris tunggal orang tuanya yakni tugas kenabian. Subhanallah. Ini adalah suatu praktek pendidikan anak dalam kandungan yang dilakukan secara bersama antara suami dan istri dengan kesamaan visi dan misi yaitu orientasi pendidikan yang bersumber pada motivasi untuk memurnikan keesaan Allah semata. Sebuah kondisi yang membuahkan keridhaan Allah sehingga dengan curahan rahmat-Nya keberkahan pun mengalir mengiringi laju bahtera rumah tangga tersebut.

Tuhannya seraya berkata, ‘Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh,tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur’.” (Al-A’raaf : 189)

“Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhanmu”. Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”.” (QS. Al-A’raaf: 172).

Pernyataan ini harus terus melekat dalam cita-cita hidup dan kehidupan setiap manusia, mulai sejak alam rahim (alam kandungan ibu),di dalam alam dunia, dan sampai alam akhirat.

Sebagai orang tua yang memegang prinsip ajaran Islam, sebaiknya ia dapat memformulasikan keyakinannya itu dalam kehidupan anak-anaknya kelak. Hal mendasar yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan contoh kebiasaan-kebiasaan beribadah bagi anaknya yang sedang tumbuh dan berkembang dalam kandungannya.

Untuk mencapai sifat-sifat kesempurnaan akhlak ini hendaklah orangtuanya memberikan contoh-contoh positif bagi anak-anaknya termasuk anak yang masih dalam kandungannya. Contoh keteladanan orang tua kepada anak yang masih dalam kandungan cukup hanya dengan memberikan sensasi-sensasi positif,dengan lembut penuh kasih sayang yang berorientasi kepada akhlak,seperti berbicara sopan, penuh rasa hormat, dan kasih sayang,mengharapkan anak-anak dalam kandungan responsif dan mengulang-ngulang latihan/sensasi tersebut, dengan rasa tenang dan senang.

Seperti membiasakan dalam rutinitas shalat fardhu diawal waktu,  berpuasa sunnah, shalat qiyamul lail, mengaji dan banyak ibadah lain adalah suatu contoh keteladanan orang tua kepada anak sejak dalam kandungan. Dengan demikian berarti si anak tersebut telah terbiasa diajak belajar menjalani ibadah dalam rangka taqarrub kepada Allah Swt. Sehingga keadaan tersebut dengan sendirinya akan meningkatkan daya kecerdasan otak dan sensitif terhadap suasana ilmiah si anak pralahir.