Sumber Gambar : Inspirasidata.com

 

22/05/18 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalammualaikum, Ayah dan Bunda Sahabat As Shidiq Aqiqah. Pada kesempatan hari ini As Shidiq akan membahas mengenai doa berbuka puasa yang sesuai sunnah. Seperti yang telah kita ketahui bahwa selama ini ada dua versi doa berbuka puasa yang populer di masyarakat muslim Indonesia. Sehingga tak sedikit yang mungkin merasa kebingungan mana yang benar dan salah. Bahkan ga sedikit juga ada yang curhat sampai  berantem sama  saudara sendirinya karena ribut masalah doa buka puasa.hahahaha… Nah, Biar engga pusing.. As Shidiq akan rangkum untuk Ayah dan Bunda  Bagaimana doa berbuka puasa yang sesuai sunnah Rasulullah SAW melalui penjelasan Ustad Adi Hidayat.

Berikut dua doa berbuka puasa yang dimaksud:

1. “Dzahabadh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah”

(Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah. – HR Imam Abu Dawud Sulaiman (Kitab Sunan Abu Daud No. 2357).

2. “Allahumma laka shumtu wabika amantu wa ‘ala rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar rahimin”

(Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku beriman, dengan rizqi-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mua, wahai Dzat yang Maha Penyayang. – HR Imam Abu Dawud Sulaiman (Kitab Sunan Abu Daud No. 2358).

Menjawab pertanyaan itu Ustaz Adi Hidayat Lc, MA menjelaskan dalam dua hal ini ulama memiliki pandangan berbeda dalam segi kualitas hadisnya.

“Pada doa pertama, umumnya ulama menilai sanad hadisnya tidak banyak dipersoalkan, memiliki kualitas shohih, bahkan dinilai dibacakan oleh Rasulullah SAW. Pada doa kedua, dipandang berbeda oleh para ulama, diperselisihkan riwayat atau validitasnya. Ada segelintir (ulama) yang menilai shahih, tapi juga banyak yang menilai memiliki kelemahan,” jelas Ustadz Adi.

Lalu bagaimana kita menyikapi dua hal ini? Ustaz Adi mengatakan sesungguhnya jika Anda membaca satu di antara keduanya, maka tetap dipandang benar. Tapi kalau Anda ingin keluar dari perselisihan maka kita bisa memprioritaskan doa yang disepakati dan dipandang tidak ada perselisihan di dalamnya.

“Hemat kami Anda bisa memilih doa yang pertama, dan tidak perlu mencela orang yang berdoa dengan yang kedua,”imbaunya

Penulis ingin mengutip perkataan Ustad Abdul Somad ,

“Yang dzahabaz jangan mencela yang Allahumma lakasumtu… yang Lakasumtu pun juga sebaliknya. Kalau keduanya saling mencela nanti yang tepuk tangan yang tak puasa. Umat ini banyak masalah karena suka mempermasalahkan apa yang seharusnya tidak permasalahkan.”

Jangan sampai hanya karena perbedaan pendapat membuat kita saling mencela satu sama lain ya Ayah dan Bunda. Jika kita saling mencela satu sama lain otomatis wibawa agama islam pun akan jatuh dimata umatnya sendiri dan umat lain. Kalau sudah begini apakah kita engga merasa berdosa dan  bikin malu Allah sebagai Sang Pencipta?

Jadikanlah perbedaan sebagai bagian dari Khazanah Islam. Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat bagi Ayah dan Bunda … Insya Allah Aamiin..