sumber : google.com
18/04/2018 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalammulaikum, Ayah dan Bunda sahabat As Shidiq Aqiqah. Mencintai dalam diam? hmm mungkin kalimat ini tak asing lagi di telinga kita, ketika hati mulai tertarik pada seseorang bila mengungkapkan padanya takut akan menjadi  awal dari kemaksiatan. Maka tiada yang dapat  dilakukan kecuali  mencoba mencintainya dalam diam dan mencintainya dalam untaian doa.

Kisah cinta antara Ali bin abi thalib sahabat rasul yang sekaligus adalah sepupunya ini adalah seorang yang cerdas. Selain itu, Ali adalah pemuda yang gagah, tampan, kuat. Bahkan Rasul pernah berkata,

“Jika kalau Rasul adalah sebuah gudang ilmu maka Ali lah gerbang untuk memasuki gudang tersebut”

Sedangkan Fatimah az-Zahra adalah putri kesayangan Rasul dari pernikahan beliau dengan Siti Khadijah binti Khuwailid. Fatimah adalah perempuan yang tegar, cantik, baik dan lembut. Sebagai anak yang berbakti pada ayahnya, Fatimahlah yang mengurus Rasul sejak Khadijah meninggal sampai Rasul menikah lagi.

Menjelang remaja, tumbuhlah rasa cinta Ali kepada Fatimah. Pintu hati Ali terketuk pertama kali saat Fatimah dengan sigap membasuh dan mengobati luka ayahnya, Nabi Muhammad  yang luka parah karena berperang. Tapi Ali tidak bodoh. Ia adalah pemuda yang beriman. Ali berusaha untuk selalu menjaga hatinya. Ia pendam rasa cinta itu bertahun-tahun. Ia simpan rasa itu jauh di dalam lubuk hatinya dan doanya, bahkan Fatimah pun tidak pernah tahu bahwa Ali menyimpan lama rasa cinta yang luar biasa untuknya.

Nafsu Mengatakan wanita cantik dari rupanya

Akal mengatakan wanita cantik dari ilmunya

Hati mengatakan wanita cantik dari akhlaknya

Hingga ketika Ali telah dewasa dan telah siap untuk menikah, maka Ali pun berniat menghadap Rasul dengan tujuan ingin melamar Fahtimah, Lantas dengan tekun Ali mengumpulkan uang untuk membeli mahar dan mempersunting Fatimah. Namun malangnya, saat sedang bersusah payah  untuk membeli Mahar, sahabat nabi yaitu Abu Bakar sudah terlanjur melamar Fathimah. Hancurlah perasaan Ali saat itu. Ali sadar diri kalau Abu Bakar memiliki kualitas iman, Islam, dan kekayaan yang jauh lebih tinggi dari dirinya. Walau dikenal sebagai pahlawan Islam yang gagah berani, Ali dikenal miskin.

Namun, kesedihan Ali terhapus saat mendengar Fatimah menolak lamaran Abu Bakar. Tapi keceriaan Ali kembali sirna saat orang dekat nabi lainnya, Umar Bin Khattab meminang Fatimah. Lagi-lagi Ali hanya bisa pasrah karena dia tidak mungkin bersaing dengan Umar yang gagah perkasa. Maka Ali pun hanya bisa bertawakal kepada Allah, Ia berdoa kepada Allah semoga dikuatkan hatinya akibat  derita cinta yang sedang dialaminya. Kali ini, Ali harus benar-benar ikhlas dan tegar menghadapi kenyataan itu. Namun Ali adalah pemuda yang shalih. Ia pun yakin bahwa Allah Maha Adil. Pasti Allah sudah mempersiapkan pendamping hidup baginya. Derita cinta memang menyakitkan. “Aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah diatas cintaku,” bisik Ali dalam hati.

Disaat Ali merasakan derita cintanya,  tak disangka-sangka, datanglah Abu Bakar dengan senyum indahnya. Dan memberitahu Ali untuk segera bertemu dengan Rasul karena ada yang ingin beliau sampaikan. Ali saat itu berpikir mungkin ia akan dipanggil untuk ikut membantu persiapan pernikahan Fathimah dengan Umar Bin Khattab.

Dengan tegarnya walau  hati sedang diterpa bertubi-tubi luka akibat cinta, Ali pun bergegas segera menemui Rasulullah.

Tumpukan rasa rindu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata,

Hanya bisa diungkapkan dengan doa.

Mencintaimu dalam doa, dengan isyarat yang tak akan pernah tertangkap oleh Indera,

Mungkin ini adalah sebuah kesalahan

Namun, Aku dibuat tak berdaya oleh rasa ini

Berdoa menjadi caraku untuk mencintaimu

Cinta adalah sebuah fitrah namun aku takut akan menjadi sebuah fitnah

Dan diamku adalah cara aku paling mencintaimu

Dari hadist riwayat Ummu Salamah diceritakan bagaimana proses lamaran tersebut

“Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum baginda berkata kepada Ali bin Abi Talib, ‘Wahai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal mas kawin?”

“Demi Allah,” jawab Ali bin Abi Talib dengan terus terang, “Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta.”

“Tentang pedangmu itu,” kata Rasulullah menanggapi jawaban Ali bin Abi Talib, “Engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga perlu untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira, sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi”. Demikianlah riwayat yang diceritakan Ummu Salamah r.a.

