10/7/18 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalammualaikum sahabat As Shidiq Aqiqah.

Dalam sebuah hadits Rasululla Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda, :

“Setiap anak tergadaikan pada aqiqahnya” (Shahih Sunan At Tirmidzi 2/94, Shahih Sunan Ibnu Majah 2/206).

Pada pembahasan tentang aqiqah, ada sebuah hadist yang cukup sering disinggung. Hadist tersebut berbunyi, “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. ” Lalu apa maksud dari hadits Ini sebenarnya?

Para ulama berbeda pendapat dalam penafsirannya. Al Khaththabi mengatakan : ” Ahmad mengatakan ,” Ini berkaitan dengan masalah syafaat. Maksudnya, apabila orangtua tidak melaksanakan aqiqah anaknya, kemudian si anak meninggal dunia di waktu kecil , dia tidak dapat memberikan syafaat kepada kedua orangtuanya. (Ma’alim As Sunan 4/264-265, Syarhus Sunnah 11/268)

Dalam kitab Syarhus Sunnah disebutkan, “Para ulama banyak berbicara tentang masalah ini. Penjelasan terbaik dikemukan oleh Imam Ahmad Bin Hanbal bahwa jika seorang anak meninggal dunia dan belum pernah diaqiqahi, si anak tidak dapat memberi syafaat kepada kedua orangtuanya. Diriwayatkan Qatadah bahwa dia terhalang untuk memberi syafaat pada orang tuanya.”

Adapula ulama yang mengatakan bahwa makna dari “tergadaikan” disini adalah berhubungan pada keselamatan si jabang bayi dan pertumbuhannya yang sesuai dengan harapan, tergantung pada aqiqahnya.

Adapun ulama yang mengatakan bahwa makna tergadaikan disini adalah bahwa Allah Ta’ala menjadikan penyembelihan aqiqah sebagai tebusan anak dari setan yang selalu menyertainya dan menusuk pusarnya dari semenjak lahir ke dunia. Berangkat darisini, aqiqah menjadi tebusan bagi perangkap dan penjara setan serta menjadi pelindung baginya dari gangguan setan yang selalu menghalangi kepentingan akhiratnya, tempat kembali baginya kelak.

Setan bersumpah kepada Allah, bahwa ia akan menyesatkan anak dan cucu Nabi Adam sebanyak mungkin. Oleh sebab itu, setan selalu mengawasi setiap anak yang dilahirkan ke  dunia. Pada waktu seorang bayi dilahirkan, sang musuh yang bernama setan itu segera menyongsongnya, merangkulnya, meletakkannya dalam genggamannya dan berusaha sekuat tenaga untuk menjadikannya pengikut.

Oleh karena itu, seorang bayi akan terus dalam kungkungan gadai ini, sehingga Allah Ta’ala memerintahkan kedua orang tuanya untuk segera membebaskannya dengan menyembelih hewan aqiqah sebagai tebusan. Apabila tidak disembelihkan, niscaya si bayi masih tersus berada dalam kungkungan gadai tersebut. Oleh karena itu, Rasulullah bersabda ,

“Seorang anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Maka tumpahkanlah darah untuknya (menyembelih kambing) dan bersihkanlahnya kotoran darinya.”

Ketika beliau memerintahkan kita untuk membersihkan kotoran yang tampak pada diri si bayi dan menumpahkan darah untuknya, maksudnya adalah tujuan dari aqiqah ini untuk membersihkan si jabang bayi dari segala macam kotoran lahir dan batin. Wallahu a’lam bi muradihi wa Rasuluhu (Tuhfatul Maudud, hal 58-59)

“Anak saya sudah di Aqiqahkan tapi kenapa tetap nakal?”

Jangan berputus asa ya Ayah dan Bunda, Kalaupun anak Ayah dan Bunda saat ini nakal padahal sudah di aqiqahkan, Asal Ayah dan Bunda tidak pernah berputus asa untuk mendoakannya dan menyerunya kepada kebaikan, maka akan kembali juga ia pada jalan yang lurus dengan Izin Allah. Islam melihat pada akhir hidup seseorang, Akhir hidup siapa yang tahu? Hanya Allah lah yang Maha Mengetahui.

Semoga Apa yang kami bermanfaat. Insya Allah.. Aamiin…

 

Referensi : Musa Afanah, DR. Husamuddin .2010.  “Ensiklopedia Aqiqah” . Pro- U Media : Yogyakarta.