(4/10/18) Muhammad Tri Ardiyanto

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Ayah-Bunda sahabat As Shidiq Aqiqah.

Saat ini bangsa Indonesia sedang dalam keadaan berduka. Musibah tak kunjung-kunjung usai melanda.  Setelah gempa yang terjadi di lombok kini gempa kembali menimpa saudara-saudara kita di kawasan Sulawesi. Sebagai umat muslim,  Ketika Allah menimpakan bencana terhadap kita, pastilah Allah memiliki maksud dan tujuan. Masalahnya sudahkah kita mengetahui maksud dan tujuanNya tersebut? Karena tiada segala ketetapan Allah yang terjadi untuk main-main. Allah Ta’ala berfirman :

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Surat Al Hadid ayat 22)

“….dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” ( Surat Al An’am ayat 59)

Dalam surat Al Hadid ayat 22 Allah Ta’ala menegaskan bahwa segala peristiwa terjadi tidaklah lepas dari kehendakNya. Semua terjadi karena ketetapan Allah. Kemudian Di Surat Al An’am ayat 59 Allah Ta’ala menerangkan “..dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula“. Darisini kita dapat lihat bahwa perkara “daun yang gugur” yang seringkali dianggap sepele oleh banyak manusia, Allah tegaskan bahwa hal tersebut  tidaklah lepas dari kehendakNya. Jika perkara yang terlihat sepele pun tak lepas dari kehendak Allah, apalagi perkara yang lebih besar kejadiannya?

Oleh karena itu, Terkait bencana yang menimpa, adapun amalan-amalan yang dapat kita lakukan sebagai berikut :

1. Taubat kepada Allah

Sebagian dari kita mungkin akan ada yang sulit medengar, menerima dan memahami. Bagaimana mengaitkan antara sebuah bencana dengan tindakan taubat?Bukankah gempa bumi merupakan bencana alam? Ya, betul gempa bumi adalah sebuah fenomena alam tapi Imam Al Ghazali Al Hujjatul Islam, mengingatkan pada kita jangan sampai kita melupakan yang menciptakan penyebab . Karena konsekuensi dari kita menganggap bahwa gempa hanyalah sebuah bencana belaka, berarti kita secara sadar atau tak sadar telah beranggapan  bahwa batu, air dan tanah memiliki kehendaknya sendiri. Dan pangkal dan ujung kesimpulan logika ini adalah kita menafikkan keberadaan Allah sebagai Dzat yang berkehendak atas sebuah penyebab. Oleh karena itu, Untuk memperkuat kaitan antara maksiat dengan bencana, berikut adalah dalilnya t :

Dari Muhammad bin Abdul Mulk bin Marwan ia berkata,

“Sesungguhnya bumi mengalami gempa di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau meletakkan tangannya di atas tanah dan bersabda, ‘Tenanglah, sesungguhnya tidak datang kepadamu setelah ini’, kemudian beliau menoleh ke arah para sahabatnya dan bersabda, ‘Sesungguhnya Rabb kalian masih memberi kesempatan untuk bertobat, maka mintalah ampun kepada-Nya!’.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam kitab Al-‘Uqubat No. 18. )

Dari sini dapat dilihat bahwa Rasulullah menegaskan ada kaitannya antara pertaubatan  pada Allah Ta’ala dengan berhentinya bencana.  Sebagai seorang muslim ini adalah ujian bagi kita untuk mengimani Qodho dan Qadar Allah. Dan menyegerakan diri untuk bertaubat ketika terjadi bencana merupakan salah bukti nyata ketundukkan hati kita dan anggota tubuh kita kepada Qodho dan Qadar Allah.

2. Banyak berdzikir, do’a, dan istighfar kepada Allah

Imam Syafi’i mengatakan, “Obat yang paling mujarab untuk mengobati bencana adalah memperbanyak tasbih”. Imam as-Suyuthi berkomentar, “Hal itu karena dzikir dapat mengangkat bencana dan adzab, sebagaimana firman Allah:

Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit” (QS. ash-Shoffat [37]: 143–144).

Renungkanlah juga  firman Allah yang berbunyi :

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun” (QS. al-Anfal [8]: 33).

Ayat mulia ini menunjukkan bahwa ada dua hal yang dapat melindungi manusia dari adzab. Pertama, adanya Nabi Muhammad di tengah-tengah manusia dan ini bersifat sementara. Kedua, istighfar dan meninggalkan segala dosa dan ini bersifat seterusnya sekalipun Nabi telah meninggal dunia.

3. Membantu para korban bencana

Saudaraku, bila kita sekarang dalam kenikmatan dan kesenangan, kita bisa makan, minum, dan memiliki rumah, maka ingatlah saudara-saudaramu yang terkena bencana. Saat ini mereka sedang kesusahan dan kesulitan. Maka ulurkanlah tanganmu untuk membantu mereka semampu mungkin. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Barang siapa yang membantu menghilangkan kesusahan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan menghilangkan kesusahan darinya besok di hari kiamat” (HR. Muslim no. 2699).

Terlebih lagi orang kaya, pengusaha, pemerintah, dan bangsawan, hendaknya mereka mengeluarkan hartanya untuk membantu para korban. Dahulu, tatkala terjadi gempa pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau menulis surat kepada para gubernurnya untuk bersedekah dan memerintah rakyat untuk bersedekah.

Dan hendaknya para relawan saling membantu dan saling melengkapi antar sesama sehingga terwujudlah apa yang menjadi tujuan mereka, jangan sampai ada terjadi pertengkaran atau perasaan bahwa dia adalah orang yang paling pantas dibanding lainnya.

4.  Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya jika manusia melihat seseorang melakukan kezhaliman, kemudian mereka tidak mencegah orang itu, maka Allah akan meratakan azab kepada mereka semua. ” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani)

Sebagaimana tadi kita sebutkan bahwa termasuk faktor terjadinya gempa adalah dosa umat manusia maka hendaknya hal itu dihilangkan, salah satu caranya dengan menegakkan dakwah, saling menasihati, dan amar ma’ruf nahi munkar sehingga mengecillah kemungkaran.

Mengapa Amar Ma’ruf Nahi Munkar begitu penting? Ya, karena Amar Ma’ruf Nahi Munkar merupakan bentuk penegasan dalam menentukan standar (rule of thinking)  kebaikan dan keburukan. Jika Amar Ma’ruf Nahi Munkar lenyap di muka bumi maka manusia akan diliputi kebingungan dalam menilai standar sebuah kebaikan dan keburukan.  Kalau sudah demikian tunggulah zaman dimana akan hadir sekelompok orang yang menjadikan akal pikiran dan nafsu pribadinya sebagai agama dan Tuhannya dalam menilai standar kebaikan dan keburukan.

Allah Ta’ala berfirman :

”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al Maidah ayat 50)

Adapun bila kita acuh tak acuh dan mendiamkan kemungkaran maka tak ayal lagi bencana tersebut akan kembali menimpa kita.

5. Doa Perubah Musibah Menjadi Nikmat

Ummu Salamah -salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,.

Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.

Ketika, Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut do’a sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Do’a yang disebutkan dalam hadits ini semestinya diucapkan oleh seorang muslim ketika ia ditimpa musibah dan sudah seharusnya ia pahami. Insya Allah, dengan ini ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik.

 

Sebagai penutup, penulis mengutip sebuah tulisan yang pernah ditulis oleh Imam Ibnu Al Jauzi, dalam Shaidul Khathir

“Tidaklah suatu kesalahan atau bencana menimpa seseorang melainkan ada suatu dosa yang diperbuat. Namun, perbuatan itu sudah tak nampak lagi yang tampak tinggalah balasan dari dosa tersebut saja”

Semoga Allah memberi kita keselamatan dan kesabaran pada diri kita . Aamiin…