30/04/2018 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalammulaikum, Ayah dan Bunda sahabat As Shidiq Aqiqah.

Inilah Kisah Uwais Alqarni, Seorang yang tidak dikenal dibumi tetapi terkenal dilangit

” Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” [Al-Isra : 23]

Perintah untuk taat dan berbakti kepada orang tua sangat jelas diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala  dalam Al-Quran, salah satunya adalah Surah Al-Isra ayat 23 di atas. Namun di jaman dimana gadget dan padatnya aktifitas telah membuat anak lupa akan tugas mereka selaku anak manusia yaitu berbakti kepada orang tuanya. Contoh hal sepele yang paling umum adalah perkataan seorang anak ketika ia dimintai tolong untuk melakukan sesuatu. Ya banyak anak yang mengatakan “iya nanti, lagi sibuk”, “sebentar” “engga mau” ketika mereka disuruh oleh orang tuanya. Tentu hal tersebut jelas-jelas tidak sesuai dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah Al-Isra ayat 23.

Berbicara mengenai bakti kita terhadap orang tua, ada satu kisah yang menarik mengenai kepatuhan dan bakti seorang anak terhadap orang tuanya. Bahkan saking berbakti dan pedulinya ia terhadap orang tuanya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut ia sebagai penghuni langit. Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena semua yang dipinta olehnya akan diperkenankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala . Berikut sedikit kisah dari bakti seorang pemuda dari Yaman bernama Uwais al-Qarni.

Uwais Al-Qarni adalah pemuda yatim yang memiliki penyakit sopak; yaitu sebuah penyakit yang menyebabkan kulit menjadi belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Dan mereka hidup dalam kondisi miskin secara ekonomi. Karena kondisi tersebutlah yang membuat Uwais Al-Qarni mengalami kesulitan untuk mewujudkan keingin ibunya yang sangat ingin menunaikan ibadah haji. Meskipun terasa sulit, bukan berarti Uwais Al-Qarni menyerah begitu saja dan hanya memasrahkan diri. Ia mencari berbagai cara untuk mewujudkan impian ibunya tersebut.

Upaya Uwais Al-Qarni untuk mengantarkan ibunya menunaikan ibadah haji dimulai dengan membeli sebuah anak lembu. Dibuatkanlah kandang untuk anak lembu itu di atas bukit. Tiap hari Uwais Al-Qarni tak pernah terlewat untuk menggendong dan membawa anak lembu tersebut bolak-balik ke bukit. Kian hari anak lembu tersebut kian besar, sehingga tenaga yang dibutuhkan oleh Uwais Al-Qarni juga semakin besar untuk membawanya. Tak terasa 8 bulan sudah dan bertepatan dengan musim haji,  Uwais Al-Qarni melakukan rutinitas yang demikian itu, dan hasil kerja kerasnya membuahkan hasil dengan berat lembunya yang mencapai 100 kg dan masa ototnya semakin besar dan kuat yang dirasa telah cukup untuk membawa beban yang berat untuk jarak yang jauh.

Ya tujuan dari Uwais Al-Qarni melakukan hal yang demikian tak lain adalah agar ia sanggup menggendong ibunya dari Yaman ke Makkah agar ibunya yang sudah tua renta dan lumpuh dapat menunaikan ibadah haji. Maka terbayarlah kerja keras yang ia lakukan selama ini yaitu dengan tangis haru dari mata sang ibu yang merasa bahagia karena dapat melihat Baitullah. Pun ketika mereka menunaikan wukuf dan berdoa di hadapan Ka’bah, Uwais Al-Qarni hanya memintakan ampunan bagi ibunya. Baginya dengan terampuninya dosa ibunya, ia merasa cukup dengan ridha ibunya yang nantinya akan membawa Uwais Al-Qarni ke surga.

Selain bakti di atas, Uwais Al-Qarni pun terus berusaha sebisa mungkin berada di dekat ibunya guna memastikan kebutuhan ibunya yang lumpuh itu selalu terpenuhi; ia rela mengesampingkan keinginan dirinya sendiri. Salah satu keinginan yang rela ia tahan adalah keinginannya untuk bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sebagaimana halnya sebagai manusia biasa, Uwais Al-Qarni pun tak dapat lagi menahan keinginannya tersebut. Oleh karena itulah ia memberanikan diri untuk mengutarakan keinginannya kepada ibunya sekaligus meminta izin. Gayungpun bersambut, ibunya memberikan izin kepada Uwais Al-Qarni untuk bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun izin sang ibu telah diterima, namun keinginan itu urung terlaksana karena ketika ia sampai di kediaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau sedang tidak ada di kediamannya karena sedang berperang. Ingin rasanya Uwais Al-Qarni menunggu kedatangan Rasulullah, namun ia teringat akan ibunya yang tinggal sendirian dan pesan dari ibunya agar ia cepat pulang. Karena itulah ia memutuskan untuk pulang dan mengorbankan keinginannya untuk bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebegitu besarnya bakti Uwais Al-Qarni kepada orang tuanya, terutama ibunya. Ia rela mengesampingkan keinginan dan mungkin kebahagiaannya sendiri untuk melihat ibunya bahagia.

Semoga dari kisah tersebut, kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran untuk senantiasa berbakti kepada orang tua kita serta Ayah dan Bunda dikarunia putra putri yang sholeh dan sholehah serta berbakti kepada orang tua. Namun untuk menjadikan anak kita menjadi insan yang patuh dan berbakti terhadap orang tua tidak begitu saja dapat terwujud dengan sendirinya. Perlu adanya edukasi dari kita selaku orang tua untuk mengajarkan anak kita mengenai tugas dan apa yang harus dilakukan dan tidak boleh anak kita terhadap orang tuanya.

Menjadi penting adanya penanaman atau pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai islami terhadap anak-anak kita sejak usia dini. Hal ini penting karena masa kanak-kanak merupakan masa dimana anak memiliki rasa penasaran yang tinggi, sehingga kita perlu mengarahkan dan menjaga rasa penasaran anak kita agar tetap pada hal-hal yang positif. Selain itu kita sebagai orang tua juga harus memberikan contoh mengenai bagaimana kita harus bersikap terhadap orang yang lebih tua terutama terhadap kedua orang tua kita.  Ajaklah anak-anak kita bersilaturahim ke rumah nenek atau kakeknya. Uruslah mereka sebaik-baiknya agar anak kita juga dapat mencontoh apa yang kita lakukan dan anak-anak kita nantinya akan melakukan hal tersebut kepada kita.

Selanjutnya dalam proses membesarkan dan mendidik anak-anak kita sebisa mungkin jauhilah metode yang cenderung kasar dan menggunakan kekerasan. Karena nantinya hanya akan membuat anak merasa takut terhadap kita. Hal ini dikarenakan nantinya tidak menutup kemungkinan bahwa perlakuan kita yang kasar hanya akan membuat anak kita membenci kita dan menjadi seorang “pemberontak” dan jika tidak diawasi dengan benar akan menjurus ke hal-hal yang negatif. Selain itu juga ditakutkan dalam beberapa waktu kedepan ketika mereka sudah berkeluarga, anak kita akan memperlakukan anaknya dengan cara yang sama yang kita lakukan terhadap mereka ketika masih kecil.