26/6/18 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalammualaikum, Ayah dan Bunda sahabat As Shidiq Aqiqah. Sebagai orangtua mungkin kita pernah memiliki kegelisahan tersendiri si buah hati misalnya hanya dekat kepada ayahnya atau ibundanya.

Hmm… Ayah-bunda yang baik, orangtua mana yang tidak senang dekat dengan anak. Orangtua yang demikian berarti orangtua yang disukai oleh anak. Jika Ayah atau Bunda merasa kurang dekat dengan anak, yang perlu dilakukan adalah mecontoh sosok yang dekat dengan anak. Jika pasangan kita lebih dekat dengan anak, contohlah apa yang sudah ia lakukan. Sayangnya, kebanyakan tidak demikian. Kalau anak dekat dengan ibunya, ayahnya marah.

“Kamu jangan manjain anak! Tuh anaknya jadi nempel terus.”

atau sebaliknya,

Istrinya berwatak keras sementara suaminya lebih lembut sehingga anak lebih dekat ke ayahnya. Lalu ibunya bilang, ” Ayahnya sih lembek, anak jadi semaunya sendiri.”

Kondisi ini tentu tidak baik, jika suami-istri saling ”cemburu” dan menyerang. Sebaiknya melakukan rekonsialisasi, penyesuaian, dan penyelesaian masalah. Memang tak dapat dipungkiri bahwa antara suami dan istri dibesarkan dengan pola asuh yang berbeda sehingga pola pikirnya juga berbeda. Ada suami yang dibesarkan dalam keluarga militer, lalu menganggap kalau mendidik anak dengan cara disiplin ala militerlah yang lebih baik.

Kalau memang anak dekat dengan ibunya, para ayah jangan gengsi untuk mencontoh bagaimana istri memperlakukan anak-anak. begitupun sebaliknya. Anak adalah fitrah, jadi siapa yang cocok dengan kefitrahannya, dialah yang bisa dekat. Kalau kita dekati anak, berarti kita harus memfitrahkan diri.

Yang harus diwaspadai, apabila kedekatan anak-orangtua bukan karena kedekatan emosional melainkan karena  iming-iming. Misalnya, ada anak dekat dengan ayahnya karena sering dimanja , sering dibelikan ini-itu, atau sering dikasih uang jajan. Ini kedekatan yang tidak bisa ditoleransi karena tidak sehat. Kedekatan iming-iming bisa membuat anak menjadi konsumtif, egois tidak mau tahu kesulitan orangtua, dan suka memaksa.

Lalu bagaimana kalau kedekatan secara emosional hanya terjadi pada salah satu orangtua? Sebetulnya tidak terlalu bermasalah. Setidaknya ada salah satu orangtuanya yang lebih dekat . Yang berbahaya apabila jika anak tidak dekat pada ayah-bundanya. Sedangkan yang baik, tentu kalau kedekatannya seimbang. Sebagai contoh misalnya, biasanya kalau untuk bermain atau beraktivitas diluar rumah, anak lebih memilih dengan ayah tetapi kalau ingin tidur dan belajar mereka lebih nyaman bersama bunda. Ini dikatakan seimbang dan baik.

Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat bagi Ayah dan Bunda. Insya Allah. Aamiin…

Referensi

Edy.  2012. Ayah Edy Menjawab. Noura Books : Jakarta.