ilmu-dan-harta

Banyak dari orang tua lebih mementingkan fisik atau material ketimbang spiritual atau ruhani dalam mendidik buah hatinya. Sang anak diberikan baju baru yang indah disaat ulang tahun. Orang tua sangat cemas bila anaknya sakit, lalu diantarlah anaknya ke rumah sakit termewah dan terlengkap fasilitasnya. Sang anak diberi uang jajan yang kadang berlebihan tiap harinya. Tidak lupa pula diharuskan les vokal, balet, dan lain sebagainya.
Hal-hal di atas tidaklah salah, tetapi jika memberikan perhatian secara tidak seimbang antara jasmani dan ruhani atau material dan spiritual, itulah yang tidak benar. Seharusnya anak dimasukkan ke TPA atau madrasah disamping diberi les mental aritmatika, agar terjadi keseimbangan antara Intelligence Quotion ( IQ ) dan Spiritual Quotion ( SQ ).

Disamping memberikan nafkah atau sebagian harta kepada anak sebagai wujud tanggung jawab orang tua, alangkah baiknya jika para orang tua menanamkan di benak anaknya kecintaan terhadap ilmu.buang-sial-dengan-ilmu-hikmah

perbedaan ilmu dan harta menurut Ali bin Abi Tholib

Ilmu tidak akan habis jika diamalkan,tapi justru akan sebaliknya. Ilmu itu lebih mulia kedudukannya daripada harta. Coba kita simak bagaimana ungkapan Ali bin Abi Thalib mengenai harta dan ilmu ini.

Dikisahkan ada sepuluh orang Khawarij datang mengunjungi tempat Ali bin Abi Thalib. Mereka bermaksud menguji sejauh mana kedalaman ilmu yang di kuasai oleh Ali bin Abi Thalib. Mereka penasaran karena Rasulullah saw dalam sabdanya pernah menggambarkan bahwa bila beliau adalah kota ilmu, maka Ali adalah pintunya.

“Hai Ali, manakah yang lebih mulia, ilmu atau harta benda, dan terangkan sebab-sebabnya?” ujar salah seorang dari mereka. Diantara 10 jawaban Sayyidina Ali adalah,

  1. “Pengetahuan dan ilmu adalah warisan para nabi. Sedangkan harta kekayaan adalah warisan Fir’aun, Qorun, Syadad, dan sejenisnya. Maka ilmu lebih mulia daripada harta.” Lalu Ali menguraikan penjelasannya :
  2. Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena ilmu bisa memelihara empunya. Sedangkan harta, empunya yang harus menjaga.
  3. Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena orang yang berilmu banyak sahabatnya. Sedangkan orang yang banyak hartanya kebih banyak musuhnya.
  4. Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena ilmu hanya diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang dicintaiNya. Sedangkan harta diberikan oleh Allah kepada orang, baik yang dicintai maupun yang tidak dicintaiNya.
  5. Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena ilmu bila disebarkan akan bertambah. Sedangkan harta jika disebarkan atau dibagikan akan berkurang.
  6. Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena ilmu tidak dapat dicuri. Sedangkan harta dapat dicuri dan dapat hilang.
  7. Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena ilmu tidak dapat binasa dan tidak dapat habis selamanya. Sedangkan harta benda bisa habis dan bisa lenyap karena masa atau usia.
  8. Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena ilmu memberi sinar kebaikan, menjernihkan pikiran dan hati serta menenangkan jiwa. Sedangkan harta benda pada umumnya menggelapkan jiwa dan hati.
  9. Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena orang yang berilmu lebih terdorong untuk mencintai Allah, merendahkan diri, dan bersifat perikemanusiaan. Sedangkan harta benda membangkitkan orang pada sifat-sifat sombong, congkak, takabur, dan angkuh.

9630012011102513harta

 Di bawah ini uraian beberapa perbedaan ilmu dan harta

– Ilmu itu akan menjaga kita sedangkan harta kita yang menjaganya.

Bagaimana tidak? Melalui ilmulah kita tahu apa-apa yang baik buat kita dan hal-hal yang berakibat buruk pada kita. Dengan pemahaman yang mendasar serta mengimplementasikan di keseharian kita, Insya Allah kita akan terjaga dan berada di rel-rel kebenaran.
Sedangkan harta, kitalah yang menjaganya, kalau kita lengah dalam pengelolaannya, maka hampir dapat dipastikan harta kita akan terkuras habis. Kesimpulannya, harus mempunyai kecerdasan finansial untuk memanage harta kita. Dan kecerdasan finansial didapat dari ilmu.

– Ilmu akan bertambah bila disampaikan sedangkan harta akan habis bila dibelanjakan.

