16/7/18 (Muhammad Tri Ardiyanto)

Assalammualaikum, sahabat As Shidiq Aqiqah. Tidak satupun dari kita mengetahui apakah suatu kejadian  yang menimpa orang merupakan  musibah , cobaan, ataupun  hukuman. Seharusnya kita ikut prihatin saja saat ada yang tertimpa ‘musibah’ sebesar apapun, tidak bergembira atau seperti mengejek kejadian di sekitar kita, apalagi menyebutkan kejadian itu sebagai hukuman bagi si penderita. Kita bukanlah hakim yang membawa palu kemana-mana  yang tugasnya memvonis seseorang akibat perbuatannya. Siapa memang diri kita ini? Sesungguhnya yang bisa menilai dan memvonis hanya Allah Ta’ala. Saat seseroang ditimpa musibah alangkah lebih bijak jika justru menjadi pribadi yang peka. Karena kejadian itu, entah itu cobaan maupun musibah tadi, mungkin saja sudah menguras airmata, tenaga, dan mungkin materi yang banyak bagi si penderita.

Bukan tidak mungkin lho,  kejadian yang sama akan menimpa kita, anak kita, cucu kita. Perjalanan masih panjang sekali.  Peti mati belum ditutup, Tanah kubur belum  tergali, roda kehidupan berjalan terus. Selama itu pula kejadian apapun masih bisa terjadi atas siapapun diantara kita. Jadi, jangan pernah jumawa jangan seolah-olah kita akan selamat seterusnya, tidak mengalami penderitaan sampai di penghujung hidup.

Lalu apa yang harus kita lakukan saat seseorang tertimpa musibah? Ada doa dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam saat kita melihat kejadian yang menimpa orang disekitar  kita. Agar musibah tersebut tidak menimpa kita. Misalkan ada seseorang tertimpak sakit stroke. Tentu kita tidak ingin musibah yang sama menimpak kita bukan?

Nah, berikut ini adalah doa penolak bala yang Rasul ajarkan pada kita:

“Alhamdulillahilladzi ‘Afani mimmabtalaka bihi wafadholani ‘ala katsirin mimman kholaqo tafdhilan”.

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah meng-afiyah-kan  aku dari musibah yang menimpamu, yang juga telah memuliakan aku di antara kebanyakan makluk-Nya yang lain (HR At Tirmidzi)

Barang siapa yang membaca doa ini, dijamin tidak akan tertimpa musibah yang sama seperti yang dia saksikan.

Cobalah perhatikan saatnya ujian kenaikan kelas/kelulusan sekolah berlangsung. Semua hening, semua sibuk,  masing-masing berfikir atau menghitung, mencari jawaban untuk diisi pada lembar jawaban. Sehingga masing-masing sibuk sendiri dan  tak sempat pula mengganggu satu sama lain.

Tapi, dalam menyikapi  ujian hidup  pada kehidupan nyata sehari-hari, uniknya tidaklah sama seperti ini masing-masing tidak sibuk sendiri. Masih ada saja yang malah sibuk berkomentar seenaknya atas ujian tetangganya, ujian temannya., ujian saudaranya. Ia lupa  kalau mungkin saja akan datang ujian yang sama atau yang berformat beda, tapi muatan atau beratnya sama. Bisa saja nanti semua hanyalah masalah giliran.  Hanya tinggal menunggu predikat kelulusannya nanti.

Nah agar tidak demikian amalkan doa yang diatas ya sahabat.. agar kita selamat dari bala – bala kehidupan yang kita tidak pernah tahu kapan datangnya.

Semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat ya sahabat As Shidiq Aqiqah.. Insya Allah. Aamiin…