Assalammualaikum, Ayah Bunda sahabat As Shidiq Aqiqah. Dalam artikel hari ini, As Shidiq akan membahas mengenai sunnah yang seharusnya dikerjakan setelah anak  lahir. Sejauh ini mungkin sebagian besar dari kita hanya mengetahui aqiqah. Yaitu kegiatan menyembelih kambing/domba dihari ketujuh setelah anak kita lahir.

Tapi kalau  Tahnik?  Ayah Bunda sudah mengetahuinya belum? Nah, kalau belum tahu kami akan menjelaskannya kepada Ayah dan Bunda.

Ulama kita yaitu Ibnu Hajar Al – Asqalani dalam Kitab Fathrul Barinya  menjelaskan,

“Tahnik ialah mengunyah sesuatu kemudian meletakkan/ memasukkannya ke mulut bayi lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit mulut. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar bayi terlatih dengan makanan, juga untuk menguatkannya. Yang patut dilakukan ketika mentahnik hendaklah mulut (bayi tersebut) dibuka sehingga (sesuatu yang telah dikunyah) masuk ke dalam perutnya. Yang lebih utama, mentahnik dilakukan dengan kurma kering (tamr). Jika tidak mudah mendapatkan kurma kering (tamr), maka dengan kurma basah (ruthab). Kalau tidak ada kurma, bisa diganti dengan sesuatu yang manis. Tentunya madu lebih utama dari yang lainnya”.

Lalu, siapakah yang mentahnik bayi tersebut?

Ada berbagai pendapat dalam masalah ini. Ada pendapat bahwa idealnya yang mentahnik adalah orang-orang yang dikenal soleh. Sehingga bisa diminta do’a keberkahannya, terserah yang mentahnik tersebut pria  atau wanita. Jika orang soleh tersebut tidak hadir, maka hendaknya bayi tersebut yang didatangkan ke orang sholih tersebut.

Namun, pendapat yang lebih tepat adalah tahnik tidak dipersyaratkan dengan orang soleh. Syaikh Abdul Muhsin al-Badr menjelaskan bahwa tahnik ini dilakukan oleh orang tua (bapak atau ibu) si bayi. Tidak disyariatkan membawanya kepada orang shalih untuk mentahnik bayinya agar mendapatkan keberkahan dari air liur yang bercampur dengan kurma yang dikunyahnya.

Waktunya?

Para ahli fikih sepakat menyatakan waktu tahnîk bayi itu dilakukan disaat bayi baru lahir.

Yuk! Ayah Bunda kita hidupkan kembali sunnah nabi yang ditinggalkan.  Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun“ (HR Ibnu Majah (no. 209),  Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab “Shahih Ibnu Majah” (no. 173).

Agar Ayah dan Bunda lebih paham, berikut kami lampirkan video penjelasan mengenai cara mentahnik :

https://www.youtube.com/watch?v=PT4FOpWE81M&t=91s