(16/8/19)Muhammad Tri Ardiyanto

Assalammualaikum sahabat as shidiq aqiqah..

Doa didalam islam merupakan bentuk komunikasi antara seorang hamba kepada  Allah Ta’ala. Namun, seringkali seorang hamba merasa galau, tatkala jawaban atas sebuah tak kunjung juga terlihat “hilalnya”

Hati pun berbisik,  “Udah  sering doa kok ga diopeni  ya sama Allah?  Bukankah Allah Maha Mendengar kataNya?”

Saat rasa gelisah dan gundah gulana  muncul, disinilah setan mulai bermain. Bagaimana ia bermain? Ya… ia akan bermain dengan bisikan. Senjata andalan ia untuk menyesatkan Bani Adam.  Dalam permainannya tersebut ia pasti akan berbisik,  ”Betapa seringnya kau berdoa tetapi tidak juga juga kunjung mendapat jawaban. Lalu untuk apa kau tetap berdoa?”

Akan semakin parah  kalau setan itu hadir dalam wujud manusia!

Rajin amet tong  ente doa… perasaan yang kemaren juga belum dikabul-kabulin udah minta baru lagi. Gak bosen apa? Hehehe”

Sekarang banyak manusia yang kelakukannya kayak setan bukan?hehehe. Bahkan Allah sudah memperingatkan  jauh-jauh hari dalam surat An-Nas. Ulama kita, Prof Dr Buya Hamka, dalam Tafsir Juz Amma,  menjelaskan dalam Surat penutup ini, Surat 114 (Surat An Nas) kita harus berlindung kepada Allah dari satu macam bahaya yang timbul. Apakah bahaya itu?

Yaitu: “Dari kejahatan bisik-bisikan dari si pengintai-peluang.” (ayat 4).  Ialah orang yang selalu mengintai kalau ada peluang. Yang selalu menunggu moga-moga kita terlengah. Maka saat kita terlengah itulah peluang yang baik baginya untuk membisik-bisikkan sesuatu!

Yang membisik-bisikkan di dalam dada manusia. (ayat 5).  Dia berbisik-bisik, bukan berterang-terang. Dia masuk ke dalam dada manusia secara halus sekali. Dia menumpang dalam aliran darah, dan darah berpusat ke jantung, dan jantung terletak di dalam dada. Maka dengan tidak disadari bisikan yang dimasukkan melalui jantung yang dibalik benteng dada itu, dengan tidak disadari terpengaruhlah oleh bisik itu. Sedianya kita akan maju, namun karena mendengar bisikan dalam dada itu, kita pun mundur.

 Bisikan dalam hati yang menghasilkan ragu-ragu itu sangatlah menurunkan mutu kita sebagai manusia. Dan perasaan yang dibisikkan oleh sesuatu di dalam dada itu telah diberi nama dalam ayat-ayat ini, yaitu waswas!  Dan dia pun telah menjadi bahasa Indonesia kita, waswas.

Siapa yang memasukkan waswas ini ke dalam dada kita?  Ditegaskan oleh ayat terakhir. Dia terdiri: “Daripada jin dan manusia.” (ayat 6).

Si pengintai-peluang (ayat 4) disebut si KHANNAS!

Ada yang halus atau secara halus, itulah yang dari jin.  Ada yang kasar secara kasar, itulah yang dari manusia.

Keduanya membujuk, merayu, setelah memperhatikan bahwa kita lengah.

Karena kelengahan kita, timbullah penyakit waswas dalam dada,

Qatadah menjelaskan: “Di keduanya ada syaitannya. Di kalangan jin ada syaitan-syaitan, di kalangan manusia pun ada syaitan-syaitan.”

Tafsir dari Ustazul Imam Syaikh Muhammad Abduh lebih menjelaskan lagi.  Kata beliau: “Yang membisik-bisikkan (was-was) ke dalam hati manusia itu adalah dua macam. Pertama ialah yang disebut jin itu, yaitu makhluk yang tak nampak oleh mata dan tidak diketahui mana orangnya tetapi terasa bagaimana dia memasukkan pengaruhnya ke dalam hati, membisikkan, merayukan.  Dan semacam lagi ialah perayu yang kasar, yaitu manusia-manusia yang mengajak dan menganjurkan kepada jalan yang salah.”

Jadi dari tafsiran Prof Dr Buya Hamka, setan itu memang ada yang dari kalangan jin dan manusia.. Jadi jangan kaget.

Nah!  agar  tidak ada suudzon dengan Allah. Kita harus tahu dulu bahwa Allah Maha Pemalu. “Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Maha Pemalu. Maha Dermawan. Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala sengaja menerlambatkan doa indah dari hamba agar hambat tetap dalam doanya, Allah ingin melihat keseriusan ia dalam mendekatiNya dan ketahuilah bahwa ada pahala sabar saat menunggu tersebut.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah pernah bersabda,

 “Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” (HR. Ahmad 3/18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid).

Jadi kalau saudara berdoa ketahuilah kemungkinan-kemungkinan pada tiga hal ini. Kalau memang doa tersebut baik menurut IlmuNya maka akan Allah segera kabulkan.

Kalau tidak dikabulkan berhusnudzon lah bahwa doa itu akan diganti hal yang semisal dan setimpal. bisa jadi doa itu akan diganti dengan yang lebih baik ataupun sebagai penolak bala.  Dan yang terakhir, kemungkinan terakhir bila doa itu tidak kunjung datang akan Allah convert menjadi bekal saudara di akhirat.

Memang  menunggu doa bukanlah hal yang mudah..  Oleh karena itu jangan lupa meminta kepada Allah. Agar Allah menguatkan kita dan menghibur kita tatkala menunggu jawab atas sebuah doa tersebut.  Manakala saat setan datang berbisik, “Betapa seringnya engkau berdoa tetapi tidak dikabulkan.”. Jawablah dengan akurat, “Aku yakin bahwa doa itu akan dikabulkan. Kalau tidak didunia maka di akhirat.”

Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat. Insya Allah