(7/11/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Apakah yang diharapkan Ayah-Bunda ketika lelah letih dalam mendidik dan mengasuh si anak? Ya, pasti doa mereka setelah ayah-bunda tiada.

Ada orang yang tidak mempunyai anak selama didunia tetapi kelak diakhirat Allah mengkaruniakan mereka anak-anak disurgaNya. Ini karena mereka memiliki “anak-anak” saleh yang mereka didik meskipun bukan anak kandungnya sendiri. Akan tetapi ada orang yang mempunyai banyak anak, Rasulullah sebut mereka mandul. Mengapa mandul?

Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad.

Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah engkau siapa orang yang mandul?”Para sahabat menjawab ,”orang yang mandul ialah orang yang tidak memiliki anak.” Lalu Rasullah bersabda, “Orang yang mandul ialah orang yang mempunyai banyak anak, tetapi anak-anaknya tidak ada yang memberi manfaat kepadanya sesudah ia meninggal dunia (Riwayat Ahmad).

Apa makna hadits tersebut? Ya, ada orangtua yang memiliki banyak anak tetapi anak-anaknya tersebut bodoh dalam masalah akhiratnya. Mereka enggan untuk mendoakan orangtuanya yang telah wafat tidak pula beramal soleh yang mengalirkan pahala kepada orangtuanya.

Apakah ini hanya berlaku bagi mereka yang memiliki banyak anak? Tidak, orangtua yang tak memperoleh manfaat dari kehadiran anaknya boleh jadi hanya memiliki satu atau dua anak.

Oleh karena itu, Allah Jalla wa ‘Alaa selalu mengingatkan bahwa anak itu tidak lain hanya merupakan cobaan bagi kita. Allah berfirman :

“…anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al Anfal ayat 28).

Mengapa dikatakan cobaan? Ya, karena anak bisa menjadi nikmat atau laknat bagi kedua orangtuanya. Nikmat apabila sang orangtua bisa menjadikan anaknya tersebut sebagai orang yang saleh dan laknat apabila ia gagal dalam mendidiknya. Sebab apabila anak tersebut dimasukkan ke dalam neraka disebabkan oleh dosa-dosanyandan orangtuanya mengabaikan pentingnya nilai-nilai illahiyah bagi pendidikan anaknya maka anak tersebut akan menuntut kepada Allah Azza Wa Jalla agar keduanya juga sama-sama dimasukkan ke neraka.

Oleh karenanya, Sebagai contoh misal, Ketika kita memiliki harta yang cukup atau lebih untuk anak-anak kita maka jangan membelanjakan harta tersebut kepada hal-hal yang mereka sukai saja. Tetapi juga pada yang mereka butuhkan.

Selain itu, sebagai orangtua kita harus memahamkan mereka, bahwa hakikat kita hidup  dan mati untuk Allah.Agar mereka menjadi manusia yang tahu arah, mengerti tujuan hidupnya, dan dapat mengisi kehidupannya dengan iman dan amal saleh. Kalau tidak diarahkan sejak dari awal mereka akan seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Kalau sudah begitu, jangan salahkan siapapun kecuali diri sendiri apabila si anak mencari arah dan tujuan hidupnya dari orang-orang yang salah.

Referensi

Majalah Hidayatullah Edisi November 2018 “Ribath”