(4/9/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Assalammualaikum, Ayah dan Bunda sahabat As Shidiq Aqiqah. Hari ini kami akan membahas mengenai sebuah kisah unik dan lucu mengenai keluguan seorang pemuda beriman yang Insya Allah akan membuat kita senyum sendiri saat membacanya tapi juga tetap memiliki nilai edukasi bagi yang membacanya.

Disebutkan bahwa ada seorang pemuda yang bertakwa, tetapi ia sangatlah lugu. Dia belajar pada seorang syaikh, hingga manakala dia sudah memiliki cukup ilmu, sang syaikh menasehati dia dan teman-temannya, sambil berkata,

“Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Karena seorang yang alim menengadahkan tangannya kepada orang-orang berharta, tak ada kebaikan dalam dirinya. Pergilah kalian semua dan dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing-masing, serta bertakwalah kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut.”

Maka pergilah pemuda tadi menemui ibunya seraya bertanya,” Ibu, apakah pekerjaan yang dulu dikerjakan ayahku?

Ibunya kaget, lalu dia menjawab, “Ayahmu telah pergi (meninggal). Untuk apa kau bertanya nak?

Si pemuda terus memaksa agar diberitahu, tetapi si ibu selalu mengelak, hingga tatkala ibunya terus menerus dipaksa untuk berbicara, akhirnya ibunya pun memberitahunya bahwa ayahnya adalah seorang PENCURI.

Pemuda itu berkata  kepada sang ibu,”Guruku memerintahkan kami agar masing-masing dari kami bekerja seperti pekerjaan ayah kami dan bertakwa kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut.

Ibunya pun shock mendengarnya dan terkaget-kaget, “Celakalah kau nak! Bagaimana kau bisa berpikir bahwa mencuri itu adalah bagian dari ketakwaan?”

Dan dikisahkan memang seperti itulah anaknya, aga lugu (Lucu dan agak bodoh), lalu dia menjawab, “Tetapi Begitulah nasehat dari syaikh kepadaku.”


Lalu dia pergi bertanya (kepada orang-orang) dan mencari-cari informasi bagaimana mencuri yang baik dan benar hingga berguru langsung dengan para pencuri profesional dalam menjalankan aksinya. Maka dia menyiapkan alat-alat mencuri, kemudian Shalat Isya dan menunggu sampai semua orang tidur. Lalu dia keluar rumah untuk menjalankan profesi ayahnya tersebut sesuai dengan nasihat sang syaikh. Dimulailah dengan rumah tetangganya, dan dia hendak masuk ke dalam rumah itu, lalu ia ingat bahwa syaikhnya berpesan kepadanya agar selalu bertakwa dan menyakiti tetangga bukan merupakan ketakwaan.

Akhirnya, rumah tetangganya itu ditinggalkannya. Ia lalu melewati rumah lain, dia berbisik pada dirinya.

“Ini rumah anak-anak yatim, dan Allah memperingatkan agar tidak memakan harta anak yatim.” 

Dia terus berjalan hingga akhirnya dia tiba di rumah seorang saudagar kaya yang tidak ada penjaganya. Orang-orang sudah tahu bahwa saudagar ini memiliki harta yang melebihi kebutuhannya. Pemuda itu berkata,

“Disinilah aku akan mencuri” Ucapnya dalam hati

Maka dia  berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci yang telah ia siapkan. Dia pun berhasil membuka pintu dan masuk ke rumah tersebut. Ia dapati rumah itu amatlah luas, megah dan memiliki banyak kamar. Dia berkeliling dalam rumah hingga menemukan tempat penyimpanan HARTA. Dia membuka membuka sebuah kotak, didapatinya EMAS, PERAK DAN UANG TUNAI DALAM JUMLAH BANYAK. Dia berniat untuk mengambilnya. Lalu dia berkata dalam hatinya,

“Tidak, Syaikh telah memerintahkan kepada kami agar selalu bertakwa. Barangkali saudagar ini belum mengenluarkan zakat hartanya. Kalau begitu, sebaiknya aku keluarkan zakatnya terlebih dahulu.”

Dia mengambil buku-buku catatan dan menghidupkan lentera kecil yang dibawanya. Dia membuka lembaran buku-buku itu dan menghitung. Dia memang pandai berhitung dan ahli dalam pembukuan. Dia hitung semua harta yang ada dan memperkirakan berapa zakatnya. Kemudian dia pisahkan harta yang akan dizakatkan. Dia masih terus menghitung dan menghabiskan waktu berjam-jam. Saat menoleh, dia lihat fajar telah menyingsing. Dia berbicara sendiri, “Ingat takwa kepada Allah! Kau harus melaksanakan shalat dulu!”

Kemudian dia keluar menuju ruang tengah rumah, lalu berwudhu di bak air dan melakukan shalat . Tiba-tiba tuan rumah terbangun. Dilihatnya dengan penuh keheranan, ada lentera kecil yang menyala. Dia lihat pula kotak hartanya dalam keadaan terbuka dan ada seseorang yang sedang melakukan solat. Istrinya bertanya kepada suaminya ,” Ada apa ini?!” 

Suaminya menjawab, “Demi Allah, aku juga tak tahu!,” Lalu dia menghampiri pencuri itu seraya berkata, “Celaka engkau, siapa kau dan ada apa ini?

Si Pencuri berkata,”Shalat dulu, baru bicara. Ayo pergilah berwudhu lalu imamilah kami shalat, karena tuan rumahlah yang berhak menjadi imam.”

Tuan rumah takut kalau si pencuri membawa senjata, sehingga dia pun menuruti apa yang diperintahkan oleh si pencuri. Tetapi -wallahu a’alam- bagaimana dia bisa shalat. Selesai shalat, tuan rumah bertanya kepada pencuri itu,

Ceritakan kepadaku, siapa kau dan apa urusanmu?”

“Saya ini pencuri” Jawabnya..

“Lalu apa yang kau perbuat dengan buku catatanku itu?” Tanya si tuan rumah

“Aku menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Sekarang aku sudah menghitungnya dan juga sudah aku pisahkan agar kau dapat memberi pada orang yang berhak” Jawab si pencuri

Hampir saja tuan rumah dibuat gila karena keheranan dengan perilaku si pencuri tersebut. Lalu dia berkata,

“Celaka engkau, ada apa denganmu sebenarnya? Apa kau ini gila?”

___________________________________________________________________________________________

Mulailah si pencuri itu bercerita dari awal. Dan setelah saudagar itu mendengar ceritanya dan mengetahui ketepatannya dalam menghitung serta kejujuran katanya,  manfaat zakat hartanya, dia pergi menemui istrinya dan berbicara sesuatu dengannya. Tuan rumah itu memiliki seorang putri. Setelah keduanya berbicara. tuan rumah itu kembali menemui si pencuri, kemudian berkata,

“Bagaimana pendapatmu kalau aku menikahkanmu dengan putriku, mengangkatmu menjadi sekretaris dan juru hitungku, kau boleh tinggal bersama ibumu di rumah ini dan engkau aku  jadikan  mitra bisnisku?”

Ia menjawab, ” Aku setuju”. Dipagi hari itu pula sang tuan rumah memanggil para saksi dan melangsungkan akan nikah putrinya.

 

Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat ya ayah bunda Insya Allah.. Aaaminn…

Referensi :

Al Hazimi, Ibrahim Bin Abdullah. 2015. “Kisah Nyata Tentang Nabi, Rasul, Sahabat, Tabi’in, Orang-Orang Dahulu dan Sekarang”. Darul Haq. : Jakarta.