Sekarang, Fatimah telah menjadi istri Ali. Mereka telah halal satu sama lain. Beberapa saat setelah menikah dan siap melewati awal kehidupan bersama, yaitu malam pertama yang indah hingga menjalani hari-hari selanjutnya bersama, Fathimah pun berkata kepada Ali, “Wahai suamiku Ali, aku telah halal bagimu. Aku pun sangat bersyukur kepada Allah karena ayahku memilihkan aku suami yang tampan, shalih, cerdas dan baik sepertimu.”

Ali pun menjawab, “Aku pun begitu, wahai Fatimahku sayang. Aku sangat bersyukur kepada Allah, akhirnya cintaku padamu yang telah lama kupendam telah menjadi halal dengan ikatan suci pernikahanku denganmu.”.

Fatimah pun berkata lagi dengan lembut, “Wahai suamiku, bolehkah aku berkata jujur padamu? Karena aku ingin terbangun komunikasi yang baik diantara kita dan kelanjutan rumah tangga kita.”

Kata Ali, “ Tentu saja istriku, silahkan. Aku akan mendengarkanmu.”

Fatimah pun berkata, “Wahai Ali suamiku, maafkan aku. Tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebelum aku menikah denganmu, aku telah lama mengagumi dan memendam rasa cinta kepada seorang pemuda. Aku merasa pemuda itu pun memendam rasa cintanya untukku. Namun akhirnya, ayahku menikahkan aku denganmu. Sekarang aku adalah istrimu. Kau adalah imamku, maka aku pun ikhlas melayani, mendampingi, mematuhi dan menaatimu. Marilah kita berdua bersama-sama membangun keluarga yang diridhai Allah.”

Ali  terkejut dan sedih ketika mengetahui bahwa sebelum menikah dengannya, ternyata Fatimah telah memendam perasaan kepada seorang pemuda. Ali merasa bersalah karena sepertinya Fatimah menikah dengannya karena permintaan Rasul yang tak lain adalah ayahnya Fatimah. Ali kagum dengan Fathimah yang mau merelakan perasaannya demi taat dan berbakti kepada orang tuanya yaitu Rasul dan mau menjadi istri Ali dengan ikhlas.

Hati Ali pun merasa tidak tega jika hati Fatimah terluka. Karena Ali sangat tahu bagaimana rasanya menderita karena cinta. Dan sekarang, Fatimah sedang merasakannya. Ali bingung ingin berkata apa, perasaan di dalam hatinya bercampur aduk, senang, sedih, perihatin semua menjadi satu. Di satu sisi ia sangat bahagia telah menikah dengan Fatimah. Tapi di sisi lain, Ali tahu bahwa hati Fatimah sedang terluka. Ali pun terdiam sejenak. Ia tak menanggapi pernyataan Fatimah.

Fatimah pun lalu berkata, “Wahai Ali, suamiku sayang, maafkan aku. Aku tak ada maksud ingin menyakitimu. Demi Allah, aku hanya ingin jujur padamu.”

Ali terdiam. Bahkan Ali mengalihkan pandangannya dari wajah Fatimah yang cantik itu. Melihat sikap Ali, Fatimah pun berkata sambil merayu Ali, “Wahai suamiku Ali, tak usahlah kau pikirkan kata-kataku itu.”

Ali pun berkata, “Fatimah, kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Kau pun tahu betapa aku berjuang memendam rasa cintaku demi untuk ikatan suci bersamamu. Kau pun juga tahu betapa bahagianya kau telah menjadi istriku. Tapi Fatimah, tahukah engkau saat ini aku juga sedih karena mengetahui hatimu sedang terluka. Aku tak ingin orang yang kucintai tersakiti. Aku takut kau menikah dengan ku bukan karena kau sungguh-sungguh cinta kepadaku. Walupun aku tahu lambat laun pasti kau akan sangat sungguh-sungguh mencintaiku. Tapi aku tak ingin melihatmu sakit sampai akhirnya kau mencintaiku.”

Tak terasa air mata mengalir dari mata Ali, Alin pun berkata, “Tapi Fatimah, bolehkah aku tahu siapa pemuda yang kau pendam rasa cintanya itu? Aku berjanji tak akan meminta apapun lagi darimu. Namun ijinkanlah aku mengetahui nama pemuda itu.”

Airmata Fatimah mengalir semakin deras. Fatimah tak kuat lagi membendung rasa bahagianya dan Fatimah langsung memeluk Ali dengan erat. Lalu Fatimah pun berkata dengan tersedu-sedu, “Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu. Sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah.” Berkali-kali Fatimah mengulang kata-katanya.

Berubahlah mimik wajah Ali menjadi sangat bahagia dan membalas pelukan Fatimah dengan dekapan yang lebih mesra. Saling bertatapan lalu tersenyum dan tertawa cekikikan karena tak habis pikir dengan ulah masing-masing. Mereka bercerita tentang kenangan-kenangan masa lalu dan berbagai hal. Malam itu pun mereka habiskan bersama dengan indah dalam dekapan Mahabbah-Nya yang suci. Subhanallah.

Hikmah Dari Kisah Cinta Sayyidina Ali dan Fatimah

Bersambung part 2….