(22/10/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Ayah-Bunda sahabat as shidiq aqiqah.

Semua orang pasti menyukai lelucon dan candaan. Bagaimana tidak, sering kali lelucon dan candaan menjadi penghibur kita di kala bosan, selingan untuk menghilangkan stres, pencair suasana dan bahkan menjadi kebutuhan hidup sosial. Tentu saja interaksi antar manusia akan membosankan bila selalu dibawa serius dan tidak ada candaan di dalamnya. Oleh karena itu, kita tidak bisa menikmati indahnya interaksi sosial dengan keluarga, sahabat, teman, dan tetangga kita. Di pihak lain, guyonan dan lelucon menjadi suatu acara khusus yang diselenggarakan bahkan menjadi mata pencaharian sebagian orang.

Didalam islam sendiri pun, lelucon dan guyonan bukanlah hal yang dilarang asalkan masih sesuai dengan kaidah-kaidah islam. Seperti tidak berdusta dalam bercanda, tidak iseng mengumpeti barang saudaranya, dan tidak bercanda mengenai hal-hal yang berkaitan dengan syariat islam. Berbicara mengenai bercanda mengenai syariat islam hal ini bukanlah perkara yang baru. Di zaman nabi pun sudah ada kasus seorang yang menjadikan agama sebagai bahan olokan.

Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, dan Zaid bin Aslam radhiyallahu ‘anhum dalam hadits yang panjang dan menjadi sebab turunnya beberapa ayat dalam surat At Taubah. Kisahnya, tatkala kaum muslimin sedang dalam perang Tabuk, ada seseorang yang berkata kepada teman-temannya, “Kami tidak pernah melihat orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta perkataannya, dan lebih pengecut ketika bertemu dengan musuh, ketimbang para qari’ ahli baca Al Qur’an ini (maksudnya adalah Rasulullah dan para shahabatnya).” Mendengar hal tersebut, Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Engkau yang dusta. Kamu ini sebenarnya adalah munafik. Aku akan laporkan ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam.

Pergilah Auf bin Malik menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaporkan hal ini dan ternyata ia jumpai ayat Al Qur’an telah turun mendahului beliau membahas peristiwa tersebut. Maka, datanglah orang yang membuat lelucon dan olok-olok tadi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia jumpai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah naik ke atas untanya dan bersiap untuk pergi. Orang ini pun akhirnya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami cuma sekedar bersenda gurau dan ngobrol untuk menghilangkan kebosanan dalam perjalanan sebagaimana yang biasa dilakukan orang yang dalam perjalanan.” Kata Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Saat itu aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kakinya tersandung-sandung batu seraya berkata, “Kami tadi hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata membacakan ayat 65-66 dalam surat At Taubah (yang artinya), “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” Rasulullah tidak menoleh kepada orang tersebut saat membacakan ayat dan tidak berkata lebih dari itu. Kisah di atas diriwayatkan oleh Imam Ath Thabari dan Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya dari jalur Hisyam bin Sa’ad dari Zaid bin Aslam dari Ibnu Umar. (Lihat Al Qoulul Mufid ‘alaa Kitabit Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin)

Dari kisah riwayat diatas, dapat diambil pelajaran bahwa kita harus menjaga betul adab kita dalam bercanda. Bercanda tanpa adab dapat menjerumuskan pelakunya ke neraka. Dalam sebuah hadits Dari Abu Hurairah Radliyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sesuatu apakah yang terbanyak yang dapat memasukkan manusia ke dalam surga?. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. Beliau juga ditanya tentang sesuatu apakah yang terbanyak yang dapat memasukkan manusia ke dalam neraka?. Beliau menjawab, “Mulut dan farji (kemaluan)”. (HR At-Tirmidzi: 2004, Ibnu Majah: 4246)

Demikian tulisan untuk hari ini, semoga dapat bermanfaat ya ayah-bunda. Aamiin.. Insya Allah.