21/6/18 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Lanjutan part 2….

Keempat, Dalil telah sampai kepada orang bersangkutan namun dia memahaminya berbeda dengan apa yang dimaksud oleh dalil. Sebagai contoh saat Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Salam pulang dari perang Ahzab, beliau meletakkan perlengkapan perang, Malaikat Jibril datang dan berkata,’’ Kami belum meletakkan senjata. Berangkatlah ke Bani Quraizhah.” Maka Rasulullah memerintahkan para sahabat agar berangkat. Beliau bersabda,

“Jangan ada seseorang pun yang Shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah.” (HR Bukhari, Kitab Al Khusuf, No 946)

Para sahabat berbeda pendapat dalam memahami hadits ini. Diantara mereka ada yang memahami bahwa maksud Rasulullah adalah berangkat bergegas sehingga waktu ashar tidak masuk kecuali mereka sudah di Bani Quraizhah, manakala waktu ashar tiba dan mereka masih dalam perjalanan, mereka melaksanakannya tanpa menundanya hingga waktunya habis.

Namun, diantara mereka ada yang memahami bahwa maksud Rasul adalah agar mereka tidak shalat ashar kecuali bila mereka sudah tiba di Bani Quraizhah, maka mereka menundanya hingga mereka melaksanakannya di sana padahal waktunya sudah habis.

Walaupun, tidak diragukan lagi bahwa yang lebih benar adalah orang-orang  yang shalat pada waktunya. Jadi ini adalah sebab keempat khilaf kekeliruan dalam memahami maksud Allah dan RasulNya.

Kelima, Hadits telah sampai kepada orang bersangkuta, namun hadits tersebut mansukh (diganti hukumnya) dan dia mengetahui dalil yang menasakh (yang menjadi pengangganti hukum). Jadi haditsnya shahih, dipahami dengan benar, namun ia diganti hukumnya, sedangkan pihak yang menerimanya tidak mengetahui bahwa diganti. Dalam keadaan ini dia dimaklumi, karena pada dasarnya adalah bahwa sebuah dalil itu tidak diganti hukumnya sebelum dalil yang menggantikannya diketahui.

Sebagai contoh Ibnu Mas’ud berpendapat tentang apa yang seseorang lakukan saat rukuk. Di awal islam disyariatkan tathbiq (mengumpulkan jari-jemari kedua telapak tangannya, dengan menempelkan bagian dalam telapak tangan satu dengan yang lain, lalu diletakkan di antara dua paha atau dua lutut) bagi orang yang shalat yaitu dengan meletakkan keduanya di antara kedua lututnya, inilah yang disyariatkan di awal islam, kemudian ia mansukh dan yang disyariatkan adalah meletakkan kedua tangan diatas lutut. (Shahih Al Bukhari , Kitab Al – Adzan, no 790).

Sementara Ibnu Mas’ud tidak mengetahui dalil yang me-nasakhnya, maka dia tetap melakukan tahbiq untuk kedua tangannya saat rukuk, lalu Alqamah dan Al Aswad datang dan shalat di sisinya, saat keduanya rukuk, keduanya meletakkan kedua tangan mereka diatas kedua lutut, maka Ibnu Mas’ud melarang mereka dan memerintahkan tathbiq kepada mereka. (Shahih Muslim, Kitab Al Masajid, No 534)

Mengapa Ibnu Mas’ud demikian? Karena dia tidak mengetahui bahwa ia mansukh, dan seseorang itu hanya dibebani sebatas kemampuannya.

Keenam, Seseorang menyakini bahwa dalil itu bertentangan dengan apa yang lebih kuat, baik berupa nash atau ijma. Artinya, dalil telah sampai kepadanya, namun dia melihat bahwa dalil itu bertentangan dengan apa yang lebih kuat baik berupa nash atau ijma. Ini banyak kita jumpai dalam perbedaan pendapat diantara para ulama dan sering juga kita mendegar pihak yang menyatakan ijma, namun saat diteliti ternyata bukan ijma.

Ketujuh, berdalil dengan hadits dhaif atau berdalil dengan hadits shahih namun pengambilan dalilnya tidak tepat. Sebagai contoh : Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa shalat tasbih itu hal yang dianjurkan, caranya seorang tersebut shalat dua rakaat, membaca Al Fatihah pada keduanya, bertasbih sebanyak lima belas kali,… demikian juga dalam rukuk, sujud dan seterusnya. Ada sebagian ulama yang menilai bahwa shalat ini adalah bid’ah, haditsnya tentangnya tidak shahih, di antara yang berpendapat demikian adalah Imam Ahmad yang berkata, “  Ia tidak shahih dari Nabi.”  Kemudian, Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah berkata, “ Haditsnya dusta atas nama nabi. “

Itulah sebab-sebab perbedaan pendapat yang sering terjadi dikalangan para ulama, yang kami rangkum dari Syaikhul Muhammad bin Shalih Al – Utsaimin. Semoga perbedaan pendapat ini tidak memecah kesatuan kita sebagai islam. Sebagai seorang muslim kita haruslah bijak dalam menyikapinya sehingga kedewasaan iman kita semakin bertambah.

Semoga Allah selalu membimbing kita kepada kebenaran.. Insya Allah. Aamiin…