1-martial_art_sport

Siapapun yang di karuniai sang buah hati  `malaikat kecil` itu suatu nikmat yang tak ternilai ,yang bisa menyejukan hati. Sebagai orang tua pasti memberikan yang terbaik untuk anaknya dari segi kesehatan dan pendidakannya ,ta kalah penting juga membangun rasa percaya diri anak dari sejak dini.

Kenapa Percaya diri pada Anak begitu Penting?

Kenapa begitu? Karena anak yang percaya diri mau belajar dan menerima hal-hal baru, bahkan yang dianggap sulit sekalipun. Mereka juga dapat meminta, bahkan membuat,  orang tua dan orang dewasa di sekitarnya untuk membantu mewujudkan keinginannya.

Saya sadar setiap anak berbeda-beda, mereka tidak bisa disamaratakan karena mereka dilahirkan dengan Kelebihan masing masing. Namun, semua anak bisa diajari untuk percaya diri supaya tidak mudah minder, jika saja orang tua paham cara mengajarkannya kepada mereka. Rasa minder adalah salah satu musuh terbesar seseorang, perasaan tersebut dapat dibawa hingga seseorang tumbuh dewasa sehingga kelak dapat mempengaruhi dalam kehidupan pribadi serta sosialnya.

Sejak dini Anda sudah bisa melatih kepercayaan diri balita, sebaiknya lakukan sebelum dia masuk dunia interaksi yakni prasekolah. Dorongan tak kenal lelah dari orangtua akan membuat balita Anda makin menonjol di antara teman-temanya.

Sejak bayi, bebaskan dirinya untuk bereksplorasi. Hindari memberikan terlalu banyak batasan saat bermain maupun beraktivitas sehari-hari. Anak yang dibiarkan berekplorasi untuk memuaskan rasa ingin tahunya bisanya akan berkembang menjadi anak yang kreatif dan pintar. Dan anak kreatif bisanya juga akan lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan dunia luar.

Tanamkan citra diri yang baik terhadap dirinya sendiri sejak belia. Buat ia merasa bahwa ia adalah anak yang berharga dan dibanggakan oleh bunda dan ayahnya. Sampaikan citra diri positif ini lewat kata atau pesan tersirat lewat interaksi antara anak dan orang tua ini bisa di lakukan dari semenjak lahir. Balita pun akan menjadi seorang pembelajar yang penuh keyakinan tinggi.

Dalam tiga tahun pertama kehidupannya, anak-anak belajar mengenali dan mengembangkan diri dari interaksinya dengan orang tua dan orang-orang di sekitanya. Dengan kata lain, mereka dibentuk oleh siapapun yang memberikan perhatian. Maka, bisa dipastikan bahwa orangtua bisa memanfaat kesempatan emas tersebut sebagai pintu gerbang pertama tuntunan perilaku anak-anak.

Lihat bagaimana rasa percaya diri dapat terbangun melalui komunikasi yang sehat dalam masa-masa keemasan ini

  • Ketika orang tua berkata sambil tersenyum, “Hebat! Dedek mau mulai belajar merangkak, ya” kepada bayi yang baru bisa mengangkat badan dari posisi tengkurap. Saat itu, bayi mempelajari bahwa ia baru saja bisa memecahkan masalahnya.
  • Batita yang sudah bisa mengangkat kursi plastik untuk mengambil ponsel sang ayah di meja, ditanggapi sang ayah dengan kalimat, “Wah, anak ayah yang baik. Ini punya ayah. Kamu main ini saja ya.”  Sambil memberikan mainan telefonnya. Saat itu, ia belajar bahwa apa yang ia sukai memang penting dan dihormati orang-orang yang mencintainya. Ia pun belajar bahwa terdapat solusi dari apa yang batasan yang ia hadapi
  • Balita yang menangis karena ditinggal kerja oleh ayahnya, ditenangkan oleh sang ibu. Hal yang sama juga dilakukan oleh pengasuhnya, ketika sang Ibu terpaksa pergi. Saat itu, anak belajar bahwa perasaannya penting dan orang tua akan mendengarkan dan mengatasi kegelisahannya.
  • Bayi yang segera didatangi orangtua ketika menangis akan belajar merasakan bahwa ia dicintai dan dianggap penting

 

Kiat kiat yang bisa kita lakukan untuk membangun rasa percaya diri anak

Contoh-contoh di atas hanyalah intervensi tindakan ketika diperlukan untuk tetap menjaga dan menumbuhkan rasa percaya diri anak. Namun, terdapat hal-hal dasar dan rutin yang bisa dilakukan orang tua seperti di bawah ini dalam membesarkan anak agar percaya diri, seperti:

1.Memberikan rutinitas. Anak yang terbiasa melakukan hal-hal yang rutin akan jauh dari rasa cemas karena mereka tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya

2.Tunjukkan rasa bangga anda ketika anak melakukan hal yang benar.

Rasa bangga tidak perlu selalu ditunjukkan dengan pujian. Anda bisa menunjukkannya dengan cara lain seperti memajang gambar yang ia buat di kertas, setelah ia mencoret-coret tembok. Tindakan anda akan mendorongnya untuk melakukan hal yang baik dengan lebih percaya diri.

3.Berikan tanggung jawab.

Daripada mengambilkan piringnya setelah anak balita anda selesai, cobalah untuk mulai memintanya menaruh piringnya sendiri. Atau, bisa juga dengan memintanya menaruh bantal ke tempat semula setiap pagi. Percaya diri juga tumbuh dari perasaan menjadi penting dan dibutuhkan.

4.Berikan urutan perintah jika tugasnya terlalu sulit.

Misalnya, ketika anak harus membuka tutup botol minumnya tanpa tumpah. Berikan perintah-perintah pendek seperti, “Duduk dulu,”; “Simpan botolnya di atas meja.”; “Tangan kirimu memegang botol, ya.”; “Oke, sekarang buka botol dengan tangan kiri pelan-pelan.” Ketika anak merasa mampu, maka rasa percaya dirinya juga akan terus terbangun

5.Bahasakan kegagalannya.

Hal ini akan membangun empatinya akan orang lain dan melakukan hal yang serupa. Contohnya, ketika anak anda terus menumpahkan air karena gelasnya terlalu tinggi. Anda bisa berkata, “Dedek mau pakai gelas ini tapi tumpah terus, ya? Ini lapnya, sayang. Yuk kita isi lagi. Setengah saja ya. Lain kali pasti dedek lebih hati-hati. Gelasnya taruh ke tengah ya.”

6.Biarkan mereka memilih permainannya sendiri.

Melalui permainan, anak-anak belajar memecahkan masalah. Misalnya, ketika bermain lempar bola, mereka harus mencari jika bola itu dilempar terlalu jauh. Jika anak terus dipandu atau terus dibantu mengenai apa yang harus dimainkan, mereka akan menunggu dan dapat menjadi tidak percaya diri untuk memilih apa yang harus dilakukan.

Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa komunikasi yang sehat tidak hanya melalui komunikasi verbal semata, tapi juga tindakan dan dukungan orang-orang sekitar. Orang tua yang terus belajar berkomunikasi akan bertumbuh bersama anak yang lebih percaya diri kedepannya. Pada akhirnya, mereka akan melakukan hal yang sama jika seperti apa yang dilakukan orangtuanya sewaktu mereka kecil.