(12/11/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Imam Al Bazzar, ulama ahli hadits yang tinggal di Mekkah ketika masih muda pernah menderita kelaparan. Rumahnya tiada sesuatu pun yang bisa dimakan, Kemudian ia keluar untuk mencari makanan. Tiba-tiba ditengah jalan ia menemukan sebuah kantong sutra. Dan didalam kantong tersebut berisi banyak mutiara. Karena bukan haknya, maka kantong ia simpan dirumahnya.

Ia pun kembali keluar. Diperjalanan ada seorang kakek yang menyeru,” Barangsiapa yang menemukan sebuah bungkusan yang berisinya demikian, maka baginya 500 dinar emas !”

Al Bazzar berkata kepadanya, “Kemarilah kerumahku !” Kemudian ia menanyai kakek tersebut serta ciri-ciri kantongnya, serta ciri-ciri mutiara yang ada didalamnya. Ternyata sama persis dengan yang ditemukan oleh Imam Al Bazzar.

Al Bazzar kemudian memberikan kantong itu kepadanya. Karena barangnya berhasil ditemukan, sesuai janji sang kakek. Ia memberikan 500 dinar tersebut kepada Al Bazzar. Namun, Al Bazzar menolaknya seraya berkata, “Sudah menjadi kewajibanku mengembalikannya kepadamu, dan aku tidak akan mengambil balasan kecuali dari Allah.”

Berlalulah hari demi hari, hingga pulanglah sang kakek ke negerinya setelah musim haji.

Suatu hari Al Bazzar keluar kota Mekkah dengan menumpang sebuah kapal. Ditengah laut, kapal itu tenggelam. Namun Al Bazzar selamat dengan berpegangan di atas sebuah potongan papan kapal. Ia terdampar disebuah pulau yang penduduknya banyak tidak bisa membaca membaca dan menulis.

Kemudian, ia mengajari penduduk tersebut membaca Al Qur’an dan menulis disana. Keikhlasan Imam Al Bazzar dalam mengajarkan para penduduk, membuat para penduduk sangat berharap sekali agar imam Al Bazzar dapat menetap di daerah mereka, Mereka berkata kepada Al Bazzar, ” Kami memiliki seorang anak wanita yatim dan dia memiliki peninggalan harta yang banyak. Kami ingin kau menikah dengannya dan engkau tinggal disini bersama kami.”

Al Bazzar berusaha menolaknya tetapi mereka mendesaknya dan akhirnya Al Bazzar memenuhi permintaan mereka.

Ketika pernikahan tersebut berlangsung, Al Bazzar justru fokus melihat kalung mutiara yang melekat pada calon istrinya tersebut. Maka berkatalah mahram si perempuan.”Wahai syaikh, engkau telah menghancurkan hati wanita yatim ini, engkau bukan melihat kepadanya tetapi malah sibuk memperhatikan kalungnya.”

Al Bazzar berkata,”Sesungguhnya aku memiliki kisah dengan kalung tersebut.”

Ia bercerita kisah kalung mutiara yang pernah ditemukannya. Setelah mendengar kisah itu, para tamu langsung mengucapkan tahlil, takbir, dan tasbih hingga suara mereka mencapai setiap penjuru pulau.

Al Bazzar kebingungan dan bertanya,” Ada apa dengan kalian?’ Mereka menjawab,”Sesungguhnya kakek yang engkau lihat, dan telah mengambil kalung darimu di mekkah itu adalah ayah dari dari wanita yatim ini. Dulu dia berkata sekembalinya dari haji dan terus menerus mengulang-ulang perkataannya, ‘Demi Allah, aku belum pernah melihat sekali pun di muka bumi ini seorang pemuda muslim seperti dia (Al Bazzar). Yang mau mengembalikkan kalung mutiara ku dan menolak hadiah yang kuberikan padanya. Ya Allah, kumpulkanlah antara aku dengannya hingga aku nikahkan dia dengan putriku’ Laki – laki tersebut telah meninggal dan sekarang Allah telah mengabulkan doanya.”

Dan akhirnya Imam Al Bazzar tinggal bersama istrinya dan dia adalah sebaik-baiknya wanita. Mereka diberi dua orang putra.

Hikmah dari kisah Imam Al Bazzar,  lakukanlah amalan-amalan ajaib jika kita juga ingin ditolong Allah secara ajaib. Contohnya seperti Imam Al Bazzar, bagaimana mungkin seseorang bisa dengan luar biasanya mampu menahan diri dari godaan untuk mengambil mutiara yang mahal nilainya? Ditambah juga mampu menolak hadiah sebesar 500 dinar emas? (1 dinar = 4.25 gram emas). Merupakan  hal yang ajaib bukan seseorang mampu menahan diri dari godaan harta?

 

Kemudian berbuat baiklah kepada siapapun dan luruskan niat ketika hendak beramal. Sebab  kesempurnaan pertolongan Allah bergantung pada kesempurnaan niat. Dan kesempurnaan niat itu tertelak pada bagaimana kita melakukan suatu amal hanya dengan mengharap ridho Allah Ta’ala. Sebab kesempurnaan niat itu yang nantinya akan menghantarkan kita pada kesempurnaan balasan amal.

Kembali pada kisah Imam Al Bazzar tersebut. Karena beliau mampu meluruskan niatnya tersebut dalam beramal  maka sempurnalah pulalah balasan amal yang Imam Al Bazzar dapat. Tidak hanya mutiara  tetapi juga istrinya yang soleha lagi cantik serta anak-anak yang soleh yang Imam Al Bazzar kini dapatkan. Masya Allah !

Referensi

Majalah Hidayatullah. Edisi November 2017. “Aibmu Auratmu”.