(5/9/2018) Admin

“ Kalau aqiqah tulangannya jangan dipatahin/dihancurin ga boleh bu!” Ujar seseorang yang sedang memberikan nasehat, tetangganya yang ingin beraqiqah. “Masa sih? Memang kenapa?” Tanya si A pada tetangganya. “Pokoknya jangan!” Tegas si tetangga.

Pernah mengalami dialog seperti diatas Ayah Bunda?

Kebetulan sekali! Tepat pada hari ini kami akan membahas mengenai hukum mematahkan tulang hewan aqiqah., Mungkin sebagian kita ada yang pernah mendengar bahwa itu hal yang dibolehkan dan ada juga yang mengatakan tidak boleh. Agar semuanya terasa jelas, Berikut pendapat dari para ulama yang telah berhasil kami rangkum.

Ada dua pendapat mengenai hukum mematahkan tulang hewan aqiqah

Pendapat pertama dari penganut mazhab syafi’i dan Hanbali menyatakan sunnahnya menyembelih hewan aqiqah dan memotong-motong dagingnya mengikuti ruas sendi tanpa mematahkan tulangnya dan dimasak secara utuh. Para ulama pencetus pendapat pertama berdalil pada hadits Nabi yang berbunyi,

“Kirimkanlah salah satu kaki hewan sembelihan itu kepada bidannya. Makanlah dan bagikan! Tapi jangan mematahkan tulangnya!” (HR Al Baihaqi)

Hadits ini namun dinilai dhaif (Lemah). Para ulama pada pendapat pertama mengatakan makruhnya mematahkan tulang adalah sebagai ungkapan sikap optimisme untuk keselamatan dan kebahgiaan hidup si bayi kelak. (Al Hawi 15/129).

Pendapat Kedua: Imam Malik mengatakanya bolehnya untuk mematahkan tulang hewan aqiqah. Bahkan beliau menganjurkannya untuk menyalahi perilaku kaum jahiliyah yang tidak mematahkan tulang-tulang hewan sembelihan yang disembelih untuk bayi yang baru dilahirkan.

Para ulama pencetus pendapat kedua berdalih bahwa tidak ada dalil yang shahih (kuat) tentang larangan untuk mematahkan tulang hewan aqiqah. Mereka juga berpendapat bahwa menurut kebiasaan yang berlaku di masyarakat adalah mematahkan tulang-tulang hewan aqiqah. Karena pemanfaatannya akan lebih efektif dan efesien. (Tuhfatul Maudud, hal 62)

Kesimpulannya para ulama berbeda pendapat mengenai hukum mematahkan tulang hewan aqiqah. Ada yang memakruhkannnya dan membolehkannya tak mengapa.

Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat ya Ayah dan Bunda.. Insya Allah

 

Referensi

Afanah Musa, DR Husamuddin. 2010. “Ensiklopedi Aqiqah’’. Yogyakarta : Pro U Media.