Penulis pernah menjadi asisten dosen pada sebuah perguruan tinggi diwaktu menjadi mahasiswa tingkat akhir. Menurut pengalaman penulis sendiri, setelah mentransfer ilmu yang sudah penulis dapat ke adik-adik mahasiswa, pemahaman terhadap ilmu tersebut menjadi mendalam dan semakin mudah untuk merangkaikan antara suatu bab dengan bab yang lain sehingga lebih hapal dan lancar untuk menyampaikannya kepada orang lain.
Bila harta di belanjakan, terutama oleh orang yang sudah tercemar budaya konsumerisme apalagi tidak mampu mengelola harta yang diamanahkan kepadanya dengan baik, percayalah bahwa harta tersebut akan habis sia-sia.

– Ilmu dapat menghakimi harta sedangkan harta tidak dapat menghakimi ilmu.

Di dalam agama Islam, terdapat hukum tentang zakat. Diantaranya adalah zakat maal ( harta ) yang dikeluarkan 2,5% harta kita untuk orang yang membutuhkan. Syarat dikeluarkannya zakat itu adalah bila sudah mencapai satu tahun dan harta kita minimal senilai kira-kira 80 gram emas. Selain itu ada hukum tentang warisan, hibah, infak, sedekah, dan lain-lain. Ilmu-ilmu tersebut harus kita pelajari dan amalkan bila ingin memiliki kecerdasan finansial yang mumpuni.

– Pemilik harta jika wafat terpisah dengan hartanya sedangkan ilmu bermanfaat tidak akan terputus hubungannya dengan sang pemilik walaupun pemiliknya sudah wafat.
Kita semua pasti akan mati, dan itu pasti. Apakah yang akan kita bawa ke kampung akhirat nanti ? Apakah harta yang kita kumpulkan dengan susah payah akan menemani kita ? Tentu tidak, harta tersebut tentu akan diwariskan kepada suami/istri, anak-anak, dan kerabat kita.
Ilmulah yang menemani kita di kampung akhirat nanti, karena melalui ilmulah kita tahu bekal-bekal apa saja yang harus dibawa ke tempat kita kembali nanti. Suri tauladan kita ( Rasulullah ) bersabda yang intinya: jika manusia mati, akan terputuslah amalnya di dunia, kecuali tiga yang salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat.

– Ilmu akan menyempurnakan seseorang sedangkan harta tidak bisa menyempurnakan seseorang dan kalaupun bisa hanya memperbagus fisik atau penampilannya saja.
Melalui ilmu yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari lahirlah seorang manusia yang paripurna, pribadi yang dapat membuat dirinya mengarah ke kurva kebaikan dan kemudian menyebarkan kepada orang lain.

– Ilmu yang bermanfaat diperoleh hanya orang-orang terpilih saja sedangkan harta didapat oleh semua orang baik itu orang baik, orang jahat, dan lain-lain.

Benarlah apa yang disebutkan di atas, bahwa ilmu yang bermanfaat hanya untuk orang-orang pilihan, bagaimana tidak? Hanya orang-orang yang disiplin dan mencintai ilmulah yang dapat memperoleh pemahaman ilmu. Merekalah orang terpilih untuk mendapatkan pemahaman terhadap ilmu, sebab tidak semua orang mendapatkannya, sedangkan harta bisa didapat oleh siapa saja apakah itu penjahat, penjambret, koruptor, pedagang, penipu, pegawai, dan lain-lain.

Ilmu akan membawa seseorang tawadhu/rendah hati dan melaksanakan ibadah sedangkan harta dapat membawa seseorang kepada perbuatan sombong, angkuh dan melewati batas.
Seperti yang sudah dikupas sebelumnya, ilmu yang dihayati oleh para penuntut ilmu membuat orang tersebut menjadi lebih rendah hati. Ibarat padi, semakin berisi semakin merunduk.
Semakin banyak harta yang digunakan oleh orang yang tidak mengerti hakikat harta sebenarnya, semakin membuat orang tersebut sombong dan angkuh.

Dari uaraian di atas mengigatkan kita, bahwa kita harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat nanti tetapi jangan lupakan pula kehidupan dunia yang kita jalani sekarang. Letakkanlah harta / kehidupan dunia di tangan kita jangan di hati kita, agar kita senantiasa dapat melepasnya dengan sabar apakah itu dalam rangka sedekah, infaq, zakat ataupun jika kehilangan. Letakkan ilmu di hati kita agar senantiasa hapal sampai alam bawah sadar kita sehingga dengan mudah menjalankan apa yang sudah kita ketahui.