(19/7/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Assalammualaikum, sahabat As Shidiq Aqiqah. Dr Asep Effendi rector dari Universitas Sangga Buana, Bandung, lulusan S2 dan S3 Akuntansi  Universitas Padjajaran ini memiliki strategi yang tak biasa dalam mengatasi krisis dikampusnya.  Asep mengatakan  ia mencari cara dan strategi yang jitu, namun ia meyakini bahwa kondisi ruhaniah lebih baik diperbaiki ketimbang membangun fisik dan image luar. Ia  menerapkan pola illahiah untuk mengundang kekuatan dan bantuan dari Sang Pemberi Segalanya. Beliau mengatakan  “Sebelumnya ada masa dimana mahasiswa kami hanya tinggal 700 an itu pun masih dikurangi yang harus wisuda 250 orang dan dana operasional diperkiraan hanya akan bertahan untuk 7 bulan. Lalu kami melakukan evaluasi dan muhasabah diri untuk mencari terobosan yang mampu menarik minat calon mahasiswa baru,”ujarnya.

Konsep Zakat

Selain menggalakkan Tadabbur Qur’an beliau juga menerapkan konsep zakat dalam mengatasi masalah keuangan yang terjadi di kampusnya.Ia mengatakan hampir semua  perusahaan ketika menghadapi kepanikan dalam masalah keuangan solusi utama yang seringkali dilakukan adalah pemutusan hubungan kerja (PHK). Setelah itu, menghilangkan tunjangan atau fasilitas bagi karyawan.

“Dulu, kami memiliki dana haji dan beberapa tunjangan lainnya bagi karyawan. Saat kondisi terpuruk, dana haji dihilangkan, juga beberapa fasilitas lainnya’’ beber Asep/

Menurutnya, itulah salah satu penyebab yang mengakibatkan pertolongan dan rahmat Allah semakin jauh dari kampus USB.

Kok bisa? “Disinilah konsep zakat berlaku. Allah memerintah para aghniya agar mereka mengeluarkan zakatnya. Lalu, melalui amil, zakat tersebut dibagikan kepada delapan asnaf (orang yang berhak menerima zakat). Para asnaf ini semua berada di level bawah,’’ Katanya.

Suami dari Hami Kusumah ini melanjutkan, Ketika 8 asnaf ini dimuliakan, Maka Allah pun akan memuliakan para aghniya, dengan balasan pahala yang berlipat-lipat.

Keputusan yang diambil oleh Dr Asep Effendi bukan tanpa tentangan. Banyak yang menganggap bahwa ide yang ia buat “nyeleneh”. Saat kampus harus mengerem pengeluaran akibat krisis tetapi yang beliau lakukan justru melakukan “pengeluaran” .

“Bapak dan Ibu saya rasa kita telah zalim dengan pegawai-pegawai kita. Kita kurang memperhatikan mereka. Banyak pemotongan-pemotongan hak yang kita lakukan pada mereka. Sekarang ridha dan ikhlas tidak kalau saudara sekalian berganti posisi seperti mereka?” Ucap Asep

Akhirnya mereka sepakat.”Kita sepakat akan menaikkan uang transportasi karyawan dan dosen-dosen. Begitu seterusnya untuk tahun-tahun berikutnya.” Kata Asep.

Ayah dari tiga anak ini menuturkan, itulah cikal bakal dalam mendongkrak keuangan kampus USB. Jadi, selain memikirkan tentang bagaimana menghadapi persaingan yang semakin ketat, juga harus memenuhi hak-hak karyawan dan dosen yang  tak terpenuhi karena sengaja dihilangkan akibat kepanikan itu.

“Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah kalian, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah kalian.” (Dishahihkan Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 779)

“Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini dengan sebab orang-orang yang lemah dari mereka, yaitu dengan doa, sholat dan keikhlasan mereka.” (HR Nasa’i. 3179)

 

“Alhamdulillah, dari situlah justru terjadi pergerakan ekonomi yang positif. Bahkan orang-orang heran dan bertanya, “Kampus USB itu punya apa?” Asep tersenyum.

“Alhamdulillah setelah menghadirkan konsep Illahiah ini secara utuh ada saja bala bantuan yang didatangkan Allah kepada kita. Ada yang membantu dengan membantu promosi dengan system bagi hasil. Begitu juga datang pihak lainnya menawarkan dengan bantuan system syariah.” Ujar Asep yang menyakini barangsiapa yang menolong Allah. Maka Allah pasti akan menolong hambaNya.

Dalam waktu lima, tahun USB mengalami perkembangan pesat. Kini, Mahasiswa USB berjumlah 4000 orang termasuk para alumni sebanyak 2500 orang, Lalu dari anggaran yang diperkirakan hanya cukup untuk 7 bulan, kini meningkat naik hamper tiga kali lipat.

TEGAS DAN DISIPLIN

Kendati demikian, dalam proses perjalanannya banyak sekali lika liku yang harus dihadapi. Dalam menerapkan kebijakan, ada saja karyawan yang menolak bahkan berontak.

Ia meyakini bahwa umat islam harus memiliki seorang pemimpin yang tegas dan disiplin. Kedua prinsip itu ia terapkan dalam kepemimpinannya sebagai rector. Asep bercerita, suatu ketika pernah ada seorang karyawan yang protes dan mengatakan,”Masa mengaji harus disuruh rector? Mengaji itu kan urusan pribadi”

Pada pertemuan berikutnya, sebelum memulai kegiatan dosen dan karyawan mengaji, Asep dengan tegas berbicara,” Jika bapak dan Ibu di Yaumul Hisab tak akan menuntut saya, silakan keluar dari ruangan ini! Tapi jika kelak bapak dan ibu menuntut saya dihadapan Allah karena saya tak mau membimbing bapak dan ibu, maka tetap duduk disni kita mengaji bareng.”

Sejak kejadian itu, ternyata tak pernah ada lagi karyawan yang protes bahkan melontarkan alasan-alasan yang tak masuk akal supaya absen dari kegiatan rutin Jumat Mengaji.

Dengan cara ketegasan dan kedisiplinan seperti itulah Asep mampu menegakkan sebuah kebijakan yang telah dibuat. “Kalau waktu itu saya bilang, yasudahlah ngajinya ditidiakan. Itu akan merusak kedepannya. Mereka pasti akan meminta toleransi yang jauh lebih besar.” Pungkasnya.

Dari sini kita bisa belajar sahabat bahwa ternyata yang membuat rezeki kita dimudahkan adalah  keberadaan orang – orang lemah diantara kita. Yang kerap kali mungkin kepasrahannya selalu mengalahkan akalnya. Dengan memperhatikan mereka kita sama juga telah berusaha untuk mendapatkan ridho keikhlasan mereka.

Semoga menginspirasi ya sahabat… Libatkanlah Allah dalam segala aktivitas kita… jika memiliki kekuatan berupa kebijakan maka gunakan kebijakan itu  sebagai alat untuk menolong agama Allah.

Sumber :

Suara  Hidayatullah, Edisi “Aibmu Auratmu”.