Bullying di nilai sebagai perilaku yang menyakiti dan memalukan anak /remaja lain, seperti megeluarkan kata kata kasar, mendorong, menampar, atau bahkan meminta si korban melakukan tindakan sesuia perintah pelaku bully. Tindakan bully kerap berulang bahkan mampu menjatuhkan self esteem si anak/remaja yang menjadi korban.

Biasanya bully terjadi pada saat anak mulai memasuki lingkungan baru seperti sekolah atau tempat tinggal baru. Di saat inilah anak mulai belajar beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang seusianya. Namun tak ada patokan, mulai usia berapa umumnya anak/remaja mengalami bully.

Bagaiman ciri anak korban bullying?

Ciri ciri anak yang menjadi korban bullying biasanya adalah  mereka yang di anggap lemah secara psikologis. Lemah secara  psikologis bisa berarti macam macam, seperti suka menyendiri, anak yang jumlah teman nya sedikit, anak/remaja yang memiliki keahllian/keterampilan yang di anggap tidak tren di kalanganya atau beda minat dan ketertarikannya.

Anak korban bullying.

Nah, dampak yang muncul pada korban bully bisa beragam tergantung usai dan seberapa besar perilaku bullying yang di dapat. “di antara nya , merasa  tidak senang jika berkumpul dengan teman temannya, sering bolos atau takut pergi ke sekolah/lingkungan dekat rumah , prestasi sekolah menurun, menarik diri, depresi, bahkan sampai bunuh diri.

Bila Anda merasa menemukan ciri anak korban bullying pada buah hati, sebaiknya segera tanyakan dengan perlahan dan lakukan upaya penanganan terhadap korban bullying.

Penaganan terhadap  Korban bullying:

  1. Jika terjadi di lingkungan sekolah , konselor sekolah, wali kelas, dan kepala sekolah harus segera bertindak menagani kasus ini. Konselor atau psokolog sekolah berperan sebagai mediator dan memberi penaganan psikologis terhadap korban, seperti persaan takut terhadap pelaku.
  2. Orangtua perlu mendalami karakter anak serta kondisi sekitarnya. Misalnya, mengenali bila anakberubah menjadi pendiam. Lakukan komonikasi mendalam tanpa menghakimi. “inti ntya orang tua perlu memahami anak, minatnya dan dinamika psikologisnya. Misalnya , apa saja pemicu yang membuat si kakak mudah sekali marah, apa yang selama ini sering menjadi kersahan si adik, dan lain lain sebagainya. Dalam hal ini penting di lakukan komunikasi intensif terhadap anak secara adil dan merata. Orang tua siap menjadi pendengar untuk mereka, bagaimana di dunia sekolahnya , adakah masalah dalam pertemanan dan lainnya.”
  3. Bila terbukti ia adalah anak yang menjadi korban bullying, Berikan anak dukungan dan masukan bagaimana ia menghadapi lingkungan dan teman-temannya yang dominan atau teman-teman yang membuatnya tidak nyaman.
  4. Jikabullying terjadi di lingkungan rumah atau sibling rivalry, orangtua perlu bersikap adil dalam menyikapi perselisihan antara kakak adik, serta menanamkan nilai kasih sayang dan kekompakkan di antara mereka.
  5. Orangtua perlu membangun rasa percaya diri anak serta beri penghargaan agar anak merasa berharga di hadapan orang lain.
  6. Tanamkan kemandirian anak dalam keberanian mengambil keputusan dan penyelesaian masalah dengan temannya. Misalnya, kapan anak harus bicara baik-baik, menghiraukan perilaku bullying, atau segera melaporkan pada guru dan orangtua.