sumber gambar :merdeka.com
29/05/18 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalammualaikum, Sahabat As Shidiq Aqiqah. Mungkin kelihatannya sepele bila doa tidak didengar Allah. Tapi sebenarnya kalau kita mau merenung kemalangan paling besar dalam kehidupan ini adalah bila permohonan dan doa kita sudah tidak dihiraukan lagi oleh Allah. Artinya sama saja hidup sudah tidak diopeni oleh Allah.

Jangankan Allah, kita enggak diopeni mertua saja udah mumet luar biasa. Ini kok mertua diam saja. Mbok kalo saya salah ngomong toh, apa salah saya? Kalau ada yang dipengen ngomong toh. Nah, Apalagi bila tidak diopeni lagi oleh Allah. Ini semalang-malangnya kemalangan hidup seorang hamba.

Al – Imam Al Faqih Abu Laits, pernah ditanya oleh seseorang,

A : “Ya imam di dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman,’Ud’uni astajib la Kum’ Berdoalah kepada-Ku, Aku akan jawab doamu. Mintalah kepadaKu, Aku kabulkan permintaanmu. Saya sudah berdoa sejak lama tapi kenapa sampai sekarang belum di kabulkan?”

Al Imam Al Faqih Abu Laits dengan tersenyum berkata, “Tuan, tahu kenapa doa tuan tidak dijawab? Permohonan tidak dikabulkan? Allah sudah tidak memedulikan tuan”

A : “Maksudnya?

Al Imam Al Faqih pun menjelaskan, “Hmm begini.. mungkin hati tuan telah mati. Apabila hati telah mati padahal jasad masih hidup, tuan tidaklah  jauh berbeda seperti bangkai yang berjalan di hadapan Allah Ta’ala. Banyak manusia sibuk dengan menggali berbagai macam jenis obat jasmani hingga lupa bahwa yang menghancurkan kehidupannya kelak di akhirat adalah penyakit batin

A : “ Kalau begitu wahai imam, apa yang menyebabkan hati saya mati?”

Beliau pun menjawab,

Pertama, Kamu kenal benar Allah tapi hak-Nya untuk disembah, kewajibanmu untuk menyembah tidak pernah kamu laksanakan. Bagaimana Allah tidak akan jauh dari kita kalau kita tidak melakukan pendekatan kepadaNya? Mendekati Allah bisa ditempuh dengan ibadah. Allah akan terasa jauh bila kita hanya membicarakannya lewat filsafat dan renungan-renungan yang mendalam. Tapi Allah akan dekat dan terasa hadir dalam pelaksanaan ibadah kepadaNya. Analoginya sama saja dalam kehidupan kita. Wong enggak kenal sama saudara, tahu-tahu ada orang dating mau pinjem duit. Kira-kira apa kesan saudara? Berkunjung enggak pernah, ngobrol enggak pernah, kenal juga enggak, datang-datang pas ada butuhnya aja. Apa engga minta dijitak itu? Hehehe…

Kedua, Kamu baca Al Qur’an tapi ajarannya tidak pernah kamu amalkan. Mengaku umat Muhammad tetapi cinta berlebih kepada dunia. Harta yang tadinya adalah alat malah dijadikan tujuan. Mengaku umat Muhammad tetapi Amar ma’ruf dan nahi munkar ditinggalkan, hilanglah kberkahan wahyu. Al- Qur’an diseminarkan, disimposiumkan, dimuktamarkan tapi tidak dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila Amar ma’ruf dan nahi munkar ditinggalkan maka orang akan menilai kebaikan dan keburukan sesuai selera mereka sendiri. Agamanya adalah otaknya pribadi, berhalanya akal. Akhirnya umat kehilangan tolak ukur yang jelas dalam mengukur batas yang ma’ruf dan mungkar. Akibatnya pasti akan terjadi penjungkiran nilai. Parahnya yang mar’uf mungkin akan dianggap mungkar dan yang mungkar dikatakann ma’ruf. Mengaku umat Muhammad tetapi saling mencela satu sama lain. Apabila umat Islam sudah saling menghujat satu sama lain maka jatuhlah mereka dalam pandangan Allah. Hilanglah wibawa umat ini. Islam mengajarkan kita untuk saling asah asih asuh, tetapi yang dipratekkan justru saling gasak, kedua saling gesek, yang ketiga saling gosok.

Ketiga, Mengaku umat Muhammad tetapi sunnahnya tidak pernah kamu amalkan. Perkembangan paling mutakhir malah banyak yang mengingkari sunnah. Menganggap bahwa sumber hukum islam yang autentik hanyalah Al- Qur’an. Sering mempertanyakan hadits Rasulullah karena nabi dianggap seperti manusia biasa yang bisa salah dan ternyata banyak hadits palsu.  Bagaimana  hati tidak mati kalau siang malam kita mengaku umat Rasulullah tapi sunnahnya kita campakkan, abaikan, dan ingkari? Nabi memang seperti kita memiliki darah, hati, daging, jantung, bisa sedih dan juga senang. Namun, beliau termasuk basyarun la kal basyar, manusia yang tidak seperti manusia pada umumnya. Ibarat sebuah batu apakah nilai dari batu kali sama dengan batu zambrut? Jelas berbeda. Kualitasnya pun berbeda.

Keempat, Setiap hari kamu makan nikmat Tuhanmu, tapi kamu tidak pernah mau bersyukur kepadaNya. Bersyukur tidak cukup hanya melalui ucapan tetapi juga harus dibuktikan dengan perbuatan. Makin banyak nikmat yang diterima makin banyak dia sujud, makin banyak dia ruku dan makin banyak dia melakukan pendekatan kepada Allah Ta’ala.

Kelima, Memproklamirkan diri ingin selamat dari neraka tapi malah melemparkan diri sendiri ke neraka. Kemudian, disambung oleh Al Imam Al Faqih Abu Laits, kamu ingin masuk surge tapi berat melakukan perbuatan yang bisa menyampaikan kamu ke surga.

Bagaimana Jalan Keluarnya?

Pertama, perbaiki batin kita sendiri. Selamatkan diri dari penyakit-penyakit yang penulis telah jabarkan diatas. Kedua, berdoalah dengan adab. Al – Imam Al Ghazali dalam Kitab Ihya yang disebut Adabud doa, adab doa kepada Allah Ta’ala menjelaskan bahwa doa itu sendiri memiliki adab. Antara lain :

  1. Berdoa hendaklah memilih wakty yang mulia. Seperti bulan Ramadhan, Jumat dalam tiap minggu, 1/3 malam terakhir. Berdoa di waktu lain tidak masalah tetapi ada keutamaan tersendiri diwaktu-waktu tersebut.
  2. Memilih keadaan yang istimewa. Seperti saat turun gerimis, Sholat hendak didirikan.
  3. Berdoa menghadap kiblat.
  4. Menyederhanakan suara.
  5. Berdolah dengan tadharru dan khusyuk dan tawaduk. Memintalah dengan baik-baik seperti kalau kita bermohon juga kepada seseorang. Sebab kita akan bermohon kepada yang serba-Maha.
  6. Yakinlah bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Sebab dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. HR. Tirmidzi no. 3479, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).Ingat!  Allah tergantung pada perasangka si hamba.

7.Hendaknya saat berdoa mulai dengan menyebut nama Allah, berzikir kepada Allah. Jangan langsung memulai dengan permintaan. Ini tata krama. Sama seperti orang kirim surat. Salam sejahtera kami haturkan…. Besar Harapan kami semoga bapak dan sekeluarga disini pun berada dalam keadaan sehat wal’afiat…. Nah jadi berdoa kepada Allah pun ada kode etiknya. Umumnya saat ingin berdoa dimulai dengan Alhamdulillahi rabbil alamin, kita puji Allah dulu. Alhamdulillah rabbil alamin hamdan yuwafi ni’amahu wa yukafi-u mazidah, kita puji Allah dahulu.

  1. Apabila kita pernah berbuat dzalim pada seseorang maka bertobatlah dan cari keridoaan orang yang kita dzalimi tersebut.

 

Apabila adab-adab dalam berdoa ini kita perhatikan sejak adab yang zahir hingga batin, dan penyakit-penyakit yang membuat hati menjadi mati itu kita hindari, Insya Allah doa kita akan dijabah Allah Ta’ala. Dalam Surah Al Baqarah ayat 186 Allah Ta’ala berfirman :

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”