Ketika lahirnya sang buah hati rasa bahagia dan gembira di rasakan oleh kedua orang tuanya ,  islam mempunyai tuntunan untuk mengungkapkan rasa syukur dan bahagia atas  kelahiran buah hati tuntutunan tersebut ialah ibadah Aqiqah,   Aqiqah berartimemotong kambing dalam rangka mensyukuri kelahiran sang bayi yang dilakukan pada hari ketujuh dari kelahirannya, aqiqah tidak hanya sebagai sebuah anjuran semata tetapi aqiqah mempunyai keutmaan dan hikmah di dalam nya

Apa sajakah keutamaan dan hikmah tersebut yuk kita simak ulsan berikut ini :

Keuntungan dan Hikmah Aqiqah

  1. Mengabarkan secara tidak langsung tentang nasab sang anak. Hal ini perlu agar tidak dikatakan sesuatu yang tidak ia sukai
  2. Mengikuti ajakan untuk menjadi dermawan dan mengendalikan diri agar tidak bakhil
  3. Adalah kamu Nasrani jika melahirkan anak, mereka mencelupkan anak itu dengan air berwarna kuning yang mereka namakan sebagai pembaptisan. Mereka mengatakan, “Dengan begitu, seorang anak menjadi Nasrani. Serupa dengan hal ini, maka Allah SWTberfirman:

صِبۡغَةَ ٱللَّهِ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ صِبۡغَةٗۖ وَنَحۡنُ لَهُۥ عَٰبِدُونَ ١٣٨

          “Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya                   kepada-Nya-lah kami menyembah,” (QS Al-Baqarah: 138).

Sebab, bagi para pengikut agama yang lurus, setiap bayi yang lahir berarti dalam keadaan suci yang mengikuti agama Ibrahim Alaihissalam dan Ismail Alaihissalam. Amalan yang paling populer yang pernah dilakukan oleh kedua Nabi tersebut—yang terus diwarisi oleh anak cucu mereka adalah penyembelihan terhadap putra beliau. Kemudian, atas nikmat Allah bisa ditebus dengan “penyembelihan yang agung,” yaitu dengan menyembelih kambing. Syariat keduanya yang paling populer adalah ibadah Haji, yang di dalamnya juga terdapat syariat mencukur rambut dan menyembelih korban. Dengan demikian menyerupai keduanya dalam hal ini merupakan bentuk pujian terhadap agama yang lurus, di samping juga panggilan bahwa anak telah melaksanakan bagian dari ajaran agama yang lurus ini.

  1. Aqiqah di masa-masa kelahiran sang anak juga berarti pengorbanan anak itu sendiri di jalan Allah, seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam. Dengan demikian, terus terjadi serial dalam mengikuti contoh kebaikan.
  2. Aqiqah merupakan bentuk mendekatkan diri kepada Allah dari bayi yang dilahirkan di masa-masa awal dia keluar ke alam dunia. Bayi yang dilahirkan jelas mendapat kemanfaatan dari hal itu, sebagaimana doa itu bermanfaat bagi dirinya, begitu juga membawanya ke tempat-tempat ibadah, tempat-tempat suci dan semisalnya.
  3. Aqiqah juga merupakan penebus dari gadaian sang bayi yang dilahirkan, karena bayi itu tergadai oleh aqiqahnya. Imam Ahmad mengatakan, “Dia tergadai (tertahan) dari memberis syafaat kepada orang tuanya.” Sedangkan Atha’ bin Abi Rabbah mengatakan, “Yang dimaksud dengan tergadai dengan aqiqahnya adalah dia tidak akan bisa menerima syafaat dari anaknya.”

Allah ﷻ telah menjadikan ibadah sang anak sebagai sebab untuk membebaskan dari belenggu setan yang telah mengikatkan belenggu itu sedari lahir ke dunia. Aqiqah adalah sebagai tebusan untuk bisa melepaskan diri dari tahanan setan dan dari penjaranya sekaligus penghalang dari upaya setan yang terus ingin merusak masa depan (akhirat) sang bayi. Seakan-akan, sang bayi itu tertahan menunggu disembelihnya setan yang menahannya, karena setan memang telah bersumpah kepada Rabb-nya bahwa ia akan terus menggoda manusia kecuali hanya sedikit saja dari mereka.

Setan senantiasa mengintai bayi yang baru dilahirkan sejak pertama kali keluar ke dunia. Dan ketika sang bayi keluar, maka ia langsung menyerangnya dan berusaha keras untuk menjadikannya berada di dalam genggamannya dan di bawah penguasaannya serta memasukkannya menjadi bagian dari para kekasih dan golongannya.

Setan sangat berambisi untuk melakukan hal tersebut. Dan kebanyakan bayi yang dilahirkan akhirnya menjadi bagian dari tentaranya. Hal ini seperti yang difirmankan oleh Allah SWT:

“…dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka…” (QS Al-Isra: 64).

“Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman,” (QS Saba: 20).

Oleh karena itu, berkenaan dengan tegadainya anak ini, maka Allah ﷻ mensyariatkan kedua orang tua untuk melepaskannya dengan cara melakukan penyembelihan sebagai tebusan. Jika belum disembelih, maka dia masih saja tergadai.

Sekarang masih tersisa pertanyaan, “Apa hikmah dari pengkhususan pada hari ketujuh?”

Syeikh Dahlawi memberikan jawabab bahwa penghususan hari ketujuh itu karena memang harus ada tenggang antara waktu kelahiran dengan aqiqah. Sebab, keluarga tentu masih sibuk mengurus ibu yang melahirkan dan sekaligus anak yang dilahirkan di hari-hari pertama kelahiran. Sehingga, mereka tidak perlu diberi tambahan beban lagi yang akan semakin menambah kesibukan mereka lag. Di samping itu, barangkali dia tidak bisa mendapatkan kambing, kecuali dengan usaha yang keras.

Seandainya hal itu dilakukan di awal kelahiran, maka tentu hal ini akan sangat merepotkan. Tujuh hari adalah waktu yang memadai untuk melakukan persiapan dalam melakukan aqiqah dan juga tidak terlalu lama. Berkenaan dengan pemberian nama, maka karena sang anak sebelumnya belum membutuhkan nama,” (dalam Hujjatullah Al-Balighah: 2/144).

Demikian penjelasan kami tentang keutmaan dan hikamah Aqiqah. Semoga dengan tulisan ini bisa menambah wawasan  Ayah bunda dan menggingatkan pentingnya Aqiqah untuk anak.