03/05/18 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalammualaikum, Ayah Bunda Sahabat As Shiddiq Aqiqah. Menutup aurat merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslimah, karena hal tersebut merupakan perintah agama. Adapun kewajiban bagi seorang muslimah untuk menutup auratnya adalah sebagaimana tercantum dalam Surat Al Ahzab ayat 59, yang berbunyi:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri  orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “(QS Al ahzab ayat 59)

Kemudian dengan turunnya wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengenai kewajiban menutup aurat dan menggunakan jilbab, maka banyak wanita wanita arab mulai menggunakan cadar untuk menutupi wajah mereka. Bersamaan dengan hal tersebut maka muncul sebuah diskusi mengenai apakah menggunakan cadar merupakan sebuah budaya arab ataukah sebuah kewajiban dalam islam.

Untuk menyebutkan bahwa cadar merupakan bagian dari budaya Arab sendiri pada dasarnya tidak memiliki dasar klaim yang kuat. Hal ini dikarenakan sebelum adanya perintah bagi perempuan muslim untuk menggunakan jilbab, para perempuan di Arab tidak menggunakan jilbab apalagi cadar. Dan jika klaim mengenai cadar merupakan bagian dari budaya Arab, merupakan suatu hal yang wajar jika mereka sudah menggunakannya bahkan sebelum turunnya perintah Allah untuk menutup aurat mereka.

Selanjutnya dasar mengenai cadar sebagai kewajiban dalam agama islam pun dapat dikatakan tidak begitu kuat. Klaim ini didasarkan dari tafsir seperti Tafsir Jalalain yang menjelaskan bahwa mereka menjulurkan jilbabnya sampai ke wajah mereka;

Pakaian besar yang menutupi perempuan, yaitu menjulurkan sebagiannya ke atas wajah-wajah mereka ketika keluar untuk suatu keperluan hingga tidak menampakkannya kecuali hanya satu mata saja.”

Mengambil pernyataan Ustadz Abdul Somad dalam ceramahnya, setidaknya hamper 20 hadits yang menyatakan hal yang serupa dengan apa yang tertuang dalam Tafsir Jalalain. Beliau melanjutkan bahwa selain hadits-hadits tersebut juga ada hadits-hadits lain yang menyatakan bahwa di Arab banyak yang mukanya nampak atau tidak tertutup cadar. Ustadz Abdul Somad sendiri dalam menutup ceramahnya lebih condong untuk menyatakan bahwa cadar bukanlah sebuah kewajiban.

Oleh karena itu, diskusi mengenai cadar sebagai warisan budaya Arab atau merupakan perintah Allah Subhanahu Ta’ala dan sebuah kewajiban tidak dapat begitu saja disimpulkan. Jadi kalau bunda dan anak-anak perempuan bunda memilih menggunakan cadar atau tidak itu bukan sesuatu yang harus diributkan, karena masih kurangnya dasar-dasar dari klaim-klaim tersebut. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Untuk Bunda yang belum berjilbab yuk jangan menunda-nunda kebaikan. Dengan menyegerakan kebaikan akan ada kebaikan-kebaikan lain yang mengikuti. Jika kita terus melihat diri kita yang kotor kita tak akan akan pernah berbuat baik. Ingatlah kisah seorang pelacur yang memberikan air kepada seekor anjing yang kehausan. Statusnya sebagai pelacur tidak membuatnya gengsi untuk berbuat baik.