(2/7/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Assalamualaikum, Ayah-Bunda sahabat As Shidiq  Aqiqah. Saat si kecil mulai tumbuh besar pasti ia akan memasuki bangku sekolah. Otomatis kita sebagai orangtua pun pasti akan melakukan survey dalam memilih beberapa sekolah pilihan. Sering kita diberitahu oleh kawan kita ,” Itu sekolahnya bagus loh….  Cuma untuk masuk sana perlu tes IQ dahulu.”  Tapi sering timbul pertanyaan dalam diri kita apakah layak anak usia TK melalukan tes IQ?

Sebelumnya, Yuk Ayah Bunda kita kenali dulu latar belakang lahirnya tes IQ. Konon, pada saat terjadi Perang Dunia I, Alfred Binet seorang psikolog berkebangsaan Prancis, diminta oleh pemerintahnya membuat tes untuk proses rekrutmen calon tentara. Ini dilakukan untuk memberikan legitimasi atau alas an siapa yang diterima dan tidak sebagai calon prajurit.

Pada zaman itu rupanya belum ada riset tentang otak dan cara kerjanya. Basis dalam mengukur kecerdasan bukan didasarkan pada cara otak manusia bekerja, melainkan pada asumsi “ Bell Curve

Atau kurva lonceng. Persis seperti lonceng, bagian atas mengerucut sementara semakin ke bawah semakin melebar. Atau dengan kata lain, dalam setiap kelompok anak pasti ada yang berada di bidang kerucut kecil, digolongkan memiliki kemampuan jauh di atas rata-rata. Lalu anak yang berada dibawahnya digolongkan berkemampuan di atas rata-rata. Semakin ke bawah, digolongkan menjadi anak yang menjadi memiliki kemampuan di bawah rata-rata yang konon merupakan populasi yang agak jauh lebih besar.

Padahal, jika kita ingin mengukur kecerdasan seseorang, yang harus diriset tentu otak yang bersangkutan. Nah, karena pada zaman tersebut belum ada riset tentang itu, akhirnya tes yang dipakai menggunakan basis asumsi, yang menurut, yang menurut Alfred Binet benar. Sistem asumsi itu dilakukan sebagai dasar membuat tes yang tujuan utamanya memisahkan atau mengklasifikasikan kegagalan atau keberhasilan seseorang berdasarkan kemampuan mengerjakan tes.

Semakin banyak dan tepat yang dikerjakan, itu artinya ia sangat pintar. Begitu pun sebaliknya. Pada akhirnya yang muncul selalu anak anak yang gagal atau berhasil mengerjakan tes tersebut..

Kebetulan, karena tidak ada tes model lain, tes IQ yang dulu diperuntukkan bagi rekrutmen tentara, perlahan ditarik ke dalam penerimaan rekrutmen karyawan di masa Revolusi Industri. Dari waktu ke waktu tes ini terus meluas dan merambah ke sekolah-sekolah dan sampailah pada anak kita.

Sebagian besar sekolah didunia termasuk Indonesia mengunakan basis model penilaian yang digagas oleh Alfred Binet ini, yakni penilaian berbasis kurva lonceng. Oleh karena basis asumsi tersebut, fungsi sekolah lebih pada sebuah lembaga yang berperan menyeleksi anak-anak yang pintar dan anak-anak yang bodoh. Bukan menjadi lembaga membuat anak pintar atau juara semua. Padahal  orangtua meniatkan menyekolahkan anaknya supaya berhasil. Tak satupun orang tua didunia menyekolahkan anaknya lalu menginginkan dinyatakan gagal bukan?

Akan tetapi karena system asumsi inilah sekolah-sekolah kita hanya mampu mencetak tiga juara dari kurang lebih 40 an siswa setiap tahunnya. Alias lebih banyak menciptakan generasi “Micin” (kalau kata anak muda zaman sekarang) daripada mencetak generasi maju.

Itulah kenapa setelah tahun 1980-an, system ini dievaluasi secara total dan dinilai tidak layak lagi digunakan pada system pendidikan manusia. Mengapa? Pabrik mobil Toyota di Jepang saja hanya mengizinkan 0,1 % produk yang gagal dari 1000 mobil. Apalagi masalah institusi pendidikan.

Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah ada system tes  yang membantu setiap anak menjadi juara? Ada!  Prof. Howard Gardner, seorang psikolog dan pendidikan dari Amerika Serikat, telah melakukan riset selama 20 tahun lebih dan berusahan menciptakan sebuah system yang dimana setiap anak bisa menjadi juara. Beliau mencetuskan sebuah teori yang bernama Multiple Intellegence.

Berbeda dengan tes IQ yang memvonis pintar atau bodoh. MI menemukan bahwa setiap anak terlahir pintar. Masalahnya kepintaran setiap anak berbeda-beda. Tidak mungkin bukan  jika seorang monyet membuktikan kehebatannya dengan berenang melawan ikan. Dan ikan membuktikan kehebatannya dengan memanjat pohon melawan monyet. Nah, itulah fungsi MI, yang membantu melihat letak potensi kecerdasan anak terletak pada bidang apa.

Namun, mengapa setelah mengikuti tes IQ  anak-anak kita ada dinyatakan sebagai calon juara dan calon pecundang? Anak yang salah diciptakan atau tesnya yang keliru dalam memetakan potensi unggul masing-masing anak kita? Bahkan Prof Gardner menyimpulkan, sangat naïf untuk menjadikan tes IQ sebagai penentu dan alat ukur kecerdasan seorang anak. Sebab masih banyak parameter dan asumsi yang tidak sesuai dengan system kerja otak anak.

Coba Ayah- Bunda bayangkan, kita saja para orangtua yang telah hidup bersama anak dalam satu rumah, seringkali belum menemukan potensi unggul anak yang sesungguhnya. Lalu bagaimana mungkin sebuah tes yang hanya berdurasi tak lebih dari 2 jam, bisa mengklaim anak kita juara atau pecundang?

Sekali lagi, silahkan ayah bunda putuskan sendiri apa anak perlu mengikuti tes IQ atau tidak. Pilihlah dengan bijaksana ya, Ayah Bunda.

Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat. Insya Allah. Aamiin….

Sumber : Edy. 2012. Ayah Edy Menjawab. Noura Books : Jakarta.