(21/11/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Cinta Berjalan di Hadapan Kita

Dengan mengenakan gaun kelembutan

Tetapi sebagian kita lari darinya dalam ketakutan,

atau bersembunyi dalam kegelapan

Dan sebagian yang lain mengikutinya

Untuk melakukan kejahatan atas nama cinta- Kahlil Gibran

Amor Vincit Omnia.. Cinta menaklukkan segalanya. Kalimat ini banyak sekali merasuk ke dalam literatur dan karya sastra dunia muslim. Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam Raudhutul Muhibbinnya juga menorehkan kalimat yang banyak dikutip,” Andaikata orang yang jatuh cinta itu boleh memilih. Ia pasti akan memilih selamanya tak jatuh cinta.”

Pernahkah sahabat as shiddiq aqiqah mendengarkan kisah cinta romeo dan juliet? semua pasti tahu endingnya bukan? yang mana keduanya sama – sama menenggak racun. Mati bersama, demi sebuah alasan yang bernama cinta.

Apakah jalan cinta se ektrim itu?

Dalam cinta,”Kita lemah karena posisi jiwa kita salah.” Tulis Anis Matta di serial cintanya. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Dan mungkin juga bukan karena cinta itu sendiri. Tetapi karena kesalahan kita yang menterjemahkan cinta itu sebagai kebersamaan. Maka ketika terjadi penolakan atau tak beroleh kesempatan cinta itu berubah menjadi sumber kesengsaraan.

Romeo-Juliet telah menterjemahkan cinta mereka bahwa cinta sebagai keharusan hidup bersama. Bagi mereka kehidupan bersama adalah harga mati. Maka saat kekasih mati ia pun tak ragu menenggak racun itu. Jika hidup bersama tidak memungkinkan maka mati bersama cukup.Mereka menderita bukan karena mencintai. Dan mungkin juga bukan karena cinta itu sendiri. Tetapi karena kesalahan mereka yang gagal paham dalam menterjemahkan arti cinta yang sesungguhnya.

Gangguan jiwa ala Romeo-Juliet ini darimanakah datangnya? “Menurut pandangan psikologis”, Ustadz Mohammad Fauzil Adhim dalam karyanya yang berjudul Disebabkan oleh Cinta, “Gangguan jiwa tidak datang secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari proses hidup yang panjang.” apa yang kita lihat sebagai penyebab hanyalah merupakan peristiwa yang pemicu. Jadi tidak ada sebenarnya orang yang gila karena putus. Yang ada memang pada dasarnya jiwa orang tersebutlah yang rapuh. Jiwa yang sudah lama retaknya tersebut, lalu goyah dan hancur karena peristiwa yang menyentak tersebut. Pada Romeo-Juliet itulah jiwa yang lemah itu takluk kepada cinta.

Jiwa yang takluk oleh cinta ini awalnya karena menjadikan cinta sebagai asas bagi semua tindakan. Setelah melewati batas tertentu ia akan menjadi penyembah cinta. Dalam film kiamat sudah dekat, Dedy Mizwar dengan kalimat cerdik ‘bersabda’ pada para pendewa cinta, “Cinta itu kan berhala yang lu sembah-sembah !”

BAHAYA MENJADIKAN ALLAH “NOMOR DUA”

Bahkan Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,

Barangsiapa takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu takut kepadanya. Barangsiapa tidak takut kepada Allah, maka Allah menjadikannya takut kepada segala sesuatu. (HR. Al-Baihaqi)

Sekarang kita dihadapkan pada sebuah fenomena dimana banyak pasangan yang menjadikan orang yang dicintanya tersebut seperti “Tuhan”. Menjalani segala apa yang diperintahnya dan menjauhi segala apa yang dilarangnya.  Ia meletakkan kebahagiaan dan kesedihannya tersebut bukan kepada Allah tetapi pada orang yang dicintanya tersebut.  Oleh karena itu, dari hadits diatas  Rasulullah memerintahkan kita menempatkan Allah terlebih dahulu dalam segala urusan, terutama masalah cinta. Mengapa? alasannya rasional sebab jika kita mencinta sesuatu selain Allah dan sesuatu itu pergi otomatis hal itu akan berpengaruh pada kestabilan jiwa kita. Tetapi apabila kita mampu menempatkan Allah pada posisi puncak. Segala sesuatu apapun yang pergi meninggalkan kita tak ayalnya hanyalah seperti angin lalu. Jiwa kita Insya Allah akan tegar menghadapi.

Bukti kita telah menempatkan Allah pada posisi puncak salah satunya ketika kita siap untuk mengikuti “aturan main” yang Allah telah berikan kepada kita. Seperti Tidak mencintai seseorang secara berlebihan, tidak menghalalkan segala secara dalam memperoleh. Cinta itu haruslah tersalurkan sesuai dengan koridor syariat. Mengapa? Sebab, sebaik-baik cinta adalah cinta yang mampu membawa keberkahan bagi diri kita maupun oranglain.

Cinta itu  adalah sebuah fitrah namun ia dapat berubah menjadi fitnah (cobaan). Dijalan cinta para pejuang ini, cinta tak boleh menalukkan kita, karena kitalah yang akan menalukkan cinta.

Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat.. aamiin.. Insya Allah

Referensi

Fillah, Salim A. 2008. “Jalan Cinta Para Pejuang”. Pro U Media : Yogyakarta.

https://khazanahalquran com/seri-anbiya-siapa-yang-takut-kepada-allah-segala-sesuatu-akan-takut-padanya.html