Sumber : Hidayatullah.com
19/04/2018 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalammualaikum Ayah dan Bunda sahabat As Shidiq Aqiqah. Kematian.. Ya… Kematian adalah rahasia ghaib yang hanya diketahui oleh Allah. Seorang Rasul pun tidak mengetahui kapan, dimana dan bagaimana ia akan mengalami kematian. Ia datang secara tiba tiba tanpa pandang usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan dan gelar lain yang disandang manusia.

Boleh jadi seorang mengidap kanker dan divonis dokter usianya tak lebih dari sebulan, ternyata masih segar bugar dalam dalam menjalani beberapa tahun usianya.

Boleh jadi seorang tua yang renta pikun dan lumpuh, masih mendapat jatah umur beberapa tahun lagi. Sementara cucunya yang keseratus, yang sedang belajar berjalan dan tengah lucu-lucunya meninggal lebih dahulu karena perkara sepele. Sehat, sakit, tua dan muda, anak-anak dan dewasa, laki-laki dan perempuan, pandai dan bodoh, kaya dan miskin. Semuanya mempunyai kemungkinan untuk dijemput malaikat maut secara mendadak.

Oleh karenanya dalam banyak Al Quran, Allah memerintahkan hambaNya untuk segera beramal salih dan tidak menunda-nunda sebelun kematian datang. Sebab setelah kematian datang, segala taubat amal shalil tidak lagi diterima. Penyesalan tidak lagi berguna.

Kita Hidup Bukan Karena Kita Sehat

Kita Hidup Bukan Karena Kita Muda

Kematian Tidak Menunggu Tua dan Sakit

Jika Kematian Menunggu Tua dan Sakit

Niscaya Tiada Yang  Akan Mati Di Waktu Muda Dan Sehat

Kita Hidup Dan Mati Karena Ketentuan Allah

Dalam banyak hadits yang shahih, Rasulullah juga acapkali mengingatkan umatnya untuk tidak panjang angan-angan, segera bertaubat dan beramal, serta banyak-banyak mengingat kematian. Banyak mengingat kematian akan mendorong seorang untuk pendek angan-angan, giat beramal shalih dan sanggup meninggalkan bujuk nafsu syaiton.

Dari  Anas bin Malik, ia berkata,” Rasulullah membuat banyak garis, lalu bersabda,’ Ini adalah angan-angan manusia, dan ini adalah kematiannya. Tatkala ia mengejar angan-angannya, garis yang lebih dekat (kematian) datang menjemputnya (HR Bukhari no 5939).

sumber : google.com

 

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata:” Rasulullah menggambar sebuah kotak, dan membuat sebuah garis di tengahnya yang panjang sehingga keluar dari tengah kotak. Beliau lantas membuat banyak garis kecil disebelah kanan dan kiri dari garis yang ditengah kotak. Beliau lalu menerangkan makna gambar yang dibuatnya. Beliau bersabda,” Ini adalah manusia, dan ini adalah kematian yang telah mengepungnya. Garis ditengah yang keluar dari kotak ini adalah angan-angannya, sedangkan garis-garis kecil yang melintang ini adalah berbagai halangan yang merintanginya. Bila ia lolos dari satu halangan, halangan lain akan mengenainya. Bila halangan satu berhasil ia lewati, niscaya halangan yang lain telah menyambutnya.” (HR Bukhari no. 5938).

Gambar kotak adalah batas usia manusia, garis tebal yang memanjang sampai keluar kotak adalah angan-angan manusia yang panjang, dan garis-garis pendek yang melintang adalah berbagai halangan dan rintangan dalam usaha manusia menggapai cita-citanya.

Hadits ini menggambarkan keadaan mayoritas manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Betapa hidup manusia diwarnai angan- angan. Angan-angan untuk memiliki emas,anak-anak, istri yang cantik, dan kenikmatan hidup lainnya.

Manusia berusaha menggebu-gebu untuk meraih semua angan-angannya. Padahal untuk menggapainya, manusia harus jatuh bangun melewati berbagai rintangan. Sakit, jatuh miskin, terlibat penipuan, kezhaliman dan sebagainya. Bila satu rintangan terlewati, maka niscaya rintangan lainnya sudah datang menyambut. Salah satu rintangan tersebut adalah kematian yang akan memutus segala usahanya. Pada saat itulah jerih payah akan berakhir.

Kematian adalah hal yang sangat dekat dengan manusia namun seringkali jauh dari fikiran manusia. Hal ini karena manusia seringkali terlalu menggebu-gebu dalam meraih angan-angannya yang muluk-muluk. Oleh karena itu, Rasulullah memerintahkan umatnya untuk banyak mengingat perusak nikmat dan pemotong segala angan-angan yaitu kematian. Sebagaimana dalam hadits shahih yang berbunyi,” Perbanyaklah oleh kalian mengingat perusak kelezatan yaitu  kematian.” ( HR Tirmidzi no 2229).

Daftar Referensi :

Buku Hidup Sesudah Mati- Ustadz Abu Fathiah

Aplikasi Android, “Ensiklopedi Hadits”