sumber : siduta.com

19/04/2018 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Hikmah Dari Kisah Cinta Ali Bin Abi Thalib Dengan Fatimah

Lanjutan part 2….

1. Jangan Awali Dengan Kemaksiatan

Assalammualaikum, Ayah dan Bunda sahabat As Shidiq Aqiqah. Menikah adalah sebuah ibadah dan karena merupakan sebuah ibadah tentunya janganlah kita awali dengan kemaksiatan. Jika mukodimahnya sudah diawali dengan kemaksiatan, kemanakah bahtera rumah tangga tersebut akan dibawa? Mungkin sebagian besar dari kita menganggap bahwa pertengkaran yang sering terjadi dalam rumah tangga akibat karakter pasangan kita. Ya, itu salah satunya tapi bukanlah satu-satunya penyebab. Bisa jadi karena bahtera rumah tangga tersebut diawali dengan kemaksiatan.

Allah Ta’aala Berfirman :

“Dan Janganlah kamu dekati zinah, zinah itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk” (QS Al Isra’ : 32)

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang – orang yang merugi” (QS. Al A’raf : 99)

“Dan Barangsiapa berpaling dari PeringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit,…” (QS. Ta Ha : 124)

Hukuman dan tipu daya Allah amatlah luar biasa pahitnya sehingga mungkin banyak dari manusia yang tidak sadar bahwa apa yang dialaminya akibat dari dosa yang dilakukannya di masa lalu. Namun, dosa itu sudah tak nampak lagi yang tampak tinggalah balasan dari dosa tersebut. Jika sudah terlanjur tidak ada solusi lain selain bertaubat.

2. Pantaskan Diri

Seperti yang kita telah lihat Bahwa sayyidna Ali dan Fatimah adalah pasangan shalih dan sholehah. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa Allah hanya akan memberikan pasangan yang sejenis dari kita.

Allah Ta’aala berfirman :

“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasanan untukmu dari jenismu sendiri…” (QS Ar Rum : 21)

“ Wanita- wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lekaki yang baik untuk wanita yang baik” (QS An Nuur : 26)

Hal yang sejenis tersebut bisa melalui kesamaan akhlak, keimanan, ketakwaan, dan ketaatan. Tidak mungkin seorang yang sholeh/sholehah mau berpasangan dengan pezinah. Dalam kitab Nashaiul Ibad, Syekh Nawai Al Bantani , Rasulullah pernah bersabda,’’ Ada 6 perkara yang terasa asing pada 6 perkara… Perempuan Salehah akan terasa asing bila menjadi pendamping hidup laki-laki yang zalim dan berakhalak buruk. Dan Laki-laki saleh akan terasa asing bila menjadi pendamping hidup perempuan yang hina dan berakhlak buruk.”

Sudah Hukum Allah jika kita menginginkan seorang pasangan yang sholeh maka kita pun juga harus sholehah begitupun sebaliknya jika menginginkan pasangan yang sholehah kita pun juga harus menjadi pribadi yang sholeh. Karena manusia hanya akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang ia usahakan. Oleh karena itu, mulailah untuk memantaskan diri terlebih dahulu.

3.Dekatkan Diri Pada Allah

Saat Allah mengharamkan zinah Allah menghalalkan pernikahan. Saat Allah mengharamkan pacaran Allah menghalalkan taaruf. Sebetulnya Islam bukanlah agama yang hobi melarang, islam adalah agama yang solutif. Islam selalu memberikan alternatif lain saat memberikan larangan. Asalkan kita belajar  islam secara kaffah, tidak  emosian ,dan sentimen, Insya Allah, Allah akan pandu kita dalam mencari jalan keluar.

Hmm lalu saat sedang jatuh cinta apa yang harus kita lakukan? Mungkin tak semua pria setangguh Ali dalam urusan hati. Pria mana yang tidak jiper jika orang yang disayang ternyata dikejar juga oleh orang lain yang dari segi materi dan non jauh diatas rata-rata? Dan tidak semua wanita tidak setangguh Fatimah juga dalam menahan rasa cinta pada seorang pemuda. Kisah Ali dan Fatimah bukanlah sekedar cerita. Dari  kisah tersebut sayydina Ali Bin Abi Thalib justru sedang memotivasi kita untuk mencari pasangan dengan cara yang diridhoi Allah yang bagaimana dan seperti apa? Bayangkan Allah memberikan jawaban atas kegelishan yang Ali rasakan melalui hal yang tak pernah terlintas dan terpikirkan bahwa akan seperti itulah Alur perjalanan cinta Sayydina Ali dalam mengejar Fatimah. Indah Bukan endingnya?

Dari sini, kita bisa belajar ketika hati ini sedang terpaut kepada seseorang maka dekatilah yang memiliki hati. Bukan si dia yang diamanahi hati. Mengapa? Kita yang memiliki hati tidak memiliki kuasa kepada siapa kita akan jatuh cinta begitu pun orang yang kita sayangi tersebut. Oleh karena itu, mintalah kepada Sang Pemilik hati yaitu Allah. Karena Allah lah Dzat yang Maha membolak-balikkan hati seseorang.

Yang terpenting kita haruslah yakin dengan Allah. Setelah itu tumpahkanlah keseriusan  rasa cinta dan sayang tersebut dengan shalat. Bisa melalui shalat tahajud, shalat hajat, dan shalat duha. Jadikanlah Shalat sebagai penolong dan tempat meminta. Jadikanlah Shalat sebagai penadah rindu atas orang yang kita selalu sebut namanya dalam doa. Tapi ingat yang terpenting mintalah jodoh yang terbaik. Mintalah kepada Allah jodoh yang membawa kebaikan dunia dan akhirat. Yang terpenting bersabarlah, untuk tahu jawaban kita memerlukan waktu.

Bila jawaban atas doa tersebut telah tiba jangan takut untuk melamarnya.

Tetapi jika ternyata apa yang diinginkan berseberangan dengan apa yang Allah rencanakan. Jangan juga berputus asa, pasti ada rencana lain dari Allah yang lebih indah.

Kumbang Bukan Seekor

Bunga Bukan Setangkai

Patah Tumbuh Hilang Berganti

Mati Satu Tumbuh Seribu

Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah bersabda,

Sesungguhnya Allah Maha Pemalu, Allah Malu menolak doa seorang hamba yang mengadahkan tangannya ke atas langit dengan hampa (HR Ibnu Majah No 3855, Shahih Menurut Muhammad Nashiruddin Al Albani)

Asalkan kita selalu dalam rel yang benar, Allah pasti akan segera memberi jawaban atas kegundahan tersebut cepat atau lambat. Kuncinya adalah yakin. Allah tergantung prasangka hambaNya. Semoga Bermanfaat… Insya Allah

Daftar Referensi

Kitab Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi Al Bantani

Aplikasi Android, ” Ensiklopedi Hadits”