(20/10/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Sahabat As Shidiq Aqiqah.

Siapa yang tak ingin di pahamkan masalah agama?Setiap dari kita yang telah merasakan nikmatnya dekat Allah pasti ingin dipahamkan masalah agama. Ketika kita  dipahamkan masalah agama setiap amal yang kita lakukan pasti akan terasa berbeda di hati. Ada kenikmatan tersendiri yang dirasakan. Karena kita telah mengetahui faedah dari amal yang kita lakukan tersebut. Misal seperti dari segi dampak, manfaat mengerjakannya dan mudarat jika mengerjakan yang diharamkan.

Namun, Sebagai seorang penuntut ilmu,  hasrat untuk berpetualang sering kali dihadapkan rasa malas, enggan  mengeluarkan dana membeli rujukan, sulit paham, sulit menghafal, dan lain sebagainya.

Untuk menghadapi ini semua, Dalam sebuah ceramahnya Ustadz Adi Hidayat memberikan tips kepada kita. Dalam sebuah ceramahnya beliau mengatakan, “Usahakan setiap akan berlajar amalkan doa ini. Saya membiasakan dan Ibunda saya mengajarkan doa ini. Dan doa ini diajarkan Rasulullah kepada Ibnu Abbas.”

Doanya adalah sebagai berikut:

“Allaahumma faqqihhu fid-diin- wa ‘allimhu fit-ta’wiil”

Artinya “Ya Allah, berikan dia keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab-Mu.” Ayah-Bunda bisa mengamalkan doa ini untuk si kecil. Tetapi kalau untuk diri sendiri rubah menjadi seperti berikut

Allahumma Faqqihni fid diin wa allimni ta’wiil.

Dari hasil doa Rasulullah tersebut,  Sudah tahu secerdas apa Ibnu Abbas akhirnya? Berikut kisahnya :

Umar bin Khaththab r.a. mengajak Ibnu Abbas r.a. ke sebuah majelis yang dihadiri orang-orang dewasa. “Mengapa anak kecil ini engkau bawa kemari wahai umar?”, kata salah seorang di dalam majelis tersebut. Bukannya menjawab pertanyaan tersebut, Umar malah menyampaikan firman Allah,  “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An Nashr: 1-3). “Bagaimana penafsiran ayat ini menurut kalian?”, tanya Umar.

Di antara mereka ada yang menjawab, “Kita diperintahkan untuk memuji Allah dan bertaubat kepada-Nya, ketika kita diberi pertolongan dan kemenangan”. Sebagian lagi menjawab, “Kami tidak tahu”. Lalu Umar melirik Ibnu Abbas sambil bertanya, “Beginikah penafsiranmu tentang ayat ini?” “Tidak”, jawab Ibnu Abbas. “Surat tersebut adalah pertanda wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah dekat. Allah memberitahunya dengan ayatnya: “Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan’, itu berarti penaklukan Makkah dan itulah tanda ajalmu (Muhammad), karenanya “Bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan, sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat”, tutur Ibnu Abbas. “Aku tidak tahu penafsiran ayat tersebut selain seperti yang engkau ketahui“, kata Umar.”(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, hadits no. 4294)

Ibnu Abbas telah mengajari kepada kita bagaimana seharusnya seorang mukmin berpikir, memupuk pemahaman, dan menyampaikan argumentasi. Pernah suatu ketika ia ditanya cara mendapatkan ilmu. Dengan begitu meyakinkan beliau menjawab, “Dengan lidah yang banyak tanya dan hati yang banyak paham”. Sederhana memang. Tetapi itulah kuncinya. Kecemerlangan berpikir dan hebatnya argumentasi tidak datang dengan sendirinya, ia harus diusahakan. Kematangan intelektual pun tidak lahir dengan begitu saja, ia didapat setelah berlelah-lelah dalam ber-tafaqquh. Jika ingin memahami agama ini dengan baik, maka tirulah kepada Ibnu Abbas r.a., belajarlah kepada sepupu Nabi yang satu ini.

Oleh Karena itu, setelah berdoa jangan lupa  beriktiar untuk mengejarnya. Bisa dengan berguru, ikut majlis ilmu, memasukkan anak ke pesantren dan lain sebagainya.

Demikian tulisan kami hari ini. Semoga bermanfaat.