20/06/18 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalammualaikum, sahabat  As Shidiq Aqiqah. Sesungguhnya diantara nikmat yang Allah berikan pada umat ini adalah bahwa perbedaan yang terjadi di antara mereka bukan dalam masalah dasar-dasar agama dan sumber-sumbernya yang pokok, akan tetapi pada perkara-perkara yang tidak menyentuh kesatuan kaum muslimin yang sejati, dan hal itu merupakan sesuatu yang niscaya terjadi.

Pada zaman nabi, manakala terjadi perselisihan, orang-orang menunjuk beliau saat terjadi perbedaan pendapat diantara mereka, maka beliau memberikan keputusan diantara mereka. Beliau menjelaskan  kebenaran kepada mereka, baik dalam apa yang mereka perselisihkan tentang Kalam Allah atau dalam apa yang mereka perselisihkan tentang hukum-hukum Allah yang Allah belum menurunkan hukumnya, yang kemudian Allah menurunkan Al – Qur’an yang menjelaskannya. Betapa banyak di dalam Kitab Allah ungkapan, “ Dan mereka bertanya kepadamu tentang… “ (Al – Mai’dah : 4).

Akan tetapi setelah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Salam wafat, umat berbeda pendapat dalam hukum-hukum syariat yang tidak menyentuh dasar-dasar syariat dan sumber-sumbernya, akan tetapi ia hanya pada cabang-cabang agama.

Kita semuanya mengetahui dengan yakin bahwa tidak ada seorang pun ulama yang ilmu, amanat, dan agamanya dipercaya yang bermaksud dan sengaja menyelisihi petunjuk Allah dan RasulNya. Barangsiapa yang memiliki ilmu dan agama, maka imam mereka adalah kebenaran dan siapa yang bermakmum pada kebenaran makan Allah akan memudahkan untuknya.

Seseorang yang memahami pendapat para ulama akan mengetahui sebab-sebab perbedaan pendapat yang sering terjadi. Berikut adalah rangkumannya :

Pertama, Dalil belum sampai kepada orang yang keliru dalam memberikan hukum. Sebab ini tidak hanya terjadi pada para khalaf tetapi juga pada para sahabat dan orang sesudah mereka. Sebagai contoh : Dalam Shahih Al Bukhari dijelaskan manakala Amirul Mukminin,  Umar bin Al Khaththab berangkat ke Syam, di mana di tengah jalan,orang – orang melaporkan pada Umar bahwa Syam sedang dilanda wabah Thaun. Umar pun berhenti dan meminta pendapat dari kaum muhajirin dan Anshar, mereka pun berbeda pendapat. Dari kedua pendapat ini, yang lebih rajah adalah pendapat yang mengusulkan agar Umar kembali ke madinah.

Saat proses sedang berlangsung, datang lah Abdurrahman bin Auf  sambil berkata ,”Sesungguhnya aku mengetahui informasi ini, aku pernah mendengar bahwa Rasulullah pernah bersabda,”

“Bila Kalian mendengar tentang berita wabah Thaun disebuah negeri, maka janganlah kalian masuk ke sana, dan bila ia terjadi sementara kalian sedang dinegeri itu jangan keluar melarikan diri” (HR. Bukhari , Kitab Ath Thibb, No 5729).

Bila hadits ini sampai kepada dua sahabat mulia ini, Insya Allah keduanya akan menerima dan tidak mengeluarkan pendapat mereka.

Kedua, Hadits telah sampai kepada yang bersangkutan, namun dia tidak percaya kepada rawinya, dia melihat bahwa hadits tersebut menyelisihi hadits lain yang lebih kuat darinya, maka dia pun mengambil hadits yang menurutnya lebih kuat tersebut. Sebagai contoh :

Fathimah binti Qais ditalak oleh suaminya dengan talak terakhir dari jatah talaknya yang ketiga. Suaminya lalu mengutus seseorang kepada Fathimah untuk memberinya nafkah dalam bentuk jawawut  selama masa iddah, namun fathimah marah dan menolak menerima jawawut. Maka keduanya berpekara pada nabi dan beliau memutuskan bahwa Fathimah tidak berhak mendapatkan nafkah dan tempat tinggal. (Diriwiyatkan oleh Muslim Kitab Ath Thalaq No 1480) Hal ini karena Fathimah ditalak dengan talak ba’in sehingga Fathimah tidak mendapatkan hak nafkah dan tempat tinggal dari suaminya kecuali bila dia hamil. Dalam surat Ath Thalaq ayat 6, Allah berfirman :

“Dan Jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya sampai mereka melahirkan.”

Lalu Umar datang dan, dan tentu kita tahu ilmu dan keutamaan Umar tapi dia tidak mengetahui Sunnah nabi pada Fathimah ini, maka Umar berpendapat bahwa wanita yang seperti Fathimah tetap mendapatkan hak nafkah dan tempat tinggal. Umar menolak hadits Fathimah dengan alasan kemungkinan Fathimah Lupa. Umar berkata, ”Apakah kita meninggalkan Firman Allah hanya karena ucapan seorang wanita yang kita tidak mengetahui apakah dia ingat atau lupa?”

Ketiga, Hadits telah sampai kepada orang yang bersangkutan, namun dia lupa. Siapa yang tidak pernah lupa, berapa banyak manusia yang lupa hadits, bahkan mungkin ayat. Sebagai contoh kisah Umar bin Al Khaththab dengan Ammar bin Yasir, manakala Rasulullah mengutus keduanya untuk sebuah keperluan, maka keduanya mengalami junub. Ammar berijtihad dengan mengguling-gulingkan badannya ke tanah seperti hewan. Ia berijtihad bahwa thaharah dengan debu tidak berbeda dengan thaharah dengan air. Sedangkan Umar tidak solat. Kemudian keduanya pulang kepada Rasulullah dan beliau membimbing keduanya.

Beliau bersabda kepada Ammar, “Semestinya sudah cukup bagimu menepukkan kedua telapak tangan ke tanah sekali kemudian mengusapkan telapak tangan kiri pada telapak tangan kanan dan punggung kedua tangan serta wajah beliau.”

Ammar menyampaikan hadits ini di zaman kekhalifahan Umar dan juga sebelumnya. Suatu hari Umar memanggilnya, dia berkata kepada Ammar, “Hadits apa itu yang kamu sampaikan kepada masyarakat?” Ammar menjawab ,”Tidakkah anda ingat saat Rasulullah mengutus kita berdua dalam sebuah keperluan lalu kita berdua junub. Anda tidak salat sedangkan saya berguling-guling ke tanah?

Part 2….

Referensi : Shalih Al – Utsaimin, Syaikh Muhammad. 2016. Sebab – Sebab Perbedaan Pendapat Para Ulama. Jakarta : Darul Haq.