3/7/18 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalamualaikum, sahabat As Shidiq Aqiqah. Ahli-ahli tasawuf, terutama Al-Harawy dalam kitabnya “Manazilus Sairi” dan Ibnul Qayyim di dalam kitab syarahnya yang bernama “Madarijus Salikin”  menerangkan bahwa terdapat 5 sikap yang dapat membuat kerasnya hati, ataupun membuat kabur tujuan hati. Yang tadinya hati hendak memiliki tekad yang bulat dalam mengggapai keridhaan Allah agar selamat dunia dan akhirat, karena terlampaui kelima pantangan ini, terganggulah perjalanan, hilanglah niat yang lurus tadi, bahkan hingga terjungkal ditengah perjuangan.

1. Salah Memilih Pergaulan

Kita tahu bahwa manusia hidup didunia ini tak mampu sendiri. Kematangan manusia akan didapat melalui pergaulan. Akal bertambah karena pengalaman dan pergaulan. Namun, kecenderungan hidup ditentukan dengan siapa kita bergaul. Kerapkali kita sebagai manusia masih dapat membedakan antara yang baik dan buruk saat duduk sendiri. Namun, bilamana telah masuk dalam pergaulan ramai kita tak mampu lagi menguasai diri karena akan ikut ikutan. Setelah muncul kasus barulah timbul sesal atas diri sendiri. Apabila sudah terlanjur jauh, terpuruk ke dalam jurang pergaulan maka diri akan amat sukar untuk melepaskan diri.

Segala pintu pergaulan yang membawa  kepada dosa dan permusuhan hendaklah dijauhi. Betap banyak orang terjerumus dalam jurang kehancuran karena salah memilih teman. Judi mentandaskan harta. Minuman Keras meremukkan jantung. Hubungan seks diluar nikah membuat kacau balau keturunan dan remuk redam martabat manusia hingga payah buat bangkit.

Didalam Al – Qur’an pernah digambarkan betapa timbulnya penyesalan besar dalam hati seseorang yang dikala hidupnya telah terlanjur salah dalam memilih teman karib . Allah Ta’ala berfirman :

“Dan Ingatlah pada hari ketika orang-orang zalim menggigit dua jarinya, menyesalinya perbuatannya seraya berkata,” Wahai! sekiranya dulu aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku” (Al Furqaan:27-28)

“Teman – teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (Az Zukhruf : 67)

Persahabatan yang kekal untuk dunia dan akhirat adalah persahabatan yang terikat karena cinta kepada Allah. Bahkan diantara suami istri yang telah terikat oleh akad nikah, jika tidak dipatrikan oleh cinta sejati kepada Allah, ditengah jalan dapat berpisah, berkelahi, hingga bercerai.

Oleh karena itu, agama islam menentukan pergaulan-pergaulan yang positif. Sampai ibadah-ibadah yang kita kerjakan, semuanya dilaksanakan di dalam pergaulan ramai. Ada hari-hari besar yang sengaja Allah buat agar kita bergaul ramai. Shalat 5 waktu dianjurkan agar berjamaah. Sekali seminggu kita bergaul ramai dalam ber-Jum’at di masjid. Dua kali setahun kita merayakan Idul Fitri dan Idul Adha. Sekurangnya, sekali seumur hidup kita disuruh berkumpul ramai dari seluruh penjuru dunia ke padang arafah. Arafah itu sendiri mengandung arti berkenalan diantara satu dengan yang lain. Kita disuruh takziah beramai-ramai. Menghantar jenazah beramai-ramai ke kuburnya. Untuk apa? Agar kita saling bertegur sapa, saling mengenal satu sama lain. Dan paling penting agar kita selalu dikumpulkan dalam kebaikan. Allah Ta’ala berfirman :

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al Maidah : 2)

Jika terpaksa bergaul juga ditengah masyarakat yang condong pada yang buruk, awasilah diri agar jangan sampai turut jatuh kedalamnya. Bahkan kalau memiliki jiwa yang kuat, ikhtiarkanlah agar majelis yang tadinya hanya majelis sendau gurau bertukar menjadi majlis yang selalu mengingat Allah. Asalkan pandai membawa diri orang tidak akanlah merasa jemu jika mereka diajak kepada yang baik.

“Dakwah itu mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, menyeru bukan menghasud. Hidayah adalah urusan Allah tugas kita hanya mengajak,  agar orang tersebut dapat istiqomah dalam kebaikan”

2. Panjang Angan-Angan

Panjang angan-angan berbeda jauh dengan panjang cita-cita. Cita-cita disertai ikhtiar sedangkan angan-angan hanya khayalan tak menentu. Orang yang mempunyai cita-cita, menggbarkan zaman depan yang lebih baik dan berusaha melepaskan diri dari keburukan yang membelenggu diri pada waktu sekarang.  Sebagai contoh pada zaman penjajahan di Indonesia dahulu orang mencita-citakan kemerdekaan. Sebab itu untuk mencapai kemerdekaan tersebut dikerahkan seluruh harta dan jiwa raganya. Bahkan ada yang mati jadi korban cita-cita tersebut. Adapun angan-angan ia hanya menghayal ingin memiliki hidup seperti “tuan besar” seperti penjajah belanda padahal ia rakyat jajahan. Keseharian yang ia lakukan hanyalah berleha-leha santai.

Bagi kita orang islam patokan akan masuk surga itu sudah dijelaskan: beriman dan beramal saleh. Beriman didalam hati sanubari, beramal saleh sebagai pembuktiannya. Dari hati turun kepada perbuatan. Kalau keduanya tidak ada, kita hanya sedang berangan-angan dalam masuk surgaNya. Bukan sedang mencita-citakannya.

3. Menukar Tujuan Ditengah Jalan

Kebanyakan manusia sering menggantungkan hati kepada nikmat yang diberikan bukan kepada yang memberi nikmat. Dianugrahi Allah dunia dengan segala perhiasannya, lalu lekatlah hati kepada dunia itu, lupalah kepada Allah yang memberi nikmat. Diberi Allah kemegahan, pangkat, kebesaran, kekuasaan, kekayaan, tetapi bergantunglah hatinya kesana. Disangka akan kekal dunia itu dalam tangannya. Ia lupa bahwa setiap yang hidup pasti akan mati. Yang muda akan tua dan yang sehat akan sakit. Ia berlomba mengejar kesenangan dunia yang tak ada batasnya. Padahal umurnya terbatas. Saat ia diberikan emas segunung olehNya ia tidak akan pernah puas dan pasti akan meminta untuk gunung yang kedua,ketiga, keempat dan seterusnya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala mengatakan bahwa kesenangan dunia hanyalah kesenangan yang menipu. Kesenangan tanpa batas yang selalu menghantui jiwa manusia. Hati – hati dengan dunia. Si perhentian sementara tapi sering disangka sebagai perhentian terakhir. Allah Ta’ala bahkan telah mengingatkan kita jauh hari dalam firmanNya :

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al Hadid : 20)

Agama tidak melarang kita untuk membenci nikmat Allah. Allah senang sekali bila seorang hamba menunjukkan bekas nikmat yang diberikan oleh-Nya. Namun, seperti kata pepatah jangan sampai menjadi kacang yang lupa dengan kulitnya.

4. Banyak Makan

Bahaya bisa datang juga dari makanan. Apalagi bila makanan itu adalah makanan yang haram. Makanan yang haram ada dua jenis. Pertama, haram karena jenis makanan itu sendiri. seperti makan daging babi, makan burung yang berkuku mencengkam. Yang karena melanggar hak sesama manusia, seperti mencuri, merampas. Kedua haram karena melampaui batas dan berlebih lebihan dalam memakan yang halal. Karena perut yang terlalu kenyang memberatkan badan duduk dan tegak ruku dan sujud dalam ibadah. Terutama banyak memakan makanan makanan yang dapat membangkitkan nafsu kelamin, sehingga pikiran hanya terpusat ke situ saja. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,

“Yang kerap kali membawa celaka bagi anak Adam, ialah mengisi perutnya. Kalau mau selamat anak Adam, bagi tigalah perut. 1/3 untuk makan, 1/3 untuk minum, 1/3 untuk memikirkan diri sendiri”

Ahli-ahli tasawuf yang mendalam menyatakan pengalaman mereka, sebagaimana Ibnul Qayyim di dalam kitabnya, “Madarijus Salikin” menerangkan bahwa makanan yang halal dan sederhana, bekas pengaruhnya sangat baik bagi jiwa. Kalau bermimpi, mimpi kita dapat indah-indah bukan yang menakutkan.

5. Banyak Tidur

Banyak tidur menyebabkan hati lembek, hati pun turut mengantuk, kegiatan hilang, semangat mengerjakan ibadah lemah, karena beban jadi berat kita jadi pemalas. Tidaklah mengapa habis isya lekas tidur supaya dapat terbangun pada dua pertiga malam. Karena, pada waktu itu hubungan itu di antara langit dan bumi amat dekat. Pada waktu itu, sebagaimana tersebut dalam hadits qudsi, Allah mendekatkan dirinya ke langit dengan dunia ini, artinya pada saat-saat hening sepi itu Allah mendengarkan keluhan hambaNya. Siapa yang akan tobat, Aku akan memberi tobat. Siapa yang memohon ampun Aku akan memberi ampun.

Kurang tidurpun tidak boleh. Menjaga kesehatan disuruh oleh Allah. Sebab, kalau badan telah kurang kesehatannya, lemah pula badan beribadah. Namun terlalu banyak tidur membawa celaka pula. Saat-saat yang baik buat munajat, Tahajud, istigfar pada waktu sahur tidak akan dinikmati oleh seorang penidur. Disinilah diingatkan kata-kata ahli ruhani yang terkenal, “Barangsiapa yang banyakan makan, banyak minum, banyak tidur, niscaya banyak pula rugi.”

Setelah kita ketahui bahaya-bahaya yang mengancam kemurnian hati itu, marilah kita berjalan di atas gari yang ditentukan Allah, itulah jalan Allah, menuju kembali ke tempat asal kita dahulu.

Referensi :

Hamka,Buya. 2016. Kesepaduan Iman dan Amal Saleh. Gema Insani: Jakarta.