(25/10/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Ayah-Bunda sahabat As Shidiq Aqiqah.

Anak yang cemburu pada adik bayinya yang baru lahir adalah hal yang lazim terjadi. Anak balita Ayah-bunda akan mengalami berbagai jenis emosi ketika ia memiliki saudara baru. Ia mungkin merasa iri atau cemas dengan kehadiran adik barunya. Hingga suka menjahili entah dengan mencubit atau sedikit memukul adiknya. Kalau sudah begini..Bagaimana orangtua bisa menghadapi rasa cemburu anak dan membuatnya menerima adik bayi dengan hangat?

Ayah-Bunda yang baik, sebetulnya tidak ada anak yang mencari masalah karena mereka terlahir dalam fitrahnya. Mereka terlahir bersih dan suci. Kalaupun si anak suka membuat ulah biasanya mereka memiliki orangtua yang emosional. Seperti yang diketahui, anak itu adalah cerminan orangtuanya. Saat ia melakukan sesuatu, silahkan dicek lagi, kapan kita sebagai orang tua pernah mencontohkannya. Akan lebih bijak jika kita instropeksi diri dulu sebelum menuduh perilaku anak kita bermasalah.

Misal, ada Ayah-Bunda meminta tolong anak untuk mengambilkan sesuatu, lalu dijawab “Ayah-Bunda kan punya tangan sendiri. Ambil sendiri dong!” Kalau anak bisa bicara dan berperilaku seperti ini, apakah anak mencari masalah atau yang mecontohkan?”

Nah, kalau ada kakak yang jahil dengan adiknya, coba diingat-ingat, kira-kira kapan Ayah-Bunda sering membela adiknya atau terlalu menunjukkan rasa sayang pada adik dibandingkan ke kakaknya? Mungkin Ayah-Bunda melakukannya secara tidak sadar. Misalnya, kakak yang cemburu pada adiknya yang masih bayi dan ingin menyentuhnya, eh dilarang Ayah-Bunda dengan membentak keras dan kasar ,”Eeh jangan pegang-pegang adek. Tangan kamu kan kotor.” Perilaku ini akan membuat Kakak berpikir bahwa Ayah-Bunda lebih sayang Adik ketimbang si Kakak. Akhirnya si Kakak merasa seperti tersingkirkan dan memukul adiknya.

Pakar Parenting Indonesia, Ayah Eddy menjelaskan untuk itu, Ayah-Bunda bisa menggganti cara asuh yang lebih baik. Misalnya dengan mengajak Kakak ikut serta terlibat dalam mengurus adik. Tentunya dengan batas dan pemantauan dari Ayah-Bunda. Misal,

“Bunda mau mengganti popok adek nih, siapa yang bisa bantu? Ambilkan popok, ya?” Ketika anak memberikan bantuan, berikan pujian dan ucapan terimakasih.”Duh, Kakak pinter banget ya, hebat…”  Dengan begitu si Kakak merasa seperti dihargai, dapat diandalkan, dan paling penting merasa tetap diperhatikan walaupun ada adiknya.

Selain itu, perhatikan juga Ayah-Bunda tontonan si anak. Karena anak banyak belajar dari MELIHAT.

Demikian tulisan kami pada hari ini. Semoga bermanfaat. Aamiin.. Insya Allah…

Referensi

Eddy. 2012. “Ayah Edy Menjawab”. Jakarta : Noura Books.