(24/10/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Sahabat As Shidiq Aqiqah.

Dalam perang Mut’ah, Hari itu Jum’at pagi-pagi sekali Rasulullah memberangkatkan 3.000 pasukan untuk menghadapi tentara Romawi. Di Daerah maan pasukan umat islam berkemah. Saat itulah mereka mendengar Raja Romawi bernama Heraklius bersama 100.000 tentara dan 100.000 kabilah-kabilah arab nasrani sehingga total tentara musuh kaum muslimin berjumlah 200.000 tentara!

Dalam perang ini Rasulullah menunjuk tiga orang panglima besar.

  1. Zaid Bin Haritsah , Seorang mantan budak yang kemudian diangkat menjadi anak angkat Rasulullah ini, dipercaya oleh Rasulullah menjadi komando perang karena terdapat sifat kepemimpinannya yang bisa membuat pasukannya semangat menghadapi musuh. Zaid digambarkan berperawakan pendek dengan tubuh yang hitam selalu menghadapi musuh dengan gagah berani.
  2. Ja’fa Bin Abu Thalib, .Ya, dia adalah putra Abu Thalib. Paman Rasulullah. Yang mana berarti dia adalah sepupu Rasulullah. Wajar kalau ada yang menilainya sangat mirip dengan Rasulullah. Tampilan fisik, keberanian dan akhlaknya sangat mirip. Dia memiliki sifat pemurah dan tak takut miskin. Untuk sifatnya ini Rasulullah menjulukinya “Penyantun Orang-Orang Miskin”.
  3. Abdullah Bin Rawahah ra, ia terkenal sebagai orang yang pandai baca dan tulis. Bahkan dia adalah seorang penulis, penyair yang mampu mengubah syair yang indah dan berkesan. Syair-syairnya yang indah membuat pasukan Rasulullah bersemangat saat akan melaksanakan pertempuran.

Rasulullah menunjuk tiga orang terbaiknya tersebut,”Kalian harus tunduk pada Zaid. Jika Zaid gugur pimpinan diambil alih oleh Ja’far bin Abu Thalib. Jika Ja’far gugur maka pimpinan dipegang oleh Abdullah Rawahah”

Perang pun tak relakkan, Zaid Bin Haritsah maju dengan membawa bendera umat islam. Ja’far pun maju dengan gagah berani. Saat dilihatnya bendera hampir jatuh dari tangan kanan Zaid. Ja’far sigap menyambar. Dia berjanji dalam hati akan menjaga bendera agar tidak sampai menyentuh tangan musuh. Tanpa rasa takut dia terus menebas musuh dengan pedangnya. Musuh pun jatuh tak terhitung. Melihat sepak terjang Ja’far, panglima Romawi pun memutuskan untuk mengepungnya. Ja’far tak gentar terus maju. Hingga terpisah tangan kanannya oleh tebasan pedang musuh. Tangan kirinya dengan sigap menangkap bendera. Bahkan ketika tangan kirinya pun terkena sabetan pedang. Dia memeluk bendera dengan kedua pangkal lengannya.

Di perang inilah Ja’far menemui kesyahidannya. Setelah beliau syahid ditemukan pada tubuhnya terdapat 90 luka lebih antara tebasan pedang, tusukan panah, tombak yang menunjukkan keberaniannya dalam menyerang musuh. Dia kembali pada Allah setelah memenuhi janjinya menjaga panji-panji islam. Kemudian, bendera pun diambil oleh Abdullah Rawanah. Dan Abdullah Rawanah pun wafat.

Saat itu Rasulullah sedang berbincang dengan para sahabat di Madinah. Tiba-tiba Allah mengabarkan kondisi peperangan Mut’ah. Rasulullah menunduk, matanya berkaca-kaca.”Bendera pasukan dibawa oleh Zaid bin Haritsah. Ia bertempur dengan gagah berani hingga ia gugur sebagai syahid. Kemudian bendera diambil oleh Ja’far. Dia pun bertempur dengan gagah berani hingga gugur sebagai syahid.”   Beliau pun menangis. namun setelah itu beliau memberikan kabar baik pada keluarga Ja’far , ” Aku telah melihatnya di surga. Dia mengenakan sayap yang masih ada darahnya dan bertaburkan bintang kehormatan.”  Ja’far si Burung Surga.

Rasulullah diam sejenak, kemudian berkata,”Kemudian Bendera itu dipegang oleh Abdullah bin Rawanah. Dia bertempur dengan gagah berani hingga gugur sebagai syahid”

Rasulullah kembali diam. Tiba-tiba wajah beliau terlihat gembira dan penuh ketentraman. “Mereka bertiga dinaikkan ditempatku di surga.”

——————————————————————————————————

Bendera itu hanya selembar kain, tapi apa yang terbaca di balik kain ini yang penting: 

Ada nilai martabat,  persatuan, bukti pengorbanan, lambang perjuangan dan identitas.

Jadi kalau masih ada yang mengatakan “itu hanya kain biasa”, coba pinjamlah foto dirinya atau foto bapak ibunya, lalu injak-injak, kalau perlu, bakar kalau ia manusia normal pastilah ia mengamuk!

 

Referensi

Ayesha, Ummu. 2018. “Sirah 60 Sahabat Nabi Muhammad Saw”. